This Author published in this journals
All Journal Kandai
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI,PEMETAAN, DAN PELINDUNGAN SASTRA LOKAL SULAWESI TENGGARA NFN Asrif
Kandai Vol 10, No 1 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.501 KB) | DOI: 10.26499/jk.v10i1.317

Abstract

Sebagai bangsa yang multietnik, Indonesia memiliki aneka ragam sastra lokal (tradisi) yang ada di tiap daerah. Akan tetapi, kebanyakan sastra lokal itu hanya terserak di tangan para seniman berusia uzur. Di Sulawesi Tenggara, etnik Tolaki memiliki sastra lokal seperti huhu (lagu menidurkan anak), o anggo (lagu rasa kagum terhadap pemimpin), taenango (lagu kisah kepahlawanan), sua-sua (lagu rasa ingin berkenalan), kabia (lagu percintaan), tebaununggu (lagu berisikan sastra sejarah) dan isara (lagu tentang perang dewa-dewa), masyarakat Muna mengenal kantola (nyanyian berbalas) dan gambusi, masyarakat Buton mengenal tradisi male-male (nyanyian kematian), nyanyian tradisional kabanti, puisi kabija, dan tradisi membaca naskah-naskah kabanti pada acara adat/agama. Dari sekian banyak sastra lokal, baik lisan ataupun tertulis, hanya beberapa saja yang masih aktif dijadikan sebagai media ekspresi dan komunikasi masyarakatnya. Sebagian besar sastra tradisi itu telah terancam punah, dan beberapa di antaranya telah punah. Oleh karena itu, perlu secepatnya melakukan tindakan awal untuk melindungi melalui usaha pemetaan, pengidentifikasian, dan pendokumentasian sastra lokal di Sulawesi Tenggara. Kepunahan produk budaya menandakan negara gagal melindungi kebudayaannya sendiri.
PENGARUH MITOS IMBU TERHADAP PELINDUNGAN ALAM LAUT KEPULAUAN WAKATOBI NFN Asrif
Kandai Vol 11, No 1 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.726 KB) | DOI: 10.26499/jk.v11i1.218

Abstract

Kemodernan masyarakat masa kini tidak serta-merta meniadakan kepercayaan terhadap mitos yang melingkupi dan mengontrol kehidupan mereka. Perubahan cara pandang masyarakat menempatkan mitos sebagai tradisi kelisanan yang tidak akurat, dongeng semata, dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Namun faktanya, beragam mitos tetap ditradisikan untuk tujuan-tujuan tertentu di luar teks formal mitos itu sendiri. Penelitian ini menetapkan dua masalah pokok, yakni 1) bagaimana wacana mitos Imbu dalam masyarakat maritim Wakatobi? dan 2) bagaimana pengaruh mitos Imbu terhadap pelindungan alam laut Wakatobi. Penelitian menemukan masyarakat maritim di Wakatobi memegang teguh mitos Imbu—gurita raksasa berlengan sembilan—yang dianggap sebagai makhluk raksasa yang mampu merusak dan menenggelamkan kapal. Ingatan masyarakat akan sanksi Imbu bagi para perusak alam laut mampu menciptakan relasi keseimbangan yang positif antara manusia dan alam laut. Alam laut tidak dipandang sebagai ladang sumber daya ekonomi yang dapat diperlakukan semena-mena, tetapi sebagai alam yang perlu dijaga dan dihormati. Oleh karena itu, mitos Imbu perlu terus diwacanakan karena mampu mengontrol niat dan tindakan masyarakat yang pada akhirnya melindungi alam laut.