Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GUA TOGECE: JEJAK HUNIAN AWAL MANUSIA DI LEMBAH BALIM PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA: Togece Cave: Traces of Early Human Settlements in Balim Valley Central Mountains of Papua Erlin Novita Idje Djami
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3983.406 KB) | DOI: 10.24832/papua.v12i1.270

Abstract

Kawasan Lembah Balim secara geografis merupakan daerahyang sulit dijangkau, namun di daerah tersebut diperkirakansudah ada komunitas manusia yang hidup menetap denganmengandalkan suatu bentuk sistem bercocoktanam. Adapunkomunitas yang menempati wilayah ini merupakan keturunandari imigran awal yang dimungkinkan telah masuk ke wilayahPapua sejak 50 000 tahun yang lalu, walaupun belum didukungoleh bukti-bukti arkeologis yang mendukung keberadaan imigrantersebut. Untuk mengungkapkan tentang awal penghunianmanusia di daerah tersebut, maka dilakukan kegiatan ekskavasidi situs Gua Togece sebagai tahap awal. Hasil penggalian di situsini adalah temuan sejumlah materi arkeologi berupa alat batu,alat tulang, alat kerang, alat dari kayu, sampah tulang binatang,sampah kerang, capit udang, tulang manusia, biji pohon, danarang sisa pembakaran. Temuan-temuan tersebut berada dalamempat lapisan tanah dengan tingkat kepadatan pada setiaplapisannya berbeda-beda, hal ini sebagai gambaran bahwa bentukpenguhunian gua tidak terjadi terus menerus, namun bentukaktivitas manusianya cenderung sama. Dari hasil dating carbonAMS terhadap sampel arang diketahui bahwa manusia sudahmenghuni gua tersebut sudah sejak 6000 tahun lalu.
MEGALITIK GUNUNG SROBU DALAM KONTEKS BUDAYA MELANESIA Erlin Novita Idje Djami
AMERTA Vol. 38 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Megalithic Of Gunung Srobu In Melanesian Cultural Context. Megalithic is one of the cultural elements that is discovered worldwide, and it is often used as evidence for cultural hyperdiffusion theory. Such a cultural element is also present in the Melanesian region. However, there is still debate among scholars as to where it comes from and when it was introduced to this area. In this context, the recently excavated megalithic site in Gunung Srobu in Youtefa Bay, Jayapura, Papua may shed light on this matter. This paper is intended to describe the megalithic findings of Gunung Srobu and then compare them with other megalithic findings in several sites in the Melanesian region. The comparative study aims to find out the similarities and differences between Gunung Srobu megalithic and the other Melanesian megalithic as well as to know the position of Gunung Srobu in the Melanesian regional. The method used includes surveys, excavations, and literature studies. The result shows that Gunung Srobu is a very complex megalithic site in the region with very varied shapes and types. The date from around the 4th Century AD put Gunung Srobu as the oldest megalithic site in the region which is likely to occupy a central position in the megalithic distribution in the Melanesian Region. Abstrak. Megalitik merupakan salah satu unsur budaya yang ditemukan sangat luas di dunia dan sering menjadi bukti bagi teori hiperdifusi. Unsur budaya megalitik juga ditemukan di kawasan Melanesia. Namun, banyak ahli masih memperdebatkan asal-usul dan waktu persebarannya. Dalam konteks ini, temuan megalitik yang baru-baru ini ditemukan dalam penggalian di situs Gunung Srobu, Teluk Youtefa, Papua, mungkin dapat menjelaskan masalah ini. Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan temuan megalitik di Gunung Srobu dan membandingkannya dengan temuan megalitik di beberapa situs lainnya di kawasan Melanesia. Tujuannya adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan unsur megalitik antara yang ada di Gunung Srobu dan di situs Melanesia lainnya, serta mengetahui kedudukan megalitik Gunung Srobu di kawasan Melanesia. Metode yang digunakan mencakup survei, ekskavasi, dan studi pustaka. Hasilnya menunjukkan bahwa Gunung Srobu merupakan situs megalitik yang sangat kompleks di kawasan itu dengan bentuk dan jenis yang sangat bervariasi. Pertanggalan yang berasal dari sekitar abad ke-4 M menempatkannya sebagai megalitik tertua yang kemungkinan menempati posisi sentral dalam persebaran megalitik di kawasan Melanesia.
TIPOLOGI DAN MAKNA TINGGALAN MEGALITIK DI PESISIR PANTAI UTARA KABUPATEN JAYAPURA Erlin Novita Idje Djami
AMERTA Vol. 35 No. 1 (2017)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Typology and Meaning of Megalithic Remains in the North Coast of Jayapura Regency. Megalithic remains are a form of manifestation of social and cultural events in the past. The existence of megalithic findings was encountered in the northern coast of Jayapura regency. Judging from their forms, they are quite diverse and served as a symbol that explains the basis of life of the people of Papua. In respect of this, it is important to reveal the forms, functions, and meanings of the megalithic remains contained in them. The aim of this research is to determine the forms, functions, and meanings of the megalithic remains that represent nation’s identity. Data were collected through literatures, observation of megalithic objects, and interviews with informants. The result of the study on stone seats, menhirs and menhir statues, stone jars, Tajaho Rock, Ancestor Rock, Yendaepiwai Rock, Batu Permen (candy stone), Batu Sukun (breadfruit stone), Batu Lingkar (stone enclosure), Haby pain stove, and Somda Rock, as well as the folklores about those cultural objects reveal that the remains were functioned as seats, media of ceremonies, proof of ownership of indigenous territories, marks of historical origin, place for public discussion, a place that tells a story, a symbol of the ancestors, and historical evidence. The diversity of the megalithic findings is a symbol of their human supporters, which contains the meaning of life as the nation’s cultural character. Keywords: Megalithic remains, Form, Function, Meaning, Northern coastal regency of Jayapura Abstrak. Tinggalan megalitik merupakan suatu bentuk manifestasi dari peristiwa sosial budaya masyarakat masa lampau. Keberadaan temuan megalitik banyak ditemui di pesisir pantai utara Kabupaten Jayapura. Jika dilihat dari bentuknya, temuan itu cukup beragam dan merupakan simbol yang menjelaskan dasar kehidupan orang Papua. Sehubungan dengan itu, menjadi penting untuk mengungkapkan bentuk tinggalan megalitik tersebut, baik fungsi maupun makna yang terkandung didalamnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui bentuk, fungsi, dan makna tinggalan megalitik yang menggambarkan jati diri bangsa. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi objek megalitik, dan wawancara. Hasil penelitian bentuk tinggalan megalitik berupa kursi batu, menhir, dan arca menhir, Batu Tempayan, Batu Tajaho, Batu Nenek Moyang, Batu Yendaepiwai, Batu Permen, Batu Sukun, Batu Lingkar, Tungku Api (haby pain), dan Batu Somda, serta cerita rakyat yang melingkupi objek budaya tersebut. Tinggalan tersebut berfungsi sebagai tempat duduk, media upacara, bukti kepemilikan wilayah adat, tanda asal sejarah, tempat musyawarah, tempat yang bercerita, simbol nenek moyang, dan bukti sejarah. Keragaman temuan megalitik tersebut merupakan simbol manusia pendukungnya, yang mengandung makna kehidupan sebagai karakter budaya bangsa. Kata Kunci: Tinggalan megalitik, Bentuk, Fungsi, Makna, Pesisir utara Kabupaten Jayapura