Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peningkatan Ekonomi Pesantren Melalui Budidaya Vanili Dengan Sistem Agrikultur Di Kabupaten Bondowoso Mustaqim Makki
Jurnal Istiqro Vol 6 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/istiqro.v6i1.558

Abstract

Pesantren di Indonesia yang jumlahnya Mencapai ribuan sebenarnya mempunyai potensi yang sangat besar dalam bidang ekonomi. Namun potensi yang dimiliki oleh pesantren belum banyak diperhatikan, baik oleh pemerintah maupun oleh internal pesantren itu sendiri. Pemerintah selama ini kurang optimal melihat potensi ekonomi yang dimiliki oleh pesantren. Karena pesantren dianggap lembaga pendidikan tradisional yang tidak memiliki nilai strategis dalam bidang ekonomi. Sedangkan sebagian besar pesantren menganggap bahwa persoalan ekonomi bukanlah urusan pesantren karena urusan ekonomi merupakan persoalan duniawi, sehingga tidak perlu diperhatikan secara serius. Perspektif para pakar tentang pesantren secara mayoritas mengatakan demikian bahwa pesantren masih bergerak dalam bidang pendidikan tradisional yang masih mempertahankan pembelajaran kitab-kitab klasik.[1] Padahal jika kita melihat potensi dan perkembangan pesantren seperti yang dikemukakan oleh Azzumardi Azra, pesantren sekarang harus diharapkan tidak lagi sekedar memainkan fungsi tradisionalnya[2] yaitu: Tranmissi dan Tranfer ilmu-ilmu agama (Islam), pemeliharaan tradisi Islam, menciptakan Ulama, tetapi juga menjadi pusat penyuluhan kesehatan, pusat pengembangan tekhnologi tepat guna bagi masyarakat pedesaan, pusat usaha-usaha penyelamatan pelestarian dan lingkungan hidup dan lebih penting lagi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat dan sekitarnya. Dengan konsep pemberdayaan ekonomi pesantren ini dan melihat peluang tanaman Vanili (emas hijau), maka pesantren akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan ekonomi pesantren untuk operasional pendidikan.
DEKONSTRUKSI DOKTRIN EKONOMI ISLAM DALAM PERBANKAN SYARIAH Mustaqim Makki
Qawanin: Jurnal of Economic Syaria Law Vol 2 No 2 (2018): Juli
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.513 KB) | DOI: 10.30762/q.v2i2.1040

Abstract

Ekonomi Islam dibangun berdasarkan al-Qur'an dan Sunnah dan tidak ada korelsinya dengan teoriteori ekonomi modern dunia yang konvensional. Jadi, dapat dipahami bahwa tidak ada kompropi dan korelasi antara sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi konvensional karena secara hakikat dan filosofis, keduanya sangat kontradiktif.ekonomi Islam bukanlah sebuah disiplin ilmu, melainkan sebuah mazhab atau doktrin yang direkomendasikan Islam, dengan demikian, ekonomi Islam adalah doktrin karena ia membicarakan semua aturan dasar dalam kehidupan ekonomi yang dihubungkan dengan ideologinya mengenai keadilan (sosial). Semanagatnya bukan profit oriented akan tetapi profit alfalah oriented.
TAFSIR AYAT-AYAT ZAKAT SEBAGAI PENGUAT KONSEP FILANTROPI EKONOMI KEUMMATAN (Tafsir Verses Of Zakat As The Booster Of Public Economic Philanthropy Concept) Mustaqim Makki
Qawanin: Jurnal of Economic Syaria Law Vol 3 No 2 (2019): Juli
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.983 KB) | DOI: 10.30762/q.v3i2.1539

Abstract

Zakat merupakan salah satu sendi pokok ajaran Islam. Urgensi zakat yang merupakan anjuran agama Islam untuk menunaikan zakat dan memberikannya kepada yang berhak dengan ketentuan mencapai nishabnya, (kadar minimum harta tertentu) mempunyai nilai sangat signifikan dalam kehidupan manusia. Seorang insan yang sarat akan segala permasalahan pada fitrahnya menuntut untuk selalu berinteraksi kepada sesama, baik berupa materi maupun non materi. Zakat merupakan maliyah ijtima’iyyah yang mengandung nilainilai filantropi yang sangat tinggi, karena ketika mengaplikasikan kewajiban zakat kita telah membantu sesama serta mengurangi kesenjangan yang disebabkan beberapa sifat manusia diantaranya adalah sifat kikir, dengki dan iri hati. Menguatnya kembali harapan banyak kalangan terhadap implementasi filantropi Islam, baik dalam bentuk zakat, infak, sedekah, dan wakaf, memiliki keterkaitan erat dengan kondisi bangsa yang belum sepenuhnya bangkit dari keterpurukan sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kondisi ini berakibat kesenjangan penguasaan perekonomian antar warga negara menjadi kian lebar. Pada saat itulah, ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf) kembali dilirik dan diharapkan menjadi alternatif solusi terhadap problem kemiskinan umat. Manusia sebagai khalifah fil ardh dalam Al Qurán menekankan muatan fungsional yang harus diemban oleh manusia dalam melaksanakan tugas-tugas kesejarahan dalam kehidupannya di muka bumi. Kaitan dengan konsep tersebut, ada dua fungsi manusia. Pertama: Manusia sebagai hamba (ábid), dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dalam hal ini hubungannya dengan ketuhanan (Teologis). Kedua adalah manusia sebagai khalifah, dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dalam hal ini hubungan terhadap manusia. Zakat is one of the main points of Islamic teachings. The urgency of zakat which is suggested by Islam to fulfill and give it to those who are referred to with the provisions to reach their nishab, (minimum level of certain assets) has a very significant value in human life. A person who is full of all problems in his/her natural demands will always get interaction with other people, either material or non-material. Zakat is maliyah ijtima’iyyah which contains very high philanthropic values, because when applying the obligation of zakat we have helped others and reduced the gaps caused by some human traits including miser, jealousy and envy. The reinforcement of the expectations (estimation) from any levels on the implementation of Islamic philanthropy, which in the form of zakat, donation, alms and endowments, has a close relationship with the condition of the country that has not fully risen from bad economic adversity due to economic crisis. This condition causes a widening of the economic mastery among the citizens. At that moment, ziswaf (zakat, infaq, alms, and waqf) was again given a serious attentition and expected to be an alternative solution to the problem of poverty among citizens. Humans as khalifah fil ardh in the Qur'an emphasize the functional content that must be carried by humans in carrying out historical tasks in their lives on earth. In accordance with this concept, there are two human functions. First Humans as servants (ábid), are required to succeed in establishing a vertical relationship in this case the relationship with God (Theological). Second, humans as caliphs, are required to succeed in establishing horizontal relationships in this case the relationship to humans.