This Author published in this journals
All Journal Al-Qalam
Risma Widiawati Rusli
Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGABDIAN PA’GANDENG DALAM MELAYANI KEBUTUHAN MASYARAKAT KOTA MAKASSAR 1997 – 2005 Risma Widiawati Rusli
Al-Qalam Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.726 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i2.328

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan pengabdian hidup pa’gandeng di Kota Makassar dalam kurun waktu 1997 – 2005, menjelaskan alasan sehingga pa’gandeng memilih untuk ma’gandeng sebagai mata pencaharian. beberapa alasan sehingga penulis memilih topik ini antara lain;  Pertama, menambah objek kajian pedagang informal yang ada di kota Makassar; dan kedua, pentingnya kehadiran para pa’gandeng di tengah-tengah masyarakat Kota Makassar sebagai akibat semakin bergesernya pola hidup masyarakat Kota Makassar, yang semakin lama semakin membutuhkan pelayanan serba cepat dari berbagai aspek pemenuhan kebutuhan kehidupan, termasuk kebutuhan akan sayur-mayur. Disajikan secara deskriptif analitis melalui 4 (empat) tahapan metode penelitian sejarah, yaitu pengumpulan sumber (heuristic), kritik data atau sumber, interpretasi, dan historiografi. Selain itu, digunakan juga teknik pengumpulan data melalui wawancara. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1997 – 2005, pa’gandeng kota Makassar berasal dari daerah Gowa dan Maros. 1997 sampai tahun 2000 awal masih marak ditemui pa’gandeng yang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi dalam melakukan aktivitas ma’gandeng sampai kemudian motor dapat dikredit secara mudah dan murah. Pa’gandeng yang menjadikan ma’gandeng sebagai mata pencaharian disebabkan oleh antara lain: faktor ekonomi, dan lingkungan.
KHAIDIR SANGNGAJI DIFABEL YANG MENDIRIKAN PESANTREN BABUSSA’ADAH BAJO KABUPATEN LUWU SULAWESI SELATAN (1957 –2019) Risma Widiawati Rusli
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.347 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.756

Abstract

“When there is a will, there will be a way”, this proverbs is held firmly by Khaidir Sangngaji, a person born with a disability from a simple family. Only determination and perseverance are the capital of advancing education in the area. In 1995 he began to demonstrate his leadership skills with his success in inviting the Bajo community to jointly build Islamic boarding schools. Based on this background, this research was conducted to reveal the biography of Khaidir Sangngaji and his struggle in the world of education. The study was conducted in Bajo Subdistrict, Luwu Regency, South Sulawesi, using the History method through an oral history approach. The results of the study showed that Khaidir Sangngaji who was born with disabilities with his arms and legs was stiff, had to fight hard to get an education. That condition led him to study in a pesantren in Java. In 1995, Khaidir Sangngaji returned to Luwu to serve in the Islamic Boarding School Datuk Sulaiman, while completing his undergraduate education. He then built a pesantren in his village, with the name Babussa'adah Bajo Modern Islamic Boarding School. Persuasive strategies carried out against regional leaders and the Luwu community and produces four important things, namely; 1) establishment of an organization of pesantren foundations, 2) fundraising for development 3) retrieval of strategic locations namely a level of Madrasah Tsanawiyah which was later transformed into Islamic boarding schools, and 4) bringing religious teachers to support pesantren. At present, Islamic boarding schools have cared for six levels of education, namely: Early Childhood Education (PAUD), Raudhatul Athfal, Ibtidaiyah Madrasah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, and Tahfidzul Quran.