Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS STRUKTURAL JARANAN SENTEREWE TURANGGA WIJAYA DI DUSUN SOROGENEN, KECAMATAN KALASAN, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA Uli Rizky Nareswari
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.748

Abstract

Struktur memandang suatu tari dari sisi bentuk atau teks. Berbicara tentang struktur selalu berhubungan dengan tata hubungan yang ada dalam sajian pertunjukan, diawali dari motif yang terbentuk sampai pada tataran gugus kalimat gerak dan bentuk tari secara utuh. Selain itu dari segi konteks dipengaruhi oleh struktur sosial masyarakat pendukung yang berkaitan dengan nilai-nilai dan gejala sosial budaya. Oleh sebab itu, dalam mendeskripsikan tari Jaranan Senterewe Turangga Wijaya harus dapat memilah unsur-unsur yang ada beserta penghubungnya agar menghasilkan struktur yang bermakna dan dapat ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan kesenian ini.Bentuk gerak dalam tari Jaranan Senterewe Turangga Wijaya ini tegas, kuat, dan dinamis yang menggambarkan karakter pasukan berkuda. Kesenian ini memiliki beberapa bagian yang terstruktur diawali dengan bagian Introduksi, bagian Awal Tari yakni Sembahan dan Bumi Langit, bagian Tengah Tari yakni Jogedan, Dangdutan, dan Jogedan kedua, bagian Akhir Tari yakni Perangan, dan perang dengan barongan. Secara tekstual, kesenian ini ditinjau dari tata hubungan hirarki gramatikal yaitu hubungan dimana satuan tataran gramatikal yang dimulai dari tingkat motif, frase gerak, kalimat gerak, dan gugus kalimat gerak yang dihubungkan dalam hubungan sintagmatis. Dalam gugus kalimat gerak, bentuk tari ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Gangsaran, Lancaran, dan Ponoragan. Secara keseluruhan terdapat tiga hubungan sintagmatis, yaitu berupa penjajaran gerak, sebuah gerak yang saling mengkait, dan terdapat penghubung dari sebuah motif untuk menghubungkan ke dalam motif selanjutnya.Jaranan Senterewe Turangga Wijaya di Dusun Sorogenen menggambarkan keadaan sosial masyarakat yang merupakan wilayah di pinggir kota, yaitu antara kabupaten Sleman dan kabupaten Klaten. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan kesenian ini, yaitu: 1) Segi masyarakat pendukung yang dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan, kekerabatan, religi, dan mata pencaharian; 2) Segi bentuk pertunjukan yang dipengaruhi oleh perubahan yang bertahap, akibat adaptasi yang selektif, dan upaya penghidupan kembali pada bentuk-bentuk lama; dan 3) Segi pencipta seni yang dipengaruhi hubungan sosial kemasyarakatan. Oleh karena faktor-faktor tersebut, maka kesenian Jaranan Senterewe Turangga Wijaya ini masih dapat hidup dan diakui sebagai kesenian tradisi milik masyarakat Dusun Sorogenen.Kata kunci : Struktur, Turangga Wijaya, Senterewe
Tari Pujoretno Sebagai Simbolisme Pemujaan: Analisis Nilai Religius Dalam Tradisi Budaya Jawa Wigaringtyas, Silih; Nugraheni, Wiga; Rizky Nareswari, Uli; Luh Enita Maharani, Ni
SENDRATASIK UNP Vol 13, No 4 (2024): (in progress)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/js.v13i4.131954

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Tari Pujoretno sebagai simbolisme pemujaan yang mencerminkan nilai religius dan tradisi budaya Jawa. Tari Pujoretno, sebagai salah satu tari klasik putri gaya Yogyakarta, memiliki kedalaman makna yang terkait dengan pemujaan kepada Tuhan, sebagai ungkapan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta penghormatan kepada Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan analisis semiotika untuk menggali makna simbolik dalam tari dan bagaimana masyarakat Jawa menghayati serta mempraktikkannya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan ketua Paguyuban Seni Suryo Kencono, serta kajian dokumentasi dan pustaka terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pujoretno tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi memiliki simbolisme pemujaan yang mewakili hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dan alam, serta menyatukan elemen tradisi budaya jawa. Bentuk penyajian dalam Tari Pujoretno, yang meliputi gerak tari, iringan, riasan, busana, tema, dan properti, berperan penting dalam merepresentasikan nilai religius dan keseimbangan spiritual dalam tradisi budaya Jawa. This research aims to analyze the Pujoretno Dance as a symbolism of worship that reflects religious values and Javanese cultural traditions. Pujoretno dance, as one of the woman classical Yogyakarta dances, has a deep meaning related to the worship of God, as an expression of gratitude, a request for salvation, and respect for God. This research uses a qualitative-interpretive approach with semiotic analysis to explore the symbolic meaning of dance and how Javanese people appreciate and practice it. Data was collected through observation, interview with the chairman of the Suryo Kencono Arts Association, as well as reviewing documentation and related literature. The results of the research show that the Pujoretno Dance not only functioning as entertainment, but has a cult symbolism that represents man's relationship with God, humans and nature, and unites elements of Javanese cultural tradition. The form of presentation in Pujoretno Dance, which includes dance movements, accompaniment, make-up, clothing, themes and props, plays an important role in representing religious values and spiritual balance in Javanese cultural traditions.