Kegagalana mahasiswa dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan terlihat mencolok dalam ajang ospek (orietasi studi dan pengenalan kampus). Kekerasan, bullying, dan upaya balas dendam senior pada junior berkedok manajemen konflik menjadi bentuk nyata rasionalitas tradisional mahasiswa. Manajemen konflik dalam ospek menyimpang dari jalur yang semestinya. Pendisiplinan yang bersifat otoriter dan marah-marah menjadi ciri khas peradaban nalar mahasiswa yang tumpul dan hanya berorientasi pada tradisi. Maka dari itu, riset ini bertujuan untuk membongkar tindakan rasional mahasiswa dalam meneruskan tradisi kekerasan (verbal maupun nonverbal) dalam bingkai manajemen konflik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan pendekatan yang berporos pada kasus intrinsik, teratur, dan kekhususan kontekstual. Kasus yang dipilih ialah pada kegiatan Pra-TD (Pra-Tingkat Dasar) yang diselenggaran oleh himpunan mahasiswa sosiologi (HMP) Universitas Negeri Surabaya Tahun 2019. Perspektif teori rasionalitas Max Weber menjadi pisau analisis utama dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen konflik dalam ruang lingkup mahasiswa mewarisi tradisi penindasan. Interaksi diskursif menjadi jurus andalan senior dalam mendramatisasi masalah pada mahasiswa junior. HMP Sosiologi sebagai penggerak dengan basis ilmu sosiologis yang radikal dan bermental perjuangan ikut andil dalam melanggengkan penindasan dalam bingkai manajemen konflik di kampus. Padahal, konsep sosiologis seperti pendidikan hadap masalah dan ruang publik mampu menghadirkan kesadaran kritis dengan pendekatan yang lebih humanis. Sehingga, manajemen konflik dapat memicu hadirnya agen perubahan yang rasional dan otentik.