Sri Chiirullia Sukandar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

JEJAK BUDAYA PENUTUR AUSTRONESIA PADA SITUS KAMPUNG FORIR, FAKFAK (The Last Vestiges of The Austronesian Culture in Kampung Forir Site, Fakfak) Sri Chiirullia Sukandar
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2106.121 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i1.33

Abstract

Research on Sosoraweru cave site and Kampung Forir site, shows a number of issues Austronesian context. There are two issue to be discussed in this article, namely: (1) Traces of Austronesian speakers in Kampung Furir; (2) Function Sosoraweru cave site in the past. To explore both of these issues used the method of observation, excavation, and literature and analyzed based on contextual analysis. The baseline data obtained and analyzed in the form of artifacts and ekofak the influence of Austronesian culture in the southwestern coast of Papua. Based on the data and the context concluded that traces the influence of Austronesian in Sosoraweru cave include: red slip pottery fragments, the system of burial niches and frescoes which show the influence of Austronesian cultures. In addition, based on the context of the locus is known that the Sosoraweru cave site and Kampung Forir site serve as a residential in the past.AbstrakPenelitian di Situs Kampung Forir dan Gua Sosoraweru memperlihatkan sejumlah konteks isu Austronesia. Ada dua masalah yang akan dibahas dalam artikel ini, yaitu: (1) Jejak penutur Austronesia di Kampung Furir; (2) Fungsi situs Gua Sosoraweru di masa lalu. Untuk mendalami kedua masalah tersebut, digunakan metode observasi, ekskavasi, dan studi pustaka. Data-data pokok yang diperoleh dianalisis berdasarkan analisis kontekstual, berupa artefak dan ekofak untuk melihat adanya pengaruh budaya Austronesia di kawasan pesisir baratdaya Papua. Berdasarkan data dan konteksnya disimpulkan bahwa jejak pengaruh Austronesia di Gua Sosoraweru meliputi: fragmen gerabah berslip merah, sistem penguburan ceruk dan lukisan dinding yang menunjukkan adanya pengaruh budaya Austronesia. Selain itu, berdasarkan konteks lokus temuan diketahui bahwa Gua Sosoraweru dan kawasan Kampung Forir berfungsi sebagai hunian di masa lalu
PULAU ABIDON: POTENSI ARKEOLOGI DI KAWASAN PULAU TERLUAR RAJA AMPAT Sri Chiirullia Sukandar
Naditira Widya Vol. 14 No. 2 (2020): Naditira Widya Volume 14 Nomor 2 Oktober Tahun 2022
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Abidon merupakan suatu pulau karang berbukit-bukit yang berada di kawasan pulau-pulau terluar Raja Ampat di Papua Barat bagian utara. Tulisan ini membahas mengenai potensi arkeologi yang terdapat di situs gua-gua di Pulau Abidon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami potensi arkeologi yang terdapat di Pulau Abidon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat eksploratif. Berdasarkan data dan hasil analisis diindikasikan adanya persentuhan budaya asing yang masuk ke kawasan Papua. Potensi arkeologis tersebut dibuktikan dengan tinggalan fragmen gerabah dan lukisan dinding gua. Gambar arang di Gua Abidon 3 menggambarkan kontak budaya dengan penutur bahasa Austronesia. Lebih lanjut, hunian gua dibuktikan dengan temuan berupa alat-alat dari batu, tulang, dan kerang, fragmen gerabah, dan perhiasan kerang. Tinggalan budaya di gua-gua pulau Abidon diduga merupakan alat-alat penunjang kehidupan para penghuninya. Pulau Abidon is a hilly coral island located in the outer islands of Raja Ampat in the northern region of Papua Barat. This research discusses the potency of archaeology in cave sites on Pulau Abidon. This research was aimed to comprehend the archaeology of Pulau Abidon. The method used in this research is exploratory. Based on the data and analysis results, it is indicated that there was a cultural contact with a foreign culture that entered the Papua region. This potency of archaeology was evident by potsherds and rock arts. The charcoal drawings in Gua Abidon 3 illustrate a cultural contact with the Austronesian-language speakers. Furthermore, the cave habitation was evident also by the discovery of tools of stone, bones and shells, and shell ornaments. The cultural heritage in the caves on Pulau Abidon is suggested to be a means of supporting the life of the inhabitants.