Risa Nopianti
Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DARI RONGGENG GUNUNG KE RONGGENG KALER: PERUBAHAN NILAI DAN FUNGSI Risa Nopianti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.822 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i1.188

Abstract

AbstrakRonggeng gunung sebagai sebuah kesenian yang terlahir dari catatan penuturan sejarah yang panjang, merupakan kesenian khas yang menggambarkan kondisi dan identitas masyarakat di Kabupaten Ciamis, khususnya masyarakat yang berada di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari. Terjadinya perubahan zaman yang mendorong terjadinya perubahan budaya masyarakat, khususnya perubahan pada cara pandang dan berpikir masyarakat mengenai konsep hidup kekinian, merupakan latar belakang lahirnya konsep penelitian ini. Ronggeng gunung sebagai produk budaya dirasakan masyarakat pendukungnya sudah tidak dapat merepresentasikan keinginan masyarakat terhadap kebutuhan mereka akan hiburan. Maka dari itu terciptalah kesenian ronggeng kaler, yang dianggap mampu memenuhi hasrat masyarakat akan sebuah konsep hiburan yang benar-benar menghibur. Sekalipun pada praktiknya kesenian ini sedikit berbeda dengan kesenian ronggeng gunung yang telah ada sebelumnya, namun masyarakat setempat tetap percaya bahwa kesenian ronggeng gunung merupakan cikal bakal dari lahirnya kesenian ronggeng kaler. Kemunculan ronggeng kaler yang diadaptasi dari ronggeng gunung ini memungkinkan terjadinya perubahan fungsi dan nilai yang ada pada kesenian tersebut. Dari sakral ke profan, dari ritual ke hiburan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penulisan deskriptif analitik. AbstractRonggeng gunung as an art was born from long narrative history, it describes about the condition and identity of society in Ciamis regency, particularyCiulu village, Banjarsari district.  As time as goes by, the culture also changed, especially the alteration of the society viewpoint and thought nowadays, and it become the background of this research.  Ronggeng gunung as a cultural product can’t represent the will of the society in full filling the need for entertainment.  For that reason, come into being ronggeng kaler that can fill the passion of the society about entertainment that can amusing.  Even tough, this kind of art is a bit different from the original one.  The society believes ronggeng gunung is a pioneer of ronggeng kaler. The emergence of ronggeng kaler might also effect the alteration of function and values; from sacred to profane, ritual to entertain.  This research uses qualitative approach, and descriptive analytic method.
1 CINGCOWONG DARI SAKRAL KE PROFAN Risa Nopianti
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNE 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.28 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i2.145

Abstract

AbstrakCingcowong sebagai sebuah ritual tradisional yang berasal dari masyarakat agraris Desa Luragung Landeuh, Kabupaten Kuningan, merupakan wujud aktifitas kolektif masyarakat yang bersumber pada kepercayaan terhadap roh-roh gaib yang dipercaya memiliki kekuatan mampu mendatangakan hujan untuk mengatasi kekeringan, khususnya pada lahan pertanian yang disebabkan oleh kemarau berkepanjangan. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan masyarakat terhadap konsep keagamaan dan nilai-nilai spiritual, ritual Cingcowong yang dahulu dianggap memiliki nilai sakral, saat ini mulai luntur dan berganti dengan nilai-nilai yang bersifat profan. Pada perkembangannya saat ini Cingcowong tidak saja dianggap sebagai ritual sakral tetapi juga dianggap sebagai bentuk budaya yang bersifat hiburan karena telah bertansformasi dalam bentuk kesenian khususnya seni tari Cingcowong. Adanya perubahan paradigma terhadap nilai-nilai sakral ke profan dalam ritual Cingcowong oleh sebagian besar masyarakat, selain disebabkan oleh faktor eksternal perubahan fungsi, juga disebabkan oleh adanya faktor internal dalam ritual Cingcowong itu sendiri. Faktor internal tersebut berkaitan dengan perubahan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya, sehingga ritual Cingcowong menjadi komersial. Penelitian ini dilakukan melalui metode kualitatif dengan pemaparan deskriptif analitik untuk menghasilkan gambaran dan analisa lengkap terhadap fenomena yang diajukan. AbstractCingcowong is atraditional ritual of agrarian community in Desa (village) Luragung Landeuh, Regency of Kuningan. It is a manifestation of collective activities that has root in belief on spirits which is believed to have power to make rain during drought. As the community have more knowledge about religious concepts and spiritual values, cingcowong ritual which was considered sacred is beginning to vanish, turned into profane values. Today cingcowong is also considered as a form of entertaining culture due to its transformation into a kind of art, especially cingcowong dance. The switch of paradigm was caused by external factor in term of its function, and internal factors as well. The internal factors are related to changes in subsistence faced by the community sothat cingcowong has become commercial. The author conducted a qualitative research method with a brief descriptive analytics exposition to produce comprehensive overview and analysis of the phenomenon proposed.