Abdul Hadi
Institut PTIQ Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RELASI GENDER DALAM TAFSIR MUTAWALLÎ AL-SYA’RÂWÎ Abdul Hadi
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 10 No. 2 (2021): Madani Institutte | Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, sosial dan Bud
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53976/jmi.v10i2.247

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Sya’rawiy walaupun bukan tokoh feminis namun penafsirannya secara filosofis sejalan dengan tafsir feminis, yaitu tafsir yang berkeadilan gender. Eksistensi laki-laki dan perempuan secara ontologis adalah sama, yaitu sama-sama dijadikan Tuhan dengan proses yang sama. Sya’rawiy mengkritik mitos penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki karena yang dianggap tidak berkeadilan dan tidak berdasar. Dalam ranah hukum keluarga Islam, Sya’rawiy mengajak untuk masuk pada kesadaran bahwa ayat-ayat yang selama ini dipahami sebagai anjuran untuk berpoligami semangat utamanya adalah ajakan untuk berlaku adil kepada para wanita yatim terkait konteks sosial masyarakat Arab ketika ayat itu turun. Hal ini bukan anjuran berpoligami dan hanya mengindikasikan kebolehannya. Implikasi dari penelitian ini adalah kenyataan bahwa penafsiran modern sekalipun masih menyisakan kesan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Terutama bila terkait pembahasan tentang kepemimpinan. Ukuran ketaatan perempuan adalah ketaatannya pada laki-laki karena posisinya adalah pelengkap. Meski Sya’rawiy luwes menafsirkan qawwâm dengan pendekatan sosiologis namun tetap tidak lepas memberikan restu untuk perempuan menjadi pimpinan publik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan termasuk kategori riset kepustakaan (library research). Teks-teks Tafsir dari Tafsir Al-Sya’rawiy terkait tema bahasan dikonfirmasi tafsir-tafsir yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Al-Qur’an memberikan arahan untuk tidak diskriminatif dalam melaksanakan syariat; 2) Al-Qur’an memberikan sinyal bahwa pelaksanaan syariat harus bersesuaian dengan maqâshidasy-syari’ah 3) Al-Qur’an secara umum menjelaskan bahwa konsep keadilan Allah berlaku untuk laki-laki dan perempuan; 4) Semangat menegakkan keadilan gender tidak bertentangan dengan semangat Al-Qur’an
RELASI GENDER DALAM TAFSIR MUTAWALLÎ AL-SYA’RÂWÎ Abdul Hadi
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 10 No. 2 (2021): Madani Institutte | Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, sosial dan Bud
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.723 KB) | DOI: 10.53976/jmi.v10i2.247

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Sya’rawiy walaupun bukan tokoh feminis namun penafsirannya secara filosofis sejalan dengan tafsir feminis, yaitu tafsir yang berkeadilan gender. Eksistensi laki-laki dan perempuan secara ontologis adalah sama, yaitu sama-sama dijadikan Tuhan dengan proses yang sama. Sya’rawiy mengkritik mitos penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki karena yang dianggap tidak berkeadilan dan tidak berdasar. Dalam ranah hukum keluarga Islam, Sya’rawiy mengajak untuk masuk pada kesadaran bahwa ayat-ayat yang selama ini dipahami sebagai anjuran untuk berpoligami semangat utamanya adalah ajakan untuk berlaku adil kepada para wanita yatim terkait konteks sosial masyarakat Arab ketika ayat itu turun. Hal ini bukan anjuran berpoligami dan hanya mengindikasikan kebolehannya. Implikasi dari penelitian ini adalah kenyataan bahwa penafsiran modern sekalipun masih menyisakan kesan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Terutama bila terkait pembahasan tentang kepemimpinan. Ukuran ketaatan perempuan adalah ketaatannya pada laki-laki karena posisinya adalah pelengkap. Meski Sya’rawiy luwes menafsirkan qawwâm dengan pendekatan sosiologis namun tetap tidak lepas memberikan restu untuk perempuan menjadi pimpinan publik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan termasuk kategori riset kepustakaan (library research). Teks-teks Tafsir dari Tafsir Al-Sya’rawiy terkait tema bahasan dikonfirmasi tafsir-tafsir yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Al-Qur’an memberikan arahan untuk tidak diskriminatif dalam melaksanakan syariat; 2) Al-Qur’an memberikan sinyal bahwa pelaksanaan syariat harus bersesuaian dengan maqâshidasy-syari’ah 3) Al-Qur’an secara umum menjelaskan bahwa konsep keadilan Allah berlaku untuk laki-laki dan perempuan; 4) Semangat menegakkan keadilan gender tidak bertentangan dengan semangat Al-Qur’an