Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Dampak Lingkungan Global dari Kegiatan Keramba Jaring Apung melalui Life Cycle Assessment (LCA) Tri Heru Prihadi; Erlania Erlania; Iswari Ratna Astuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1900.967 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.263-273

Abstract

Perubahan iklim global yang berlangsung saat ini memberikan pengaruh pada berbagai bidang, termasuk perikanan yang menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan perairan. Hal ini berdampak pada muncul dan menyebarnya berbagai penyakit ikan, menurunnya laju pertumbuhan organisme perairan, bahkan hingga menimbulkan kematian massal ikan. Namun hal ini belum sepenuhnya dapat diatasi oleh para ilmuwan tanah air, bahkan bisa dikatakan baru sebagian kecil saja. Penerapan Best Management Practice (BMP) dengan aplikasi Life Cycle Assessment (LCA) akan sangat berarti dalam upaya penerapan perikanan budidaya berkelanjutan, dengan model pengelolaan kuantitatif. Dalam hal ini metode LCA secara kuantitatif merupakan pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi kuantitas dan kategori dampak lingkungan akibat kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA) melalui LCA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan budidaya di KJA menimbulkan dampak yang signifikan terhadap lingkungan perairan. Dari berbagai faktor yang berperan dalam kegiatan budidaya KJA, pakan ikan merupakan faktor yang paling dominan dalam menghasilkan dampak lingkungan global (di atas 70%), berupa pemanasan global, penurunan jumlah sumberdaya abiotik, eutrofikasi, penipisan lapisan ozon, toksisitas pada manusia, dan penurunan jumlah keanekaragaman hayati. Dari faktor pakan tersebut, unsur yang paling berpengaruh dalam menghasilkan dampak lingkungan adalah soybean Brazil dan winter wheat, sehingga perlu dicari alternatif bahan untuk mensubstitusi kedua unsur tersebut. Demikian juga faktor-faktor lainnya (seperti: polystyrene foams, drum plastik, bambu, jaring, besi, skala budidaya, dan lain-lain) mempunyai peranan terhadap dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan perairan.Global climate change has been affecting many sectors, including fisheries causing aquatic environment degradation such as fish disease outbreaks, decreasing growth rate of fish and other aquatic organisms, and further, may cause fish mass mortality. Recently these conditions have not fully solved by Indonesian scientists. Application of Best Management Practice (BMP) with Life Cycle Assessment (LCA) using quantitative model is the best way for implementing a Sustainable Aquaculture. This case was the first attempt of using the quantitative LCA in Indonesia. This research was conducted to quantify and evaluate environmental aspects that were affected by floating net cage (KJA). The result showed that fish culture in KJA contributed significant impacts to the aquatic environment. From many factors of KJA, feed was the most dominant factor that caused the global environmental impact (above 70%), in form of global warming potential, abiotic depletion, eutrophycation, ozone depletion potential, human toxicity, and biodiversity depletion. Feed consist of many substances. Soybean Brazil and winter wheat were the major substances that brought out the most environmental impact. Thus, it is important to find alternative materials to substitute these substances. Other factors of KJA (plastic drums, polystyrene foam, bamboo, steel, net, farming scale, etc.) also affected the quantity and kind of impacts to aquatic environment.
EVALUASI DAN STATUS PERKEMBANGAN USAHA BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI DANAU MANINJAU, SUMATERA BARAT Rasidi Rasidi; Erlania Erlania; Anjang Bangun Prasetio
Media Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.939 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.1.2010.51-56

Abstract

Kegiatan budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Maninjau, Sumatera Barat sudah berkembang pesat. Kegiatan penelitian telah dilakukan pada tahun 2009 dengan metode Parcipatory Rural Apraisal (PRA). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi dan mengetahui status perkembangan budidaya ikan yang ada di Danau Maninjau dilihat dari aspek teknis budidaya dan kelayakan ekonomis usaha budidayanya. Berdasarkan evaluasi teknis budidaya, sebagian besar ikan yang dipelihara adalah ikan nila dengan sistem KJA tunggal, pemberian pakan dengan sistem pompa, dan nilai FCR rata-rata pada budidaya ikan nila sebesar 1,61. Manajemen budidaya yang diterapkan oleh pembudidaya relatif masih sederhana, yang terlihat dari penempatan KJA yang sebagian besar di pinggir danau dan pemberian pakan yang belum sesuai cara budidaya yang baik dan benar (CBIB). Berdasarkan analisis kelayakan usaha, budidaya ikan dalam KJA tunggal di Danau Maninjau pada saat dilakukan penelitian ini, masih tergolong layak untuk dilakukan. Tetapi tidak disarankan untuk pengembangan kegiatan budidaya dengan sistem KJA tunggal, karena pakan yang terbuang ke perairan relatif lebih banyak sehingga tidak ramah lingkungan. Alternatif kebijakan yang perlu diterapkan oleh pemerintah setempat dalam pengelolaan perikanan budidaya di Danau Maninjau adalah kebijakan yang mengarah kepada penerapan manajemen budidaya yang sesuai kaidah CBIB, pengaturan kembali tata letak KJA, untuk permodalan diperlukan peran serta pemerintah daerah untuk pembentukan koperasi pembudidaya sehingga dapat membantu permodalan dengan memberikan kredit dengan bunga rendah. Opsi-opsi kebijakan tersebut kiranya dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan dan keberlanjutan kegiatan budidaya ikan di Danau Maninjau.
PROSPEK PEMANFAATAN MIKROALGA SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF DAN BAHAN FORTIFIKASI PANGAN Erlania Erlania
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.553 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.59-66

Abstract

Perubahan iklim global dan krisis ekonomi yang berkepanjangan memicu terjadinya kondisi kelangkaan bahan pangan di masyarakat. Selain itu, juga menyebabkan harga bahan pangan meningkat cukup tinggi. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah. Kecukupan pangan dan gizi sebagai hak dasar manusia saat ini mungkin sangat sulit untuk dipenuhi. Pada umumnya masyarakat terbiasa mengikuti tradisi dari leluhurnya, termasuk dalam hal konsumsi makanan, baik dari pola makan, cara pengolahan bahan makanan maupun dalam pemanfaatan sumber-sumber bahan makanan itu sendiri. Mikroalgae, atau yang lebih dikenal dengan fitoplankton, sudah mulai diperkenalkan sebagai sumber makanan sejak beberapa waktu yang lalu. Namun respons masyarakat terhadap sumberdaya ini terlihat kurang begitu antusias. Padahal mikroalga memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik, bahkan lebih baik dibandingkan makanan yang biasa dimakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Di antara jenis-jenis mikroalga yang potensial dan sudah cukup dikenal sebagai sumber pangan antara lain Spirulina sp., Chlorella sp., dan Dunaliella sp. Selain dapat digunakan sebagai bahan pangan, mikroalga dapat juga dimanfaatkan untuk fortifikasi bahan pangan yang sudah biasa dikonsumsi masyarakat. Diharapkan di masa yang akan datang kecukupan pangan dan gizi masyarakat dapat terpenuhi sehingga SDM yang dihasilkan juga lebih berkualitas.