Herry Jeuke Nofrie Korengkeng
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Pengampunan Menurut Matius 18:21-35 dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini Herry Jeuke Nofrie Korengkeng
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i2.23

Abstract

Forgiveness is a crucial problem for human safety. Because divine forgiveness is a very fundamental part of the salvation of humanity. Therefore a true understanding of God's forgiveness is needed. In Matthew 18: 21-35 Jesus teaches forgiveness without limits through a parable. Through qualitative methods with the type of textual research or pure literary research found that understanding that forgiving without limits is God's demand for every believer. Forgiveness given by God in Jesus Christ is based on God's grace without demanding compensation. God forgives without conditions, without demands, no hidden feelings. Every human being who violates all the commands of God must confront God himself, as the indebted servant is demanded to pay off his debt. By the king's gift, the indebted servant was freed. This illustrates to the believer that God's grace can deliver man completely from all his sins, no matter how heavy and the magnitude of the sin. God demands that believers forgive the guilty just as Christ has forgiven. His whole life is an example, model or lifestyle of every believer. This is the attitude the modern church needs to take to show the nature of Christ's forgiveness as a follower of Christ.Pengampunan merupakan masalah yang sangat menentukan bagi keselamatan manusia. Sebab pengampunan secara ilahi merupakan bagian yang  sangat fundamental bagi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang benar tentang pengampunan Allah. Dalam Matius  18:21-35 Yesus mengajarkan pengampunan tanpa batas melalui suatu perumpamaan. Melalui metode kualitatif dengan jenis penelitian tekstual atau penelitian literatur murni ditemukan pemahaman bahwa mengampuni tanpa batas merupakan tuntutan Allah bagi setiap orang percaya. Pengampunan yang diberikan Allah di dalam Yesus Kristus didasarkan pada anugerah Allah tanpa menuntut ganti rugi. Allah mengampuni tanpa syarat, tanpa tuntutan, tidak ada rasa yang terpendam. Setiap manusia yang melanggar segala perintah Tuhan pasti berhadapan langsung dengan Allah sendiri, sebagaimana hamba yang berhutang itu dituntut  agar melunasi hutangnya. Oleh anugerah raja itu, hamba yang berhutang banyak itu dibebaskan. Hal ini menggambarkan kepada orang percaya bahwa anugerah Tuhan itu dapat membebaskan manusia dengan sempurna dari segala dosanya, bagaimanapun berat dan besarnya dosa itu. Allah menuntut supaya orang percaya mengampuni orang yang bersalah sama seperti Kristus telah mengampuni. Keseluruhan hidup-Nya adalah contoh, model atau gaya hidup setiap orang percaya. Inilah sikap yang perlu diambil oleh gereja masa kini yakni menunjukkan sifat pengampunan Kristus sebagai pengikut Kristus.