Undang Hernawan
Marine Geological Institute

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DISTRIBUSI KARBON ORGANIK DALAM SEDIMEN INTI DI PERAIRAN LEMBATA, LAUT FLORES Yani Permanawati; Undang Hernawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4029.567 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.1.2018.541

Abstract

Kondisi lingkungan dapat diketahui berdasarkan jejak karbon organik dalam sedimen inti. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perubahan lingkungan saat sedimen terendapkan. Lokasi penelitian berada di perairan utara Pulau Lembata, Laut Flores. Bahan yang digunakan adalah sampel sedimen inti yang diambil menggunakan penginti jatuh bebas pada 7 (tujuh) lokasi dengan sayatan oles. Karakteristik sedimen bagian timur didominasi fragmen biogenik dan sedimen lebih halus. Bagian tengah memiliki komposisi relatif sama antara fragmen batuan dengan biogenik. Bagian barat didominasi oleh fragmen biogenik. Persentase material organik antara 2.496-11.133%, CaCO3 (karbonat) 16.365-79.910% dan total organik karbon 0.999-4.453%. Distribusi karbon organik dalam sedimen inti menunjukkan perubahan dinamis di wilayah perairan tengah dibandingkan dengan bagian barat dan timur. Perubahan distribusi karbon organik terjadi karena adanya perbedaan sumber asal sedimen, perbedaan morfologi dasar laut, perubahan kekuatan dinamika perairan, pemanfaatan kesuburan perairan, dan perbedaan produktivitas perairan saat material karbon organik terendapkan. Kata kunci: sedimen, karbon organik, total organik karbon, perairan LembataEnvironmental conditions can be traced through recording the distribution of organic carbon content in core sediments. This study aims to determine environmental changes when sediment is deposited in Lembata waters. The research location is in the north waters of Lembata Island, Flores Sea. The materials used were core sediment samples taken using gravity core at seven locations. The study method uses a Loss On Ignition (LOI) procedure. The results of the analysis of the upper smear slide (0 cm). The eastern part is dominated by biogenic and sedimentary fragments which are finer than the western-central part, the middle part has a relatively similar composition between rock and biogenic fragments. in the dominant western part is a brightly colored material fragment. The change in the percentage of organic material is between 2,496-11,133%, the concentration of CaCO3 ranges from 16,365-79,910% and the concentration of TOC ranges from 0.999-4,453%. Distribution of organic carbon in core sediments from Lembata waters shows dynamic changes in the middle waters compared to the west or east. Changes in the distribution of organic carbon in Lembata waters occur due to differences in sources of sediment origin, differences in seabed morphology, changes in the strength of water dynamics, utilization of aquatic fertility, and differences in waters productivity when organic carbon material is deposited.Keywords: sediment, organic carbon, total organic carbon, Lembata waters
Coastal Protection of Southern Part of The Bintuni Bay From Oil Spill: An Environmental Sensitivity Index Approach Undang Hernawan; Rahayu Kusumah Risdianto
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2753.708 KB) | DOI: 10.32693/bomg.32.2.2017.395

Abstract

The southern part of Bintuni Bay with highly sensitive ecosystem conditions has evolved into an oil and gas industry where potential impacts on coastal and offshore environments need to be anticipated and planned comprehensively for environmental protection from oil spills. The main problem is the determination of areas that are sensitive and vulnerable to oil spills. This study is to analyze the factors and components that affect the level of environmental sensitivity and mapping Environment Sensitivity Index (ESI) to the oil spill.  The study was carried out by identifying and assessing each land units of its and use. Land use and land cover are interpreted through the use of satellite imagery with classification methods of guided satellite imagery. Field survey was also conducted in order to improve the accuracy of land use interpretation. Data analysis was performed by spatially by GIS method. The result indicated that ESI can be divided into five categories, are very sensitive (2,395.98 hectares or 2.38%), sensitive (13,133.53 hectares or 13.07%), moderately sensitive (17,902.78 hectares or 17.81%), low sensitive (52,409.14 hectares or 52.14%) and not sensitive (14,681.48 hectares or 14.61%). Although the study area is dominated by low sensitivity category, however the coastal protection from oil spill still should be prioritized.Keywords:  coastal protection, Environmental Sensitivity Index, Oil Spill, Bintuni Bay Wilayah bagian selatan Teluk Bintuni dengan kondisi ekosistem yang sangat sensitif telah berkembang menjadi industri minyak dan gas dimana potensi dampaknya terhadap lingkungan pesisir dan lepas pantai  perlu diantisipasi dan terencana secara komprehensif untuk perlindungan lingkungan dari kemungkinan tumpahan minyak. Masalah utamanya adalah penentuan daerah yang sensitif dan rentan terhadap tumpahan minyak. Penelitian ini menganalisis faktor dan komponen yang berpengaruh terhadap tingkat sensitivitas lingkungan dan pemetaan Indeks Sensitivitas Lingkungan (ISL) terhadap tumpahan minyak. Studi ini dilakukan dengan cara identifikasi dan penilaian unit lahan pada setiap penggunaan lahan. Penggunaan dan penutup lahan diinterpretasikan melalui penggunaan citra satelit dengan metode klasifikasi citra satelit terbimbing. Guna meningkatkan akurasi interpretasi penggunaan lahan juga dilaksanakan survei lapangan. Analisis data hasil penilaian unit identifikasi dilakukan secara spasial dengan metode SIG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ESI dapat dibagi menjadi lima kategori, yaitu sangat sensitif (2.395,98 hektar atau 2,38%), sensitif (13.133,53 hektar atau 13,07%), cukup sensitif (17.902,78 hektar atau 17,81%), sensitif rendah (52,409.14 hektar atau 52,14% dan tidak sensitif (14.681,48 hektar atau 14,61. Meskipun sebagian besar daerah daerah penelitian termasuk dalam kategori sensitif rendah, namun demikian perlindungan dari tumpahan minyak harus tetap diprioritaskan.Kata Kunci: perlindungan pantai, Indeks Sensitivits Lingkungan, tumpahan minyak, Teluk Bintuni