Sariah Sariah
Balai Bahasa Jawa Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

COMMENTS IN FACEBOOK ABOUT OPPOSITE MEANINGS ON PRESIDENTIAL DEBATE (KOMENTAR DI FACEBOOK MENGENAI OPOSISI MAKNA DALAM DEBAT PRESIDEN) Sariah Sariah
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 18, No 1 (2020): METALINGUA EDISI JUNI 2020
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.314 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v18i1.479

Abstract

The opposition of meaning is part of the semantic relation which shows the existence of a meaningful relation or semantic relation between a word or another language unit in a text. This paper tries to scrutinize what types of the meaning opposition are used and how they create the image of the president and vice president candidates. The purpose of this paper is to reveal the word or phrase that is in opposition of meaning and its type as well as the images of president and vice president candidates being presented on Facebook. This study uses descriptive methods to describe the types and meanings and images of president and vice president candidates. The data were gained in the form of language elements such as opposing words and groups of words. They were collected from the comments on the first presidential and vicepresidential debate on Facebook from 17-31 January 2019. The result shows that the opposition found on the debate consists of absolute opposition, polar opposition, relational opposition, and hierarchical opposition bound by cohesion tools to connectthe semantical relations or coherence. The meanings obtained are those which contain elements of irony, insults, reproach which ultimately denigrates and overthrows the president and vice president candidates.AbstrakOposisi makna adalah bagian dari relasi makna yang menunjukkan adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa yang lain dalam suatu teks. Masalah yang menjadi fokus tulisan ini adalah bagaimana jenis dan makna oposisi yang digunakan dan bagaimana makna oposisi tersebut membangun citraan pasangan calon capres dan cawapres. Tujuan tulisan ini adalah mengungkapkan jenis dan makna oposisi serta citraan capres dan cawapres di media sosial Facebook. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk memaparkan jenis dan makna serta citraan capres dan cawapres. Data penelitian berupa unsur lingual berupa kata dan kelompok kata yang beroposisi. Sumber datanya adalah komentar pada Debat I Capres dan Cawapres di media sosial Facebook dari tanggal 17—31 Januari 2019. Temuannya adalah oposisi Debat I Capres dan Cawapres terdiri atas oposisi mutlak, oposisi kutub, oposisi hubungan, dan oposisi hierarki yang diikat oleh alat kohesi untuk menghubungkan jaringan makna atau koherensi. Makna yang diperoleh adalah makna-makna yang mengandung unsur ironi, hinaan, dan celaan yang ujungnya adalah merendahkan serta menjatuhkan pasangan calon presiden dan wakil presiden.
DWILINGGA SALIN SUARA DALAM BAHASA INDONESIA Sariah Sariah
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.38 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.198

Abstract

This article is focusing on reduplication with sound change (dwilingga salin suara) in Indonesian language to find out its types, meanings, and uses in sentences. It aims at describing them. The research data is sourced from the Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV by using  the descriptive methods. Data acquisition is realized by using the technique to see and note. Data analysis uses interactive model: data reduction, data presentation, and verification. This article uses several approaches, namely Kridalaksana’s (2009: 89—90), Verhaar’s (2001: 80), and Alwi et al.’s (2003: 191,132,238) about reduplications in Indonesia, especially the ones that are followed by the sound change (dwilingga salin suara). The result shows that it has four types, namely (1) the change of vowal phonemes; (2) the change of consonant phonemes; (3) the addition of lexemes, and (4) the addition of infixes. The reduplication with sound change of the change of vowal phonemes is dominated by the forms of a-i, a-u, and oa-ai. The meanings indicate variety, sound mimic, quality, and situation.Penelitian ini mengkaji dwilingga salin suara dalam bahasa Indonesia dengan pokok masalah jenis, makna, dan penggunaannya dalam kalimat. Tujuan penelitian ini menjelaskan jenis, makna, dan penggunaan dwilingga salin suara. Data penelitian bersumber pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV. Data diperoleh dengan metode simak, teknik catat. Analisis data menggunakan model interaktif, yaitu reduksi data, sajian data, dan verifikasi.Ancangan penelitian ini menggunakan konsep dwilingga salin suara dalam bahasa Indonesia seperti yang diajukan oleh Kridalaksana (2009: 89--90),Verhaar (2001: 80) dan Alwi et al. (2003: 191,132, 238). Kajian ini menemukan bahwa dwilingga salin suara terdiri atas empat bentuk, yaitu (1) perubahan fonem vokal, (2) perubahan fonem konsonan, (3) penambahan leksem, dan (4) penambahan infiks. Dwilingga  salin suara dengan perubahan fonem vokal didominasi bentuk a-i, a-u, dan o a – a i. Dwilingga salin suara dapat bermakna banyak/bermacam-macam, tiruan bunyi, kualitas, dan keadaan.