This Author published in this journals
All Journal Al-Qalam
Abd. Kadir Ahmad
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PROFIL LEMBAGA PEMASYARAKATAN MAROS (SEBUAH KASUS EVALUATIF TERHADAP PELAKSANAAN PEMBINAAN NARAPIDANA) Abd. Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.029 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.607

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan adalahinstitusi sosial yang sudah berusia tua.Keberadaannya seiring dengan terbentuknyadan berkembangnya masyarakat.Oleh karena itu, eksistensilembaga ini sangat tergantung kepadaperkembangan masyarakat. Semakinberkembang suatu masyarakat, akansemakin rumit pula bentuk lembagapemasyarakatan.Pada suatu mas a tertentu, pengertianLembaga Pemasyarakatan lebihdikenal sebagai tempat menjalanihukuman bagi orang-orang yang telahmelanggar peraturan negara. Pengertianini pada gilirannya telah melahirkanpemahaman bahwa fungsi tunggallembagan pemasyarakatan adalahsebagai tempat hukuman bagi orangorangyang melanggar hukum. Akibatnyanarapidana selalu dipandangsebagai orang bersalah dan jahat.Pemerintah Indonesia sejak dekadeakhir ini melalui Departemen Kehakimancq Direktorat Jenderal Pemasyarakatan,LP tidak lagi dikesankansebagai tempat yang angker danmenakutkan, yang akan membuat jeradan takut, tetapi mulai diorientasikanmenjadi satu tempat khusus mempersiapkanNapi kembali dan diterimaoleh masyarakat. Untuk itu, disampingpemberian pengetahuan danketerampilan praktis, mulai ditingkatkanpula kegiatan pembinaan mentaldan spiritual, pembinaan wawasankebangsaan, kemasya.rakatan, danbimbingan keagamaan.Meski demikian, sementara inimasyarakat luas belum mengetahuisecarajelas bagaimana pola pembinaantersebut dan apakah pembinaandalam Lapas sungguh-sungguh telahmencerminkan citra baru dariLembaga Pemasyarakatan ? Jikabelum, faktor-faktor apakah yangmerupakan kendala terlaksananya polapembinaan tersebut ? Masalah itulahyang menjadi fokus perhatian penulislewat penelitian ini dengan mengambilsampel di Lembaga PemasyarakatanKelas II Maros Sulawesi Selatan.
EKSISTENSI FORUM KOMUNIKASI JAMAAH AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH DI PALU Abd. Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 12, No 2 (2006)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.764 KB) | DOI: 10.31969/alq.v12i2.555

Abstract

P e n e l i t i a n ini bersifat deskriptif a n a l i t i s dan bertujuan untukmendeskripsikan profil dan aktivitas Forum Komunikasi AhlussunnahWaljamaah sebagai salah satu gerakan Islam kontemporer yang tumbuh danberkembang pada awal era reformasi. Hasil penelian ini dapat digunakansebagai bahan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan dalam menanganiberbagai gerakan keagamaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kehadiran FKAWJ merupakanjawaban terhadap ketidakmampuan aparat keamanan dan penegak hukummemulihkan ketertiban dan menegakkan supremasi hukum. Pengaruhkehadiran FKAWJ di Palu amat terasa bagi umat Islam khususnya yang adadi daerah konflik. Hal ini dirasakan sebagai dukungan bagi perjuanganmereka mempertahankan diri dari pihak lain. Pengaruhnya j u g a dirasakanmasyarakat dalam hal dakwah dan pendidikan Islam yang diselenggarakanmeskipun waktunya cukup singkat. Akan tetapi bersamaan dengan ituresistensi j u g a muncul dengan rasionalisasi bahwa keikutsertaan pihak luarjustru akan lebih memperkeruh suasana.
HAJI DI BONTONOMPO KABUPATEN GOWA TINJAUAN SOSIAL EKONOMI Abd. Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.958 KB) | DOI: 10.31969/alq.v19i2.153

Abstract

Di Sulawesi Selatan, studi aspek sosial dan ekonomi haji belum pernah dilakukan, padahal berhajibukan hanya meliputi aspek keagamaan akan tetapi juga kedua aspek tersebut. Pertanyaan yang ingindijawab adalah bagaimanakah haji mengekspresikan diri melalui status dan peran-peran sosial padamasyarakat dan sumber-sumber ekonomi apa yang dimiliki para haji untuk dapat dipahami sebagaiorang mampu (istitha’)? Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui status dan peran sosial dan latarbelakang ekonomi sebagai akibat dari kehajian pada masyarakat pedesaan. Konsep yang digunakanadalah modal sumberdaya manusia, modal sosial, dan modal ekonomi dari Fukuyama, dan teorihubungan keberagamaan dan etosekonomi dari Max Weber. Dengan metode wawancara, angket dandokumentasi, ditemukan para haji di Bontonompo memiliki modal sumber daya manusia yang lebihbaik di atas rata-rata penduduk setempat dilihat dari aspek latar belakang pendidikan dan pekerjaan.Dari segi ekonomi para haji memiliki sumberdaya ekonomi yang jamak, selain pendapatan dari statusPNS, mereka juga memiliki sejumlah areal lahan, perusahaan batu bata, perdagangan, dan ternak, baiksecara sendiri-sendiri maupun akumulatif. Sumber daya sosial menunjukkan haji cenderung dipercayauntuk menempati posisi-posisi publik dan privat di berbagai bidang yang ada di pedesaan.
VARIAN KEPESANTRENAN PADA PONDOK PESANTREN SYAECHONA CHOLIL BANGKALAN MADURA Abd. Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 10, No 2 (1998)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.86 KB) | DOI: 10.31969/alq.v10i2.595

Abstract

Pergelutan pondokpesantren dengan realitas lingkungan yang mengitarinya terutamaseletelah Indonesia merdeka memperlihatkan dinamika yang beragam. Program pemerintahmelakukan upaya konvergensi sistempendidikanpesantren dengan diintrodusirnya sistemmadrasah, misalnya, menimbulkan berbagai varian. Di samping pesantren yang menerima, adajuga yang tetap bertahan dengan tradisi semula di samping dan yang paling banyak adalahkombinasi antara keduanya. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dan historis diPondok Pesantren Syaechona Cholil (selanjutnya disingkat SC) di Bangkalan Madura adalahsalah satu pesantren yang tetap kukuh dengan sistem kepesantrenan meski tidak menolak samasekali sistem madrasah. Sikap resistensi itu paling tidak didorong oleh faktor historis dengansimbol nama besar pendirinya, Kyai Cholil, budaya "ngaji" orang Madura, dan tuntutan akanpenyemaian kader ulama yang tak pernah surut.