Vevi Alfi Maghfiroh
IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DISKURSUS RADHA’AH DAN HADHANAH BERPERSPEKTIF GENDER Vevi Alfi Maghfiroh
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v2i2.7426

Abstract

Radha’ah dan Hadhanah merupakan hak anak sekaligus kewajiban kedua orang tua dalam menjalankan amanah titipan Tuhan. Keharusan ini sudah diatur dengan jelas dalam ayat Al-Qur’an dan teks hadist. Dalam literatur fikih klasik umumnya pembahasan radha’ah hanya membahas tentang tekhnis penyusuan yang menyebabkan terjadinya mahram dan upah penyusuan yang dilakukan oleh perempuan selain ibu kandung. Begitupun dengan hadhanah, umumnya hanya menempatkan orang tua sebagai subjek pengasuh, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemaslahatan anak. Pembahasan Radha’ah dan Hadhanah berperspektif gender ini memperhatikan dengan seksama perbedaan dan fungsi sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat tentang gender untuk kesetaraan dan kesalingan menggapai maslahah bagi setiap subjeknya. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif pada penelitian pustaka, dengan tekhnik analisis berupa metode deskriptif analitik dan metode deduktif untuk mengurai secara menyeluruh objek yang diteliti. Adapun hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa perspektif gender dalam rada’ah tidak hanya melihat peran biologis perempuan dalam memenuhi kewajibannya sebagai ibu yang menyusui, tetapi juga memperhatikan peran bapak sebagai pelindung yang harus menjamin kebutuhan keduanya baik secara materil maupun non-materil. Begitupun hadhanah berperspektif gender harus menjadikan maslahah sebagai ketentuan hukum hak asuh agar berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan bagi anak dan kedua orang tuanya.Kata Kunci:  Radha’ah, Hadhanah, Gender                        
STUDI PEMIKIRAN IBNU QUDAMAH TENTANG NIKAH BERSYARAT Vevi Alfi Maghfiroh
MAHAKIM Journal of Islamic Family Law Vol 3 No 1 (2019): January 2019
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.388 KB) | DOI: 10.30762/mahakim.v3i1.127

Abstract

Marriage is the process by which two people make their relationship public, official, and permanent. It is the joining of two people in a bond that putatively lasts until death. Marriage is the foundation of the building, and its position is very important according to the Qur’an, based on the number of verses that talk about marriage relations. Before the wedding, sometimes there are conditions agreed upon by the bride and groom or from the bride’s parents whose purpose is for the good of them.The law to make marriage agreements (conditional marriage) is permissible (muba>h}). It may or may not be done, but if the agreement is done, then the law of its implementationwas debated by the scholars.Based on the background and data analysis obtained from the research findings mention that there are two groups who have different views about conditional marriage. They are Ibn Qudamah who is a H{anbali scholar and the majority of scholars (Jumhur ulama) which includes Ima>m Sya>fi’i, Ima>m Ma>lik. and Ima>m H{anafi. This problem of dissent needs to be examined, with the opinion of Ibn Qudamah as a scholar (pentarjih). He firmly argued that if the marriage conditions had been stated, the law must be implemented. It was viewed from the istidlal method then accordingto the argument of Al-Qur’an: Al-Maídah verse 1, Al-Isra verse 34, and An-Nah}l verses 91-92, Hadiṡ Uqbah bin Amir, Fatwa Sahabat that becomes an ijma ‘, also Qiyasbecause keeping promises is a demand ofsyara’