Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Teknik reverse transcription – polymerase chain reaction (RT-PCR) dan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA untuk deteksi human immunodeficiency virus (HIV) dalam serum darah Rosilawati, Maria Lina; Bela, Budiman
Universa Medicina Vol 26, No 3 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.111-119

Abstract

LATAR BELAKANGTeknik biologi molekuler seperti teknik reverse transcription – polymerase chain reaction (RT-PCR) dot blot hybridization dengan pelacak DNA berlabel biotin dapat mendeteksi human immunodeficiency virus (HIV) dalam serum darah. Teknik ini selanjutnya dapat diterapkan untuk skrining HIV donor jaringan biologi terutama dari Bank Jaringan Riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), seperti amnion, allograft steril radiasi, melalui darahnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sensitivitas metode RT-PCR hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin dan RT-PCR elektroforesis gel agarosa untuk deteksi HIV.METODEPenelitian ini menggunakan serum darah dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Fatmawati. Jumlah serum yang dipakai sebanyak 55 sampel terdiri dari 5 sampel negatif HIV hasil uji serologi dengan rapid test dan 50 sampel dengan enzyme linked immunoassay (ELISA). Ekstraksi RNA HIV sampel darah dilaksanakan menggunakan kit RNA viral extraction sedangkan teknik one step RT-PCR digunakan untuk amplifikasi DNA. HASILHasil penelitian menunjukkan pada 55 sampel yang diuji baik dengan teknik RT-PCR elektroforesis gel agarosa maupun RT-PCR hibridisasi dot blot, 43 sampel positif mengandung HIV. Hasil RT-PCR hibridisasi dot blot jauh lebih jelas dibanding dengan RT-PCR-elektroforesis gel agarosa. Hal ini terlihat munculnya dot hitam tebal pada film sedangkan pada gel agarosa pita DNA tampak tipis untuk beberapa sampel positif HIV yang sama KESIMPULANTeknik RT-PCR hibridsasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin lebih sensitif dibanding dengan RT-PCR elektroforesis gel agarosa untuk mendeteksi HIV.
Deteksi Mycobacterium tuberculosis dan resistensinya terhadap rifampisin dengan Metode nested polymerase chain reaction (PCR) dan sequencing Rosilawati, Maria Lina
Universa Medicina Vol 26, No 1 (2007)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2007.v26.1-10

Abstract

Latar BelakangDNA rpob (RNA polymerase sub unit b) Mycobacterium tuberculosis dapat diamplifikasi secara spesifik dengan metode nested polymerase chain reaction (PCR). Nested PCR yang dilanjutkan dengan sequencing dapat secara langsung diaplikasikan untuk mendeteksi M. tuberculosis dan menentukan mutasi pada gen rpob yang berkaitan dengan resistensinya terhadap rifampisin, pada isolat klinis maupun sampel sputum. MetodeDalam penelitian ini digunakan 20 isolat klinis dan 30 sampel sputum yang diamplifikasi dengan primer yang dirancang dari bagian gen rpob M. tuberculosis. Metode fenol-kloroform dan metode Boom masing-masing digunakan untuk ekstraksi DNA isolat klinis dan sampel sputum. Sequencing hanya dilakukan untuk hasil PCR dari sampel sputum. HasilDari 20 isolat klinis, 15 isolat positif terdeteksi sebagai M. tuberculosis dengan nested PCR, 4 isolat tergolong Mycobacteria other than tuberculosis (MOTT) dan 1 isolat non-Mycobacteria. Hasil nested PCR pada 30 sampel sputum dengan 25 sampel basil tahan asam (BTA) positif dan 5 sampel BTA negatif, menunjukkan hasil positif pada 21 sampel. Besarnya produk first-round dan second-round PCR masing-masing adalah 205 bp dan 157 bp. KesimpulanNested PCR dengan sequencing lebih sensitif dan spesifik dalam mendeteksi  M. tuberculosis dan resistensinya terhadap rifampisin.