Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DISTRIBUSI PENDERITA DEMAM TIFOID MENURUT UMUR DAN GEJALA ( Studi Kasus di RSI.Roemani ) - Rohman
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.431 KB)

Abstract

Pendahuluan : Demam tifoid tergolong penyakit endemic di Indonesia dan dapat sepanjang tahun.Gejala-gejala pada penyakit ini amat bervariasi tergantung pada tingkat stadiumnya. Penyakit initermasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 6 tahun 1962 tentang wabah.Di Indonesia insiden penyakit menunjukkan angka yang terus meningkat, sementara data dari RumahSakit dan pusat kesehatan juga meningkat. Di Rumah Sakit Semarang khususnya di RSI. Roemani jumlahpenderita demam tifoid dari tahun ketahun juga meningkat. Dan penelitian ini bertujuan untukmengetahui distribusi penderita demam tifoid menurut umur dan gejala. Metode penelitian : penelitianini menggunakan metode diskriptif analitik. Instrument penelitian yang dipakai adalah catatan medispenderita demam tifoid yang menjalani rawat inap di RSI. Roemani Semarang selama periode 1 Januari2000 – 31 Desember 2000. Hasil penelitian : demam tifoid dalam kelompok umur 15-24 tahun ( 28 % ),kelompok umur 5-14 tahun ( 27 % ), kelompok umur 24-34 tahun ( 13 % ), sedangkan demam tifoid yangterendah adalah kelompok umur 55-64 tahun ( 1 % ). Kesimpulan : demam tifoid di RSI. RoemaniSemarang periode 1 Januari – 31 Desember 2000 banyak didapatkan pada umur 5-24 tahun. Lama terjadiantara 1-14 hari. Gejala pada saluran pencernaan yaitu mual / muntah, dimana frekuensinya sebesar 70%,nyeri perut sebesar 22%, sedangkan untuk test widal frekuensi terjadi pada titer 1: 320 dengan jumlah52%.
ANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN OPLET SEBAGAI MODA TRANSPORTASI UMUM DI KOTA PONTIANAK Rohman, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 2 EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.782 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v16i2.25804

Abstract

Secara ideal transportasi pada suatu wilayah dilayani oleh sistem transportasi umum yang dibangun secara efisien dan dapat melayani kebutuhan dan aktivitas penduduknya. Seperti kecendrungan yang sedang terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia, saat ini kondisi transportasi umum di Kota Pontianak yang masih didominasi penggunaan oplet sedang mengalami penurunan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas pelayanannya. Sebagai akibatnya pola pergerakan masyarakat dibentuk dari penggunaan kendaraan pribadi.Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berubah dan kecendrungan penggunaan kendaraan pribadi yang tinggi menimbulkan pertanyaan tentang nasib moda transportasi umum di Kota Pontianak apakah masih layak untuk terus dioperasionalkan dan kemungkinan pengembangannya sebagai moda transportasi umum. Dengan mengambil jurusan Kapuas Indah-Nipah Kuning yang saat ini masih secara rutin beroperasi sebagai objek kajian, dilakukan penilaian kinerja pelayanan oplet sebagai angkutan umum. Kinerja pelayanan diukur berdasarkan standar dari Kementerian Perhubungan dan Bank Dunia.Hasil analisis menunjukkan bahwa kinerja pelayanan oplet sebagai angkutan umum sebagian besar tidak memenuhi syarat dan secara ekonomis tidak layak dioperasionalkan karena hasil yang diperoleh tidak dapat menutupi biaya operasional kendaraan. Untuk mengembangkan oplet sebagai moda transportasi umum perlu dilakukan intervensi pemerintah, terutama Pemerintah Kota Pontianak untuk dapat membantu pengembangan transportasi umum di Kota Pontianak.  Kata Kunci: transportasi umum, kinerja pelayanan, biaya operasional kendaraan, intervensi pemerintah.