Mimin Karmini
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. DR. Junjunan No. 236, Telp. 022 603 2020, 603 2201, Faksimile 022 601 7887, Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FORAMINIFERA SEDIMEN DASAR LAUT DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR Mimin Karmini; Rostyati Rostyati
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.797 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.98

Abstract

Dalam kerangka penelitian dan penyelidikan geologi dan geofisika kelautan yang dilaksanakan oleh tim Pusat Pengembangan Geologi Kelautan, sebanyak 44 percontoh sedimen telah dianalisis foraminiferanya. Pada umumnya, foraminifera plangton yang lebih banyak dijumpai adalah Globigerinoides spp., Neogloboquadrina dutertrei, dan Pulleniatina spp. Neogloboquadrina dutertrei yang dikenal sebagai spesies penciri untuk kondisi salinitas rendah. Spesies-spesies tersebut banyak dijumpai pada kedalaman lebih dari 40 m, dan mencapai maksimum pada kedalaman 1400 m (lokasi 11, lepas pantai Tanjung Bayur). Di tempat seperti ini jumlah individu dan keanekaragaman foraminifera plangton paling tinggi dan termasuk ke dalam zona lereng sesar atas, sedangkan yang terendah ada di lokasi 7 (dekat pantai muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 11,3 m. Foraminifera bentosnya yang banyak dijumpai adalah Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., dan Pseudorotalia schroeteriana. Keberadaan Amphistegina lessonii sangat tergantung terhadap intensitas cahaya, air yang jernih, dan biasanya berasosiasi dengan terumbu. Turbulensi di daerah telitian diperkirakan relatif rendah karena banyak dijumpainya spesies tersebut. Jumlah individu tertinggi foraminifera bentos terdapat pada lokasi 35 (Muara Lerong), pada kedalaman 45 m, sedangkan yang terendah ada di lokasi 6 (dekat pantai, muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 17,3 m. Keanekaragaman tertinggi dijumpai dilokasi8, pada kedalaman 63,5 m, sedangkan yang terendah di lokasi 6. Fluktuasi jumlah individu foraminifera plangton dan bentos di bagian utara dan tengah tidak terlepas dari kemungkinan adanya arus bawah laut yang bisa mempengaruhi sedimen dan morfologi dasar lautnya. Di bagian selatan jumlah ini cenderung meningkat pada tempat yang menjauh dari pantai. Within the framework of marine geological and geophysical surveyscarried out by the Marine Geological Institute, 44 samples had been analysed, especially for foraminifera. In general, planktonic foraminifera in the study area such as Globigerinoides spp, Neogloboquadrina dutertrei, and Pulleniatina spp are commonly found. Neogloboquadrina dutertrei is known as an indicator species for low salinity. They are found commonly at depths of more than 40 m, the most abundant of it is found at the depth around 1400 m (site 11, offshore of Bayur Peninsula). The maximum total number of individuals and the diversity of planktonic foraminifera occurr at this site as well as at the upper continental, whereas the minimum one is at site 7 (near the mouth of Muara Bayur River), at 11,3 m depth. The common benthonic foraminifera are Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., and Pseudorotalia schroeteriana. Amphistegina lessonii is a species, which is, dependent on light and clear water, and is usually associated with reef. The high number of individuals of this species suggests that the turbulent factor is considered to be relatively low. The maximum total number of individuals of benthonic foraminifera occurs at site 35 (Lerong River Mouth), at 45 m depth, whereas the minimum at site 6 (close to the mouth of Muara Bayur River), at 17,3 m depth. The maximum diversity occursatsite 8, at the depth of 63,5 m, whereas the minimum one is at site 6. The fluctuation of the total number of individuals of planktonic and benthonic foraminifera in the northern and southern parts is probably due to the morphology of the sea floor and the sediment influenced by bottom current. In the southern part the number of individuals of foraminifera tends to increase with the increasing of the distance from the shore.
BIOSTRATIGRAFI FORAMINIFERA KUARTER PADA BOR INTI MD 982152 DAN 982155 DARI SAMUDRA HINDIA Mimin Karmini; H. Yuniarto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1256.383 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.2.2013.231

Abstract

Dari bor inti pada EKSPEDISI IMAGES, di Samudra Hindia, telah diteliti sebanyak 21 percontoh sedimen dari lokasi MD 982152, dan 29 buah dari lokasi MD 982155 untuk kepentingan biostratigrafi berdasarkan analisis foraminifera plankton dalam interval 1,5 meter. Pada kedua penampang bor inti tersebut hanya dijumpai satu zona foraminifera plankton Kuarter, yaitu Zona Globorotalia truncatulinoides. Untuk MD 982152, zona ini bisa dibagi ke dalam dua subzona, yakni Subzona-subzona Globorotalia crassaformis hessi dan Globigerinella calida, sedangkan untuk MD 982155, zona tersebut bisa dibagi lagi ke dalam tiga subzona, yakni Subzona-subzona Globorotalia crassaformis hessi Globigerinella calida, dan Beella digitata. Kejadian yang signifikan di kedua penampang itu adalah Datum Pemunculan Pertama dari Globigerinella calida dan Pemunculan Akhir dari Globorotalia crassaformis hessi. Pada MD 982155, dijumpai Pemunculan Pertama dari Beella digitata. Kata kunci: foraminifera plankton, Kuarter, biostratigrafi, Samudra Hindia. From IMAGES Expedition in Indian Ocean, 21 samples from MD 982152, and 29 samples from MD 982155 had been studied for the purpose of biostratigraphy based on planktonic foraminifera within 1,5 meter interval. In both sections, only one Quaternary zone is found, namely Globorotalia truncatulinoides Zone. For MD 982152, that zone can be subdivided into two interval subzones e.g. Globorotalia crassaformis hessi and Globigerinella calida calida. However, in MD 982155 Globorotalia truncatulinoides Zone can be subdivided into three subzones namely, Globorotalia crassaformis hessi, Globigerinella calida calida, and Beella digitata Subzones. The planktonic foraminifera event revealed in both sections are the First Appearance Datum (FAD) of Globigerinella calida calida and the Last Appearance (LAD) of Globorotalia crassaformis hessi. In MD 982155 the FAD of Beella digitata is found. Keywords: planktonic foraminifera, Quaternary, biostratigraphy, Indian Ocean.
HIATUS PADA KALA EOSEN-MIOSEN TENGAH DI TINGGIAN ROO, SAMUDRA HINDIA, BERDASARKAN BIOSTRATIGRAFI NANNOPLANKTON Mimin Karmini; M. Hendrizan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.717 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.159

Abstract

Nanoplankton dari dua puluh satu percontoh dari Tinggian Roo (MD982156) yang diperoleh selama Ekspedisi MD III - IMAGES IV telah dianalisis untuk kepentingan penelitian biostratigrafi study. Percontoh sedimen diambil dengan menggunakan penginti isap yang besar sekali (giant piston core). Lokasi daerah telitian adalah di Tinggian Roo, Samudra Hindia, Selatan Jawa Timur, di luar Parit Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nanoplankton, biostratigrafi daerah telitian dapat dibagi ke dalam 8 Zona yakni zona-zona: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Umur Paleosen ditunjukkan dengan adanya Discoaster multiradiatus sebagai spesies yang dominan, sedangkan sedimen yang berumur Miosen Akhir adalah D. prepentaradiatus. Sedimen lempung tufaan pada kedalaman 30 m bawah dasar laut ke bagian paling bawah dari penampang yang didominasi oleh mineral Phillipsite, ternyata mengandung nanoplankton yang berumur Paleosen, sedangkan dari kedalaman 30 m ke bagian atas dari penampang sedimen ditutupi secara langsung oleh sedimen yang berumur Miosen Akhir – Holosen. Jadi di lokasi penelitian ini telah terjadi hiatus antara Eosen sampai paling tidak bagian bawah dari Miosen Akhir. Adapun Phillipsit dikenal sebagai mineral yang secara authigenic terjadi di laut dalam yang bisa berasal dari hasil kegiatan gunung api. Manfaat mineral Phillipsit di dalam industri plastik, antara lain dapat dipakai dalam pembuatan resin termoaktif dan sebagai pemacu dalam proses pengerasan. Kelompok Zeolit ini juga digunakan untuk menghilangkan kesadahan dalam industri deterjen, menjernihkan kelapa sawit, menyerap zat warna pada minyak hati ikan hiu, sebagai katalisator pada proses gasifikasi batubara yang berkadar belerang dan/atau nitrogen tinggi yang menghasilkan gas bersih Kata Kunci: Hiatus, Kala Esosen-miosen, Tinggian Roo, Biostratigrafi Nanno Plankton Nannoplankton of twenty one samples from Roo Rise (MD982156 core) obtained during MD III - IMAGES IV Expedition were analysed for biostratigraphic study. The samples were taken by using giant piston core. This core is located in Indian Ocean, south of East Jawa, outer part of Jawa Trench. The results of the study indicate that, based on nannoplankton biostratigraphy of the study area, there are eight zones namely: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Paleocene sediment is indicated by the presence of Discoaster multiradiatus as the dominant species and Late Miocene sediment is indicated by the presence D. pentaradiatus. The sediments from 30 m down to the base of the core, which is dominated by Phillipsite minerals (Zeolite Group), is composed of nannoplankton of Paleocene age, whereas from 30 m below sea floor (bsf) to the top of the core, the sediment is directly overlain by the sediment of Late Miocene – Holocene ages. Therefore there was a hiatus occurred in the study area between Eocene to at least the lower part of Late Miocene. Phillipsite is known as an authigenic mineral deposited in the deep sea that could be derived from the volcanic activity products. This mineral has a benefit in the plastic industry that can be used in making thermoactive resin and as a catalyst in hardening process. The Zeolite Group is also used in removing hardness in detergen industry, cleaning palm oil, absorbing color in lever oil of shark and as a catalyst in coal gasification having high sulphur and nitrogen producing clean gas. Keyword: Hiatus, Eosen-miosen ages, Roo Rise, Biostratigrafi Nanno Plankton
FORAMINIFERA PERAIRAN BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR: LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PENGARUHNYA Mimin Karmini; M. Hendrizan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3301.764 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.2.2011.205

Abstract

Dari hasil telitian perairan lepas pantai Balikpapan, Kalimantan Timur (Lembar 1914), di dalam sedimen dasar laut antara kedalaman 18 m – 562 m bawah permukaan laut, dijumpai tidak kurang dari 195 spesies foraminifera bentos kecil dan besar dan 34 spesies foraminifera plankton. Heterolepa praecincta merupakan spesies bentos kecil yang banyak mendominasi sedimen permukaan di daerah penelitian, kemudian Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta masih dijumpai sampai kedalaman 383 m, sedangkan ke arah yang lebih dalam lagi jumlahnya semakin berkurang. Foraminifera bentos kecil yang langka seperti Biarritzina proteiformis di daerah telitian dan di perairan antara Pangabakan - Sagita, di utara daerah telitian, sebelah utara Delta Mahakam, jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang di bagian selatannya, yaitu di perairan utara P. Lombok, tempat spesies ini pertama kali dijumpai. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya arus yang berarah dari utara ke selatan. Spesies Operculina spp., yang banyak diwakili oleh spesies O. complanata, O. ammonoides, dan O. heterosteginoides, banyak dijumpai pada kedalaman kurang dari 100 m. Spesies-spesies tersebut di beberapa lokasi banyak berasosiasi dengan Amphistegina lessonii, yang menandakan bahwa pada kedalaman ini turbulensinya rendah, dengan kondisi air yang cukup jernih. Melimpahnya foraminifera plankton Neogloboquadrina dutertrei, terutama pada kedalaman lebih dari 100 m, menunjukkan bahwa pada kedalaman tersebut perairan daerah telitian mempunyai salinitas rendah. Kata kunci: foraminifera, lingkungan, Balikpapan, Kalimantan Timur The results of the Balikpapan offshore study in East Kalimantan waters (Sheet 1914), between 18m– 562m below sea level, revealed the sea floor sediment containing not less than 195 species of smaller and larger benthic foraminifera, and 34 species of planktic foraminifera. The smaller benthic foraminifera Heterolepa praecincta dominates the surface sediment in the study area, then Heterolepa margaritifera. Heterolepa praecincta is still found at the 383 m depth. However, towards the deeper, their number is decreasing. The number of uncommon smaller benthic foraminifera such as Biarritzina proteiformis in the study area and between Pangabakan – Sagita waters, in the north part of the study area, north of Mahakam Delta, is more abundant compared to that in the south part, in Lombok waters, the place where this species was firstly found. It is suggested that this condition is caused by the current coming from the north to the south. The species Operculina spp., mostly representated by the species O. complanata, O. ammonoides, and O. heterosteginoides, are much more common found in the depth of less than 100 m. Those species is commonly found associated with Amphistegina lessonii, indicating that this depth has a low turbulent with clear water conditions. The abundance of planktic foraminifera Neogloboquadrina dutertrei, especially within the depth of more than 100 m, indicating that this depth has a low salinity. Keywords: foraminifers, environment, Balikpapan, East Kalimantan