Krisis harga beras yang terjadi pada tahun 2008 merupakan fenomena yang tidak pernah diduga akan berkembang begitu cepat. Harga beras mengalami kenaikan sekitar 3 kali lipat hanya dalam waktu beberapa bulan. Seperti sebuah reaksi berantai, situasi tersebut direspon cepat oleh banyak negara untuk mengamankan kebutuhan pangan dalam negeri dengan cara membatasi sampai melarang ekspor atau berusaha membeli beras dalam waktu cepat meskipun pada saat harga tinggi. Dampaknya, kekalutan pada pasar beras menyebar cepat menjadi masalah global yang berakibat pada kenaikan harga beras domestik dan inflasi yang tinggi, kepanikan dan masalah sosial. Hanya sedikit negara yang mampu terbebas dari krisis harga beras tersebut. Salah satunya adalah Indonesia. Ada tiga faktor penting yang berperan dalam ketahanan pangan dan stabilitas harga beras di pasar domestik. (1). Kebijakan perberasan yang mencakup dua hal yaitu (i). konsistensi kebijakan perberasan untuk memperkuat ketahanan pangan, peningkatan produksi, pengendalian harga serta jaminan akses pangan bagi keluarga miskin serta (ii). respon kebijakan yang dilakukan pemerintah pada awaltahun 2008 dalam menghadapi krisis harga beras global antara lain melalui kebijakan fiskal, tambahan penyaluran beras kepada keluarga miskin serta pemberian insentif untuk peningkatan produksi. (2). Penyediaan beras dalam negeri yang cukupakibat keberhasilan peningkatan produksi beras tahun 2008 yang mencapai 5,46%. (3). Keberhasilan BULOG dalam mencukupi stok beras dari dalam negeri. Dengan pengadaan yang mampu mencapai rekor 3,2 juta ton, memberi kontribusi positif untuk menjamin akses pangan bagi masyarakat, menjaga stabilitas harga beras dalam negeri serta menekan spekulasi. Tersedianya stok beras BULOG yang cukup dan merata di seluruh daerah memberikan sinyal positif pada pasar dalam negeri tentang kemampuan pemerintah menjaga stabilitas dan ketahanan pangan dalam negeri yang pada akhirnya mengurangi spekulasi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.