Melta Rini Fahmi
Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar, Depok

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RESPON UDANG WINDU ( Penaeus monodon Fabr.) TERHADAP ANTIGEN WSSV YANG DIINAKTIVASI DENGAN FORMALDEHID Melta Rini Fahmi; Martin B. Malole
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.828 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.77-86

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon udang windu (Penaeus monodon) terhadap pemberian antigen virus WSSV (White Spot Syndrome Virus) yang diinaktifkan dengan menggunakan formaldehid. Penelitian dibagi menjadi dua tahapan, tahapan pertama yaitu menentukan nilai VID50 (Virus Infective Doze) dengan Rancangan Acak Lengkap, tahap kedua untuk melihat pengaruh pemberian virus WSSV yang diinaktifkan dengan formaldehid terhadap respon imunitas, tingkah laku, dan tingkat sintasan. Pada tahap kedua penelitian dilakukan secara faktorial, faktor yang digunakan adalah konsentrasi virus terdiri atas 2 level serta konsentrasi formaldehid yang terdiri atas 3 level. Masing-masing kombinasi di atas dibuat sebanyak 6 kali, yang digunakan untuk 3 kelompok penelitian yaitu kelompok tanpa diuji tantang, diuji tantang dilakukan setelah 14 hari, dan uji tantang dilakukan setelah 21 hari, dilaksanakan sebanyak 2 kali ulangan. Untuk semua kelompok percobaan respons udang paling sensitif berupa berenang ke permukaan terjadi setelah 1 jam perlakuan diberikan, diikuti oleh penurunan aktivitas dan penurunan nafsu makan. Tingkat kerusakan organ paling tinggi terdapat pada kelompok penelitian ke-2 (uji tantang setelah 14 hari). Untuk kelompok 1 (divaksinasi) kondisi organ hampir normal, hal ini menandakan virus berhasil dilemahkan dan mampu memacu timbulnya antibodi. Tingkat sintasan udang lebih tinggi setelah diuji tantang dibandingkan yang tidak divaksinasi.The purpose of the research was to determine response of black tiger shrimp (Penaeus monodon) toward formaldehyde inactivated White Spot Syndrome Virus (WSSV).The study was divided into two phases, the first phase was to determine the VID50 (Virus Infective Doze) using Completely Randomize Design, the second phase was to determine of effectiveness of inactive WSSV antigen on the immune response of Penaeus monodon, behavior and pathological respond of Penaeus monodon larvae. VID50 value determined during research was 10-5. The second research was carried using factorial design. The factors involved two levels of virus and three levels of formaldehyde concentration, with two replicates and three groups. The results indicated that for all experiment groups, the most sensitive response of shrimp were swimming to the surface at 1 hours after treatment, following by decreased activity and anorexia. The highest degree of organ damage was found on 2 group experiment (challence test group after 14 days). Organ condition for group 1 (vaccination) almost normal, indicated that virus has been able to stimulate immune response. Degree of survival was increase after challenged test rather than non vaccinated.
POTENSI MAGGOT UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN STATUS KESEHATAN IKAN Melta Rini Fahmi; Saurin Hem; I Wayan Subamia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.926 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.221-232

Abstract

Penggunaan maggot sebagai pakan alternatif ikan telah dikaji di Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot merupakan larva serangga black soldier (Hermetia illusence) yang dapat mengkonversi material organik menjadi biomassanya. Salah satu keunggulan maggot adalah dapat diproduksi dalam berbagai ukuran, sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan maggot pada suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan dan mempertahankan kehidupannya. Produksi maggot pada ukuran kecil dimulai dari penyediaan telur, penetasan, dan pembesaran dalam media PKM (Palm Kernel Meal) atau bungkil kelapa sawit, pemanenan dan penyimpanan dalam suhu rendah. Nilai nutrisi maggot pada umur 6-7 hari adalah protein: 60,2%; lemak: 13,3%; abu: 7,7%; karbohidrat: 18,8%. Percobaan pemanfaatan maggot sebagai suplemen pakan diujikan terhadap ikan Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker) ukuran 2,0 ± 0,2 g. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemberian maggot memberikan pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik. Dampak penambahan maggot pada ikan terlihat signifikan terhadap gambaran darah ikan yang menunjukkan daya tahan tubuh ikan yang lebih baik.Maggot utilization as fish feed alternative has been studied at Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot is an insect larvae of black soldier (Hermetia illusence) that can convert organic material to its body biomass. One of the advantages in maggot culture is that it can be produced in different sizes according to fish requirement. Keeping maggot at low temperature can delay its growth while keeping it alive. Production of small size maggot starts from eggs preparation, hatching, and rearing in media of PKM (Palm Kernel Meal) or coconut oil cake of palm, cropping and then keeping it in low temperature. Nutritional value of maggot at the age of 6-7 days is as follows: protein, 60.2%, fat; 13.3%, ash; 7.7%, carbohydrate; 18.8%. Trial feeding using maggot as feed supplement was done on Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker) sized 2.0 ± 0.2 g. The result showed that maggot gave significant growth and survival rate to fish specimen. Blood configuration analysis showed that the maggot supplement has also contributed to a significant increase of body immunity of fish specimen.