Djone Georges Nicolas
Sekolah Tinggi Theologi (STT) IKAT Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diskursus Problem dan Solusi dalam Penanganan Administrasi Pendidikan Kristen Di Kehidupan New Normal Djone Georges Nicolas
Jurnal Syntax Transformation Vol 2 No 01 (2021): Jurnal Syntax Transformation
Publisher : CV. Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jst.v2i1.162

Abstract

Berbicara Pendidikan pada umumnya diketahui sebagai ujung tombak suatu bangsa dalam menata masa depan yang gemilang untuk mencapai tujuan yang diimpikannya. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekedar untuk membangun anak-anak didik, tetapi juga membangun bangsa melalui anak-anak didik yang sedang dipersiapan melalui pendidikan. Bagaimana penanganan administrasi pendidikan Kristen dapat memberi jalan keluar atas masalah-masalah yang merintangi di masa kehidupan New Normal ini khususnya dalam hal peran kepemimpinan? Peneltian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan tujuan mengetahui problem dalam penanganan administrasi pendidikan Kristen di dalam kebiasaan kehidupan New Normal yang terus menerus bergulir, dan mengetahui solusi yang seperti apa yang diperlukan dalam menangani administrasinya. Pendidikan Kristen yang termasuk Agama minoritas di Indonesia mengalami berbagai problem dan penghalang termasuk dalam hal administrasi, terlebih pada masa Pandemi Covid 19 yang telah memaksakan perubahan yang drastis dan dramatis, sehingga diperlukan solusi yang konkret dan efektif dalam penanganan administrasi pendidikan di era yang baru yang disebut dengan istilah “New Normal” ini. Kesimpulannya, lembaga pendidikan Kristen dalam hal admistrasinya harus mengadaptasikan dan menyesuaikan diri dengan teknologi yang menjadi tuntutan di kehidupan New Normal ini, agar tidak ketinggalan dan tetap menjawab kebutuhan-kebutuhan yang menjadi hak yang dijamin oleh pemerintah bagi pendidikan peserta didik. Oleh karena itu, administrasi pendidikan memerlukan pemimpin yang cakap dan yang mampu berinovasi dan berkreativitas lebih dari sebelumnya di masa New Normal ini, agar lembaga pendidikan dapat tetap eksis dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pahlawan bagi generasi dan bangsa. Lembaga Pendidikan Kristen harus memandang Pandemi Covid 19 bukan sebagai bencana pada keseluruhannya, tetapi sebaliknya sebagai peluang untuk berkarya dalam pengabdian, dengan meningkatkan mutu administrasinya, sehingga dapat menjadi jawaban dan terang bagi bangsa ini di kehidupan New Normal ini.
Analisis Pandemi Covid 19 dan Pertajaman Polarisasi Gereja Di Indonesia Djone Georges Nicolas
Jurnal Syntax Transformation Vol 1 No 10 (2020): Jurnal Syntax Transformation
Publisher : CV. Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jst.v1i10.165

Abstract

Dampak yang sangat fenomenal Pandemi Covid 19 di seluruh dunia telah mengubah dan memaksakan pola kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang sebelumnya. Tidak terkecuali, gereja pun di Indonesia telah merasakan dampaknya dengan adanya kematian sejumlah pendeta dan umat karena terinfeksi virus corona. Di tengah krisis, kepanikan dan ketakutan semua orang berkaitan berita kematian dan ancaman yang diakibatkan oleh Pandemi, media online khususnya Youtube dihebohkan dengan perdebatan teologis di antara beberapa pendeta seperti Niko Njotorahrjo (Aliran Kharismatik) dalam Pesan Khusus Gembala di channel GBI Daan Mogot di bulan April 2020, dimana dia mengajak untuk ramai-ramai menghardik Covid 19 seperti Yesus telah menghardik badai sebagai wahyu yang telah diterimanya dari Tuhan. Di sisi lain, Pendeta Stephen Tong (Aliran Reform) yang menentang keras pernyataan tersebut dengan menganggap itu sebagai nubuatan palsu, sebab tidaklah terbukti dengan justru terjadi peningkatan jumlah orang terinfeksi dan kematian yang terus menerus terjadi. Pernyataan tersebut diresponi oleh Pendeta Gilbert Luimondong (Aliran kharismatik) dan ditanggapi kembali oleh Pendeta Ezra Soru dan (Aliran Reform). Isu lain yang menjadi topik perdebatan, yaitu isu doktrin Tritunggal yang dianggap hoax oleh pendeta Joshua Tewuh di channel Youtube Kalam Kristus, sehingga mendapat penentangan keras dari beberapa hamba Tuhan seperti Deky Nggadas dan rekan Asosiasi Apologis Indonesia (ASASI) yang melabelkan dirinya bidat, dan juga berujung pada keluarnya Pdt. Joshua Tewuh dari Gereja Bethel Indonesia yang merupakan sinode dimana dia berafialisi dan yang memegang teguh doktrin Tritunggal dalam Tata gerejanya. Semua ini mengakibatkan keresahan, kebimbangan dan ketegangan di media sosial, sehingga membuat suasana kurang kondusif di tengah komunitas orang-orang percaya itu sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitif dengan metode deskriptif fenomenologi dan analisa literatur dengan teknik pengumpulan data melalui sumber buku-buku, artikel digital, Jurnal serta dokumen lain yang berkaitan dengan masalah yang menjadi objek kajian. Kesimpulannya adalah bahwa gereja dalam perbedaan dan keberagamanan, harus belajar dan usahakan saling menerima, saling menghargai, sebab keberagamanan sebelum Pandemi Covid-19 sudah ada dan setelahnya akan selalu ada. Yang diperlukan dalam tugas gereja bermisi bersama, adalah saling merendahkan hati dan bersatu saling bergandengan tangan mencari solusi dengan kerjasama menghadapi momen krisis seperti ini, dengan justru melalui sarana Youtube dan media elektronik yang lain memanfaatkan peluang penginjilan yang terbuka lebar, sehingga hakekat terangnya menjadi nyata sesuai panggilannya.