Kestabilan terowongan menjadi hal yang krusial dalam mendesain terowongan. Stabilitas terowongan dipengaruhi oleh kondisi batuan di sekitar terowongan. Karena kompleksitas dan ketidakpastian yang ada di alam, observasi dan interpretasi yang cermat tentang apa yang dapat diukur di lapangan menjadi prasyarat bagi para insinyur geoteknik untuk melakukan pekerjaan konstruksi yang aman. Salah satu metode yang digunakan yaitu Metode Convergen-Confinement (CCM), yang berupa metode observasi dengan pendekatan standar untuk analisis awal dari perpindahan yang terjadi di batas galian terowongan dengan tekanan penyangga yang dibutuhkan untuk mencegah terjadinya perpindahan tersebut. Pengukuran perpindahan dengan menggunakan alat total station untuk memudahkan kegiatan pemantauan pada dinding dan atap terowongan. Perpindahan yang terjadi pada batuan Breksi Vulkanik dari hasil pemantauan di lapangan 1,9 mm untuk dinding kiri-kanan dan atap sedangkan untuk hasil perhitungan perpindahan yang terjadi pada pada massa batuan setelah disangga adalah 1,2 mm dan 1,45 mm (titik equilibrium). Perpindahan yang terjadi pada batuan Claystone dari hasil pemantauan di lapangan 5,5 mm untuk dinding kiri-kanan dan atap sedangkan untuk hasil perhitungan perpindahan yang terjadi pada pada massa batuan setelah disangga adalah 3,5 mm dan 4 mm (titik equilibrium).