This Author published in this journals
All Journal Al-Qalam
abd kadir ahmad
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

JIHAD versi SISWA abd kadir ahmad
Al-Qalam Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.273 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i2.313

Abstract

Pemahaman terhadap jihad oleh sebagian orang Islam lebih identik dengan tindak kekerasan, meskipun tidak sedikit umat Islam yang membahami jihad secara universal. kontroversi pemaknaan jihad yang diakibatkan oleh pernyataan-pernyataan dan bahkan kelakuan sebagian orang Islam telah menjadikan konsep jihad semakin membingungkan dan simpang siur, terutama pada era modern sekarang ini. Akibatnya pemahaman jihad menjadi warisan bagi generasi pelajar atau siswa di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan yang diberikan oleh siswa mengenai jihad? Apakah pemaknaan jihad tersebut terkait dengan pemahaman tentang kekerasan atas nama agama? Dengan demikian, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana siswa mengonstruksi pemahaman tentang jihad termasuk pandangan mereka terhadap tindak kekerasan atas nama agama. Penelitian ini dilakukan di Ternate dan Makassar. Kedua daerah ini memiliki sejarah kekerasan bernuansa agama. Makassar dengan kasus peledakan bom terhadap  sasaran yang dikaitkan dengan simbol kapitalisme global (khususnya AS) dan Ternate dengan sejarah konflik berdarah. Hasil penelitian bagian terbesar (63 persen) pemahaman siswa mengenai jihad bersifat puritanisme (fundamentalis sampai ekstrim). Sementara hanya sebagian kecil (18 persen) yang dapat dimaknai sebagai moderat (inklusif). Untuk kedua komunitas, kecenderungan puritanisme lebih kuat di kalangan siswa Ternate (70 persen) dan pandangan moderat hanya 13 persen. Sementara siswa di Makassar, meski tetap didominasi pemaknaan puritanisme (52 persen), kecenderungan pandangan moderat tidak terlalu rendah (27 persen). Pemaknaan siswa tentang jihad pada daerah kasus  didominasi oleh pandangan yang sempit dan lebih mengarah kepada pengertian qital. Hal itu dipahami dari penggunanaan term-term makna jihad sebagai perjuangan, pengorbanan, perang, mati syahid dan pembelaan agama (Islam). Hal ini berbeda dengan prinsip jihad sebagaimana dipahami dari Alquran dan tradisi Nabi. Tidak ada korelasi yang signifikan antara pemahaman jihad dengan sumber-sumber belajar siswa, termasuk sekolah. Hal ini dapat dipahami sebagai lemahnya peran sekolah dalam memberi pemahaman tentang ajaran Islam yang amat sentral tersebut. Pemahaman tentang jihad, dengan demikian, lebih ditentukan oleh konstruksi sosial. 
LITERASI ULAMA DAN WACANA KEISLAMAN AWAL ABAD KE-20 DI SULAWESI SELATAN Abd Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.382 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i1.702

Abstract

This paper aims to (1) explore the writings of ulama especially in the early 20th century in South Sulawesi, (2) identify the religious discourse that developed at the time, and (3) encourage the preservation of the spirit of literacy for present and future scholars. This writing is a literature study on the writing of Haji Ahmad Bone and Hajj Makka, published in 1938 and 1929. Analysis of the contents of the paper was carried out using the content analysis method. Analysis of the content of the paper is categorized into the major themes of Islamic teachings, namely akidah, sharia, and akhlak. Using these criteria, we will find out the early 20th century Islamic discourse trends. This paper finds scholars in South Sulawesi with a strong background in literacy tradition. The writings of Haji Ahmad Bone and Haji Makka show the end of that long history. Based on the three Islamic themes established, the theme of sharia dominates Islamic discourse in that era. This writing contributes to uncover legacy of scholars' writings up to the beginning of the 20th century. The task of the present and future scholars is to preserve the literacy tradition.