I Ngurah Suryawan
Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemertahanan Bahasa Ibu tentang Tempat-Tempat Sakral dan Tantangan Perubahan Sosial Budaya Orang Marori dan Kanum di Kabupaten Merauke, Papua I Ngurah Suryawan
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.545

Abstract

Artikel ini memfokuskan pada upaya bersama-sama yang dilakukan penulis dengan generasi muda di dua suku yaitu Marori dan Kanum di Kabupaten Merauke, Papua untuk melakukan dokumentasi bahasa dan nilai-nilai budaya mengenai hubungan mereka dengan lingkungannya. Kondisi perubahan sosial budaya menghimpit mereka dan pondasi pengetahuan lokal dalam pemanfaatan lingkunga menjadi tergoyahkan. Masyarakat lokal memiliki pengetahuan kaya yang menunjukkan relasi panjang dengan lingkungan alam sekitarnya. Dari perspektif masyarakat terdapat pemetaan ruang-ruang hidup yang mencakup wilayah perkampungan, perkebunan, dan leluhur (pamali). Masyarakat juga menamai wilayah-wilayah tersebut dengan bahasa lokal yang biasanya mengacu kepada nama-nama tumbuhan, hewan, atau peristiwa sejarah penting di lokasi tersebut. Bahasa-bahasa tersebut memiliki makna yang luas dan menjadi cermin ekspresi kebudayaan orang Marori dan Kanum. Dokumentasi bahasa dan makna budaya yang menyertainya sangat penting untuk dilakukan sebagai penanda pengetahuan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Usaha tersebut tidak mudah di tengah mulai tercerabutnya akar budaya dan hilangnya pengetahuan bahasa lokal. Penghargaan terhadap lingkungan menjadi terabaikan dan perusakan berlangsung terus-menerus untuk kepentingan uang. This article focuses on exploring the use of mother tongue on sacred places for the Marori and Kanum People in Merauke District, Papua. The mother tongue for sacred places contains the meaning that links people's relationship with their environment. Local people have rich knowledge that shows long relationships with the surrounding natural environment. There are mapping of living spaces covering the village area, plantations, and ancestors (pamali) from their perspective of society. The community also names these areas in their mother tongue, which usually refers to the names of important plants, animals, or historical events at the site. These mother tounge have a wide meaning and mirror the cultural expressions of Marori and Kanum people. The condition of socio-cultural change hinders them and, moreover, the foundation of their local knowledge in the utilization of the environment becomes unsteady. This article explores the meaning behind the mother tongues in the living spaces of Marori and Kanum people. Mother tongue translation becomes very urgen amid socio-cultural changes that cause damage to the environment. The effort is not easy amid the loss process of culture and knowledge of local languages. The efforts to protect the environment have been abandoned and the process of destruction has occurred continuously for the sake of economic interests.
Menancapkan Tiang-Tiang “Kayu Besi”: Adat dan Strategi Para Elit di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat I Ngurah Suryawan
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 20 No. 3 (2018)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v20i3.644

Abstract

Memperkuat adat bisa bermata dua jika hanya terfokus pada romantisasi “ideologi harmoni” tanpa memeriksa relasi produksi dan kelas dalam masyarakat adat kontemporer. Merespon kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh negara dan investasi, gerakan masyarakat adat di Tanah Papua harus mampu merefleksikan diri dalam hubungan dengan perubahan di internal diri mereka merespon perubahan yang diangkut oleh pembangunan dan investasi. Hanya dengan memahami konteks inilah masyarakat adat di Papua akan mampu untuk mengambil langkah-langkah aksi dalam menegakkan martabatnya.