AbstractSasak ethnic community have a unique addressingcalling system. It does not only consist of a name given by parents. They also have a new name after getting married and another name as a nick name given by others in the society. The nick name was given based on subjective assessments by others. It has to fully understand Sasak ethnic social context to compose a nick name. Some of the personal addressing system have linguistic patterns but some other are arbitrary. This paper uses descriptive qualitative method. Data were collected via interviews and recordings in different locations based on Sasak dialectal spread. The names are slightly different from its original form through phonological change called paragog, prothesis, epenthesis, mixing, and arbitrary.AbstrakMasyarakat Sasak memiliki sistem panggilan yang unik. Sistem panggilan dalam masyarakat Sasak tidak hanya menggunakan nama diri yang diberikan oleh orang tua, tetapi juga perubahan nama karena status perkawinan dan nama panggilan pemberian orang lain atau masyarakat sekitarnya. Pemberian nama terakhir sebagai panggilan diberikan berdasarkan pandangan seseorang atau masyarakat secara subjektif. Penggunaan nama sebagai sistem panggilan harus memahami konteks sosial etnis Sasak. Nama panggilan ini ada yang dapat ditelusuri polanya secara kebahasaan dan ada juga yang arbitrer (manasuka). Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk melakukan kajian ini. Data dikumpulkan menggunakan metode wawancara dan rekam di beberapa daerah pengamatan dengan mempertimbangkan sebaran dialektal bahasa Sasak. Nama panggilan yang ditemukan mengalami perubahan bunyi dari bentuk aslinya. Perubahan bunyi yang terjadi berbentuk paragog, protesis, epentesis, campuran, dan arbitrer.