Dewi Yuliati
Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelestarian Candi Ngempon dan Pemanfaatannya untuk Atraksi Pariwisata Dewi Yuliati
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 3 (2019): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.424 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.3.223-231

Abstract

Artikel yang berjudul “Pelestarian Candi Ngempon dan Pemanfaatannya Untuk Atraksi Pariwisata” memuat pembahasan tentang pelestarian Candi Ngempon yang mencakup upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Warisan budaya yang berasal dari sekitar abad VIII-IX ini telah dimanfaatkan sebagai salah satu atraksi pariwisata budaya di Kabupaten Semarang. Namun demikian, masih ada beberapa kendala untuk pemanfaatannya itu, terutama: masalah lahan, akses, sumber daya manusia, dan fasilitas. Berdasarkan pembahasan tentang Candi Ngempon dapat disimpulkan bahwa untuk pelestarian Candi Ngempon diperlukan rangkaian upaya yang kontinyu untuk memenuhi kaidah-kaidah peraturan berdasarkan Undang-undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010.
Pers, Peraturan Negara, dan Nasionalisme Indonesia Dewi Yuliati
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 3 (2018): September
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.269 KB) | DOI: 10.14710/anuva.2.3.253-272

Abstract

Artikel ini berisi pembahasan tentang hubungan antara Pers Indonesia dan peraturan-peraturan tentang pers sejak masa Kolonial Belanda sampai dengan Masa Revolusi Indonesia. Dalam rentang masa tersebut, pemerintah kolonial Belanda, Pemerintah Militer Jepang, dan Pemerintah Indonesia tetap memberlakukan undang-undang yang bersifat suppressive. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun hidup dalam suasana suppressive,  Pers Indonesia selalu berani untuk melaksanakan fungsi tanggungjawab sosial demi mencapai kehidupan yang lebih baik dan kebebasan bagi bangsa dan Negara Indonesia.
Mengungkap Sejarah Kota Lama Semarang dan Pengembangannya Sebagai Asset Pariwisata Budaya Dewi Yuliati
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 3, No 2 (2019): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.093 KB) | DOI: 10.14710/anuva.3.2.157-171

Abstract

Artikel ini berisi pembahasan tentang sejarah pembentukan Kota Lama Semarang dan pembangunannya sebagai salah satu asset pariwisata budaya Kota Semarang. Kota Lama berdiri pada akhir abad ke-17, setelah terjadi perjanjian antara Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Amangkurat II, dan Vereeniging van Oost-Indische Compagnië (VOC) pada tahun 1678, yang memberikan hak kepada VOC untuk menguasai wilayah Pantai Utara-Timur Jawa, jika VOC dapat mengalahkan perlawananan Trunajaya dari Madura terhadap Mataram. VOC berhasil untuk mengalahkan Trunajaya dan kompeni dagang ini memilih area di dekat pusat kabupaten Semarang dan Kali Semarang sebagai tempat permukimannya agar dapat mengawasi secara mudah pemerintahan Jawa dan aktivitas perdagangan di Laut Jawa. Dalam perkembangannya, koloni VOC ini menjadi kota yang dikelilingi benteng, tempat para pimpinan,  para pegawai, serta serdadu VOC bermukim. Di dalam kawasan benteng ini tumbuh dan berkembang fasilitas kota seperti: balai kota, pertokoan, jalan-jalan, barak militer, dan perumahan. Pada sekitar dekade ke-3 abad ke-19, benteng VOC ini diruntuhkan, karena terjadi perluasan area permukiman ini. Sekarang, kota benteng yang dibangun oleh VOC ini disebut Kota Lama atau “De Oude Stad”, dan Pemerintah Kota Semarang berusaha untuk melindungi dan mengembangkan kota ini sebagai asset pariwisata budaya, karena posisinya yang unik dan menarik sebagai suatu warisan budaya dan atraksi pariwisata.
Nasionalisme Buruh Versus Kolonialisme: Suatu Kajian Tentang Gerakan Buruh di Semarang pada Awal Abad XX Dewi Yuliati
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 2, No 2 (2018): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.639 KB) | DOI: 10.14710/anuva.2.2.213-224

Abstract

Negara dan buruh berhubungan erat, karena negara adalah suatu kesatuan politik antara rakyat (termasuk buruh) dan pemerintah sebagai administrator (pengurus)  negara.  Dalam konteks hubungan industrial, sering terjadi perbedaan kepentingan antara negara dan buruh, dan kondisi ini dapat menimbulkan konflik di antara dua pihak tersebut. Secara umum, buruh sering dianggap sebagai pihak marjinal yang hanya berjuang untuk alasan ekonomi, tanpa mempertimbangkan stabilitas politik. Akan tetapi, penelitian ini menemukan fakta bahwa pandangan tersebut tidak benar sepenuhnya, karena kenyataannya kaum buruh berani menuntut keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat bumiputera yang menjadi bagian dari warga negara. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa factor-faktor yang mendasari gerakan buruh tidak hanya kepentingan ekonomi, tetapi juga suatu semangat nasionalisme antikolonial, yang mencakup keinginan untuk merdeka, memperoleh keadilan, dan menunjukkan harga diiri bangsa.