Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kepemimpinan Transformasional Di Era Post Modern Wasis Suseno
JURNAL LUXNOS Vol. 5 No. 1 (2019): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2019
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v5i1.75

Abstract

Abstract: The modern Post era we are currently facing has the character of: attacking the special, universal, total, and absolute status of truth as understood in modernism. Single and universal truths are not recognized. There are only true truths for every society or community. Then truth is understood as fragmented into equal truths without a single normative accout beyond it. There is no tradition or ideology that stands on other traditions or other ideologies. What one believes to be true is no longer a single truth but part of truth pluralism. Therefor a leader understands the leadership of transformation in the post moderent era, apostle Paul explains, there are three levels of Transformational in the life of Believers, namely: 1) Position Transformation; 2) Behavior Transformation; 3) Community Transformation. If we can describe, the leadership of transformation in post-modern era, must have three real roles in leadership, 1. Spiritual Formation, 2. Theological Proficiency, 3. Practical & Ministry Proficieny. These three skills will be discussed in this paper. Abstrak: Era Pos modern yang kita hadapi saat ini bersifat: menyerang status kebenaran yang khusus, universal, total, dan absolut sebagaimana dipahami dalam modernisme. Kebenaran tunggal dan universal tidak diakui. Hanya ada kebenaran sejati untuk setiap masyarakat atau komunitas. Kemudian kebenaran dipahami sebagai terfragmentasi menjadi kebenaran yang setara tanpa satu pernyataan normatif di luarnya. Tidak ada tradisi atau ideologi yang berdiri di atas tradisi atau ideologi lain. Apa yang diyakini sebagai kebenaran bukan lagi kebenaran tunggal melainkan bagian dari pluralisme kebenaran. Untuk itu seorang pemimpin memahami transformasi kepemimpinan di era post moderent, Rasul Paulus menjelaskan, ada tiga tingkatan Transformasi dalam kehidupan Orang Beriman, yaitu: 1) Transformasi Jabatan; 2) Transformasi Perilaku; 3) Transformasi Komunitas. Jika bisa kita gambarkan, kepemimpinan transformasi di era postmodern, harus memiliki tiga peran nyata dalam kepemimpinan, 1. Formasi Spiritual, 2. Kecakapan Teologis, 3. Practical & Ministry Proficieny. Ketiga keterampilan tersebut akan dibahas dalam makalah ini.
MODEL RANCANG BANGUN TEOLOGI MISI DALAM MASYARAKAT PLURALIS Wasis Suseno
Jurnal Arrabona Vol. 1 No. 2 (2019): Februari
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.08 KB) | DOI: 10.57058/juar.v1i2.53

Abstract

Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menentukan Komunitas Indentifikasi Pluralisme, dan Bagaimana Kita Dapat Membangun Model Teologi untuk misi mencapai Komunitas pluralisme dalam Konteks Indonesia. Dalam Periode waktu Walter dan Douglas mengatakan: pengakuan akan hak berbagai kelompok agama mis. Yahudi, Muslim, dan Kristen diizinkan untuk berfungsi secara sah dalam suatu masyarakat, konstruksi Misi adalah upaya untuk mengkontekstualisasikan misi yang relevan. Pertemuan dengan dan dalam konteks Indonesia untuk masyarakat majemuk, Apa itu Misi? Misi, dalam penggunaan saya, merujuk pada penugasan alkitabiah total dari gereja Yesus Kristus. Ini adalah istilah yang komprehensif termasuk pelayanan Gereja ke atas, ke dalam dan ke luar. Ini adalah pembelian seperti yang 'dikirim' di dunia ini ... Misi adalah istilah khusus. Maksud saya adalah pengiriman orang yang berwenang di luar perbatasan gereja Perjanjian Baru dan pengaruh Injilnya yang segera untuk memberitakan Injil Yesus Kristus di daerah-daerah yang miskin Injil, untuk memenangkan orang-orang yang bertobat dari agama lain yang bukan agama kepada Yesus Kristus, dan kepada membangun jemaat lokal yang berfungsi dan berlipat ganda yang akan menghasilkan buah Kekristenan di komunitas itu dan ke negara itu. ”