This Author published in this journals
All Journal Al-Qalam
Arifuddin Ismail
Balai Litbang Agama Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MAJELIS TAKLIM HID AYATULLAH DI PERUSAHAAN NON MUSLIM KUDUS Suatu Fenomena Kerukunan Umat Beragama Majlis Taklim of Hidayatullah in Non Muslim Company, Kudus a Phenomenon of Religious Harmony Arifuddin Ismail
Al-Qalam Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.71 KB) | DOI: 10.31969/alq.v17i2.110

Abstract

Tulisan ini merupakan ringkasan dari penelitian tentang fenomena kerukunan antar umat beragama diKudus, dengan menjadikan Majlis Taklim Hidayatullah di Perusahaan Nonmuslim sebagai sasaranpenelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada pendiri dan pengurus majlis taklim.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Majlis Taklim Hidayatullah sejak tahun 1990 telahmenjadi katalisator bagi terciptanya kerukunan umat beragama di Kudus, terutama di dalam perusahanPT. Djarum Kudus. Proses pembelajaran keagamaan di majlis lebih diorientasikanpada penguatan nalarkeagamaan para pekerja yang bersifat Islam damai. Kehadiran majlis ini diperusahaan nonmuslimmerupakan bagian dari tanggungjawab sosial dari perusahan untuk memenuhi kebutuhan spritual parakaryawan perusahaan.
KONSTRUKSI KEPESANTRENAN DI BANTAENG (Segenggam Semangat dan Idealism) Arifuddin Ismail
Al-Qalam Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.723 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i1.285

Abstract

Penyebaran pesantren memberi kontribusi positif terhadap kehidupan masyarakat secara luas, baik yang terkait dengan usaha pencerdasan  maupun yang terkait tatanan ke- hidupan sosial yang lebih kondusif. Gambaran ini diperoleh dari penelusuran di Bantaeng dengan menggunakan metode  pemetaan kapasitas. Pesebaran pesntren yang terjadi  merupakan  buah atau hasil dari kerja keras pesantren dengan modal semangat dan idealisme yang terus menerus meningkatkan diri (kapasitas), mengusung bendera pendidikan agama sebagai core (inti), dan menjadi pintu masuknya. Dari situ melakukan pengembangan yaitu pengembaraan kepada aspek-aspek lain, yang terkait dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
MEMBEDAH KERUKUNAN PASCA KONFLIK Refleksi Segregasi Pemukiman Muslim dan Nasrani di Ambon Arifuddin Ismail
Al-Qalam Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6825.92 KB) | DOI: 10.31969/alq.v23i1.382

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan refleksi “Kerukunan Umat Beragama di Ambon Maluku” dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Secara khusus penelitian ini focus pada “segregasi pemukiman antara Muslim dengan Nasrani pasca konflik di Ambon. Salah satu kasus konflik yang menggoncangkan Indonesia, bahkan dunia  adalah “Konflik Ambon”. Kejadiannya sudah berlangsung lebih  dua decade, dan  secara faktual di permukaan menunjukkan kehidupan yang aman dan damai. Tentu dengan  kebijakan  pemerintah yang dari awal melakukan “Segregasi Pemukiman” antara Muslim dengan Nasrani pasca konflik. Ternyata di balik kedamaian terselubung banyak hal, sebagai dampak dari “segregasi pemukiman,” yaitu: 1. Melemahnya solidaritas kultural, dan menguatnya solidaritas keagamaan pada masing-masing umat beragama; 2. Melanggengkan rasa trauma masyarakat terhadap konflik yang mengerikan, artinya dengan pengalaman konflik Ambon memunculkan dampak psychologis yang berkepanjangan, dan berefek pada susahnya memulihkan dan mengembalikan  kepercayaan (trust); 3 Interaksi yang terbangun bersifat formal dan semu di ruang-ruang public. Masing-masing komunitas menjalani kehidupannya sendiri-sendiri, bahkan merasa enggan untuk saling berkunjung, dan membangun komunikasi yang lebih intens, sehingga terjadi  jarak sosial di antara kedua komunitas; 4. Menciptakan sekat-sekat pemisah yang pada setiap komunitas memunculkan stigma negatif terhadap orang-orang yang berada di luar kelompoknya (the other),  konteks ini  terjadi ketegangan sosial yang sewaktu-waktu mencuat ke permukaan  menjadi “konflik terbuka.” Kondisi masyarakat seperti di Ambon mengundang perhatian yang lebih intens  guna membedah satu persatu fenomena psykososial yang berada pada titik mengkhawatirkan. Pilihan utama yang harus dilakukan adalah bagaimana mengkondisikan masyarakat yang di dalamnya terbangun interaksi yang intens dan rajutan kasih sayang secara ikhlas dan simultan untuk menggapai kehidupan yang kondusif dalam kedamaian yang abadi