Pemahaman rantai pasokan (supply chain) kedelai dari hulu sampai ke hilir merupakan prasyarat bagi pelaku pasar agar mampu menguasai perdagangan kedelai. Dengan pemahaman tersebut, pelaku akan lebih mampu bersaing di pasar lokal, antar pulau maupun perdagangan internasional. Beberapa faktor perlu dikenali yaitu : karakter pelaku perdagangan kedelai (petani, pedagang kecil/ besar); faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaran seperti kualitas kedelai, harga jual, margin usaha, dan peran setiap kawasan sentra produksi dalam memasok pasar kedelai nasional. Sistem pemasaran kedelai berkembang karena dipengaruhi oleh perilaku pedagang besar, pedagang kecil maupun pengrajin. Kekuatan pelaku pasar tertentu sering menyulitkan berkembangnya sistem perdagangan yang adil dan merata. Rantai pasokan kedelai diidentifikasi untuk mengetahui peluang usaha bagi pelaku baru dan untuk membantu konsumen tertentu, industri kecil dan pengrajin yang dirugikan akibat lonjakan harga atas permainan oknum pelaku tertentu. Pelaku pasar yang bermoral akan senantiasa memberikan harga yang terjangkau dengan kualitas yang memenuhi persyaratan usaha industri. Pelaku baru akan berhasil apabila memahami supply chain komoditas kedelai di sentra produksi Jatim, Jateng, dan NTB yang merupakan penghasil utama kedelai lokal dan sekaligus pasar utama kedelai nasional. Tulisan pertama ini berupaya memotret rantai pasokan kedelai di Jatim untuk memberikan gambaran tentang praktek perdagangan kedelai yang terjadi di pasar. Daerah produsen tersebut disurvei untuk mengetahui sejauh mana mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dan perlunya tambahan kedelai dari daerah lain atau impor. Margin pemasaran juga disinggung untuk melihat besaran yang diterima oleh setiap pelaku dalam rantai pasokan komoditas kedelai sebagai acuan pengembangan usaha.