Ahmad Nabil Amir
International Institute of Islamic Thought and Civilization, Malaysia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

An Analysis of Ibnu Khaldun's Thoughts About Islamic Rationalism Ahmad Nabil Amir
Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya Vol 5 No 1 (2022): Islamic Sociology and Culture
Publisher : LPPM Institut Pesantren KH. Abdul Chalim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/almada.v5i1.1663

Abstract

This paper briefly discusses Ibn Khaldun’s philosophical and rational construction of Islam and its metaphysical discursus as set forth in his classical works such as Kitab al-‘Ibar, Al-Ta‘rif, Tahrir al-Ahkam, and al-Muqaddimah. This work expressed his highly rational outlook that developed a critical and rational understanding of religious and moral premises. It also summarized its dynamic ground that contributes to expound instructive discussion of related ideas and themes. The study is based on library research using content analysis and analyzed through analytical and descriptive approaches. The finding concludes that Ibn Khaldun has brought forth a rational interpretation of history based on the unique philosophical and socio-cultural analysis he introduced in his al-Muqaddimah. This characteristic approach of the rational ideal has significantly impacted Islam’s modern history and tradition. His rational and argumentative principle has largely influenced the works of contemporary Muslim thinkers such as Malik Bennabi, Rashid Ghannoushi, and Muhammad Asad.
Hamka and the Rise of Kaum Muda (the Modernist) in Indonesia Ahmad Nabil Amir; Tasnim Abdul Rahman
Jurnal Muhammadiyah Studies Vol. 9 No. 1 (2024): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jms.v9i1.35642

Abstract

The paper aims to study the historical background of the Islamic reform movement in West Sumatra with particular reference to the idea of Haji Abdul Malik Karim Amrullah or his pseudonym Hamka (1908-1981). His religious ideal was instrumental in driving the new consciousness and unprecedented religious struggle that erupted in the late 20th century in the Malay Archipelago, which reflected the force of modern ideas of Shaykh Muhammad Abduh (1849-1905) that had brought decisive and greatest influence in the region. The reform movement he inaugurated was carried out by Kaum Muda (the young faction) in the Malay Archipelago, who disseminated his dynamics ideas and aspirations through journals and newspapers such as Al-Imam, Al-Munir, and Saudara. One of the leading figures and pioneers in the struggle of Kaum Muda was Haji Rasul dan Kiyai Ahmad Dahlan, whose legacy was continued by Hamka, who was hailed as the foremost advocate of Abduh’s reformist ideas through his influential writing and activity. To highlight this significant work and idealism, this research presents and analyzes Hamka’s struggle to lead this unprecedented religious movement for reform (islah) and renewal (tajdid) in the Malay world. This research aims to develop his legacy and monumental contribution to the history and tradition of reform in the Malay world.
Muhammad Abduh dan Sains: Suatu Tinjauan Filosofis-Teoretis Ahmad Nabil Amir; Tasnim Abdul Rahman
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i1.19705

Abstract

Penelitian ini meneliti pemikiran sains Shaykh Muhammad Abduh (1849-1905) dan pengaruhnya di dunia Islam. Perspektif saintifiknya ini dhuraikan secara sistematik dengan menganalisis karya-karyanya yang yang prolifik dan ekstensif tentang sains, seperti Al-Islām wa’l-Nasrāniyyah Ma‘a al-‘Ilm wa’l-Madaniyyah (Islam dan Kristian dan pendirian keduanya terhadap ilmu dan peradaban), Tafsīr al-Manār, Tafsīr Juz ‘Amma (Komentar atas Juz ‘Amma), Risālat al-Tawhīd (Tretis tentang tawhid) di samping kitab-kitab serta literatur penting yang lain dari Abduh. Tema utama yang dibincangkan menfokuskan pada falsafah sains Abduh, sumbangan Abduh kepada kemodenan, dan pandangan saintifiknya dalam tafsir. Ia turut membincangkan pengaruhnya terhadap masyarakat Mesir moden dan impaknya yang penting dalam pencerahan dan pembaharuan Islam di zaman moden. Metode kajian bersifat kualitatif berasaskan kaedah tinjauan literatur dan biografi. Penelitian ini menyimpulkan penemuan yang signifikan, yang memperlihatkan bahawa sumbangan utama Abduh kepada sains adalah dalam mengislamkan karakter dan landasnya yang dinamik berdasarkan pandangan sarwa Islam yang moden. Ini secara substantif dipaparkan dalam usahanya untuk memperkenalkan tafsiran saintifik terhadap al-Qur’an, yang mengangkat keunggulan akal dan intelek (‘aql), membawakan kefahaman rasionalnya terhadap teks, dan menyumbang kepada kebangkitan pikiran saintifik, kebebasan idea (taharrur), dan pandangan sarwa religius yang dinamik.
Garis Besar Ideal Demokrasi dalam Islam Ahmad Nabil Amir; Tasnim Abdul Rahman
Jurnal Kajian Konstitusi Vol. 5 No. 1 (2025): JURNAL KAJIAN KONSTITUSI
Publisher : Department of Constitutional Law, Faculty of Law, University of Jember, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/j.kk.v5i1.53696

Abstract

Artikel ini menyoroti tanggapan intelektual para pemikir Islam kontemporer terhadap paham demokrasi dan syura. Artikel ini menelusuri beberapa karya dan tulisan terpilih yang mengungkap latar belakang filosofis dan perkembangan demokrasi di negara-negara muslim dan hubungannya dengan aspirasi politik Islam serta doktrin-doktrin dan tradisi-tradisi historisnya yang fundamental. Perdebatan intelektual yang muncul mengenai bentuk dan praktik demokrasi serta keselarasannya dengan prinsip-prinsip Islam telah banyak diungkapkan oleh para aktivis dan pemikir demokrasi seperti Rachid Ghannouchi, Ahmad Raysuni, Nurcholish Madjid, dan lain-lain. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan analitis. Temuan penelitian menunjukkan kekuatan gagasan yang dirumuskan tentang prinsip-prinsip dan cita-cita demokrasi serta manifestasi moralnya yang didukung oleh teks-teks hukum yang sarih dan sejalan dengan dasar dan kebijakan politik Islam (siyasah syar'iyyah) dan cita-cita ummatnya yang universal (pax-Islamica). Struktur ini dibangun oleh nilai-nilai etika praktis dan doktrin-doktrin yang membentuk pondasi ideologis sebagian besar negara Islam. Ini mewujudkan sikap positif terhadap konstruksi dan nilai-nilai ideal yang dibangun dalam konteks negara bangsa, yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang efektif dalam membangun tatanan negara yang adil, berkelanjutan, dan seimbang. Pendekatannya sejalan dengan teori dan prinsip-prinsip musyawarah serta gagasan konstitusional yang ditegakkan untuk melindungi hak-hak dan kepentingan rakyat yang sah serta aspirasi dan suara-suara kolektif. The article highlights intellectual response of contemporary Muslims on the philosophical construct and relational concept of democracy and shura. This was traced from selected writings of its advocates that discussed philosophical and epistemological background and current democratic situation in the Muslim countries and its fundamental relations with Islamic political aspiration and its historical manifestation and scientific backdrop. The intellectual debate pertinent to the idea of democracy and its compatibility with Islamic principles were rigorously developed by Muslim activists and democrats represented by Rachid Ghannouchi, Ahmad Raysuni, Nurcholish Madjid, and etc. The study is based on qualitative approaches using descriptive and analytical technique. The finding shows the dynamic force of ideas formulated on the theoretical framework of democracy reinforced with textual evidence and in line with Islamic political principles (siyasah syariyyah) and its universal ummatic ideal (pax-Islamica). Its underlying structure was built upon universal ethical values that formed the basis of state ideology. It positively embraces its values and ideals projected in the context of nation-state, which uphold sublime vision toward shaping a sustainable, just and liberal order. Its approaches were in line with the principle of shura and constitutional ideas aiming to safeguard fundamental aspiration of the people and their legitimate right and interest and their collective voice.