This Author published in this journals
All Journal Al-Qalam
Husnul Fahima Ilyas
Balai Litbang Agama Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PROBLEMATIKA PEMANFAATAN BUKU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 11 MANADO DAN SD NEGERI 1 BUNAKEN KEPULAUAN Husnul Fahima Ilyas
Al-Qalam Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.633 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i1.265

Abstract

Artikel ini bergenre kebijakan yang berupaya mengungkapkan problem mengenai pemanfatan buku Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar (SD) Negeri 11 Manado dan SD Negeri 1 Bunaken Kepulauan. Permasalahan difokuskan pada ketersediaan buku PAI, mekanisme pemanfaatan, dan problem yang dihadapi oleh pendidik dan peserta didik dalam memanfaatkan buku PAI. Data-data diperoleh dari hasil wawancara, dokumen, dan observasi dan dianalisis dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SD Negeri 11 Manado menggunakan buku PAI K-13 untuk kelas I, II, IV, dan V dalam pembelajaran. Ketersediaan buku khususnya buku Pendidikan Agama Islam K-13 di SD Negeri 11 Manado belum maksimal dan masih jauh dari teori ideal karena belum berbanding  satu siswa-satu buku. Sekitar 10% siswa belum mempunyai buku pegangan. Solusinya memfotokopi buku PAI bagi anak mampu secara materi. Sedangkan untuk kelas III dan VI menggunakan buku PAI KTSP 2006 penerbit Erlangga yang disediakan oleh sekolah (menggunakan dana BOS). Berbeda dengan SD Negeri 1 Bunaken Kepulauan, distribusi buku PAI sangat timpang. Untuk buku K-13 khususnya pelajaran agama tidak terjangkau sampai kepulau-pulau. Solusi yang ditawarkan guru PAI mendikte atau menuliskan di papan tulis (khusus kelas I dan VI). Sedangkan  kelas II, III, IV, dan V SD Negeri 1 Bunaken Kepulauan, tidak mempunyai buku wajib baik pegangan guru dan siswa yang sesuai standar kurikulum K-13 ataupun KTSP 2006. Hal ini disebabkan guru bidang studi PAI tidak ada, solusinya guru kelas hanya mengajarkan Iqra dan bacaan shalat pada jam pelajaran PAI. 
ISLAMIC SCHOLARS’ NETWORK IN SOUTH SULAWESI AT THE 20th CENTURY: A Note in Wajo and Soppeng Hamzah Harun Al-Rasyid; Husnul Fahima Ilyas
Al-Qalam Vol 28, No 1 (2022)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v28i1.1025

Abstract

This article discussed about the network of scholars in South Sulawesi concentrated in Wajo and Soppeng districts. This research was significant to reconstruct and introduce scholars at the local level who were almost publicized, even though they had dedicated themselves in creating, educating, and attacking the nation's children with adequate religious knowledge. The primary concerns of this study were: how was the formation of the Islamic scholars (Ulama)’s network in South Sulawesi, and what were the roles of the Ulama in the formation of the network? This study aimed at reconstructing the network of Ulama over the achipleago, South Sulawesi, and Middle Eastern during  the twentieth century. The results of this study revealed that the Ulama’s network in South Sulawesi, especially Wajo and Soppeng, highly relied on the Haramain network. Haramain alumni had a major influence on the development of traditional Islamic education in the form of halaqah (traditional teaching). For example, the halaqah center was formed in the early twentieth century at Salemo, Ajjakang/Mangkoso, Cabalu, and Wajo. Especially in Wajo KH. Muhibuddin or populary known as Ambo Emme, the initiator who encouraged KH. As'ad from Mecca to visit Sengkang Wajo in 1928, to teach about the Islamic values through halaqah developed by Ambo Emme. Halaqah had been changed into MAI (now the Islamic Boarding School of Asadiyah) which had produced a number of known scholars in building the halaqah and pesantren networks in the South Sulawesi region. They are, for example, KH. Daud Ismail from Soppeng who formed the YASRIB Islamic University Soppeng, KH. Yunus Martan in MAI-Wajo, KH. Abdurrahman Ambo Dalle from Wajo at MAI Mangkoso (now DDI), KH. Abduh Pabbaja from Sidenreng Rappang in DDI Ujung Lare and PP Al-Furqan, KH. Abdul Kadir Khalid MA from Wajo established MDIA Bontoala, KH. Asyri in developing the Darul Arqam Gombara Islamic Boarding School and Darul Aman.