This Author published in this journals
All Journal Sawerigading
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BAHASA DAN USIA: HUBUNGANNYA DENGAN PILIHAN STRATEGI BERTUTUR DALAM BAHASA BUGIS Nuraidar Agus
SAWERIGADING Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v19i2.433

Abstract

This paper is a sociopragmatic study related to the correlation between age and communication strategy chosen in Buginese language. This paper aims at describing the differences of personality choice in communication strategies used by male and female speakers on the situation and some kind of speech act. The findings explain that there are differences and similarities of the strategies choice used by younger speakers with the adult and old speakers. The differences in strategy choice more appear on commanding, prohibiting, praising, and requesting. While, the similarities more appear on the type of communication strategy chosen on praising, accepting, and refusing. Furthermore, these findings explain the significant influence of age on choosing communication strategy to speak more polite. The result of regression test explains that the more dominant influence is adult female speakers with a 0.00 significance value 0.05 or a coefficient (X2 ) = 6.5134. It means that the more mature a person, the more he or she attempts to choose more polite communication strategy. In addition, the findings also shows that in speaking Buginese the adult female speakers prioritize positive attitude to speak politely whether to the younger or the elder on Abstrak Tulisan ini merupakan sebuah kajian sosiopragmatik terkait dengan hubungan antara faktor usia dan pemilihan strategi bertutur dalam bahasa Bugis. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan pilihan-pilihan strategi bertutur yang digunakan oleh penutur wanita dan pria pada situasi dan beberapa jenis tindak tutur. Hasil temuan menjelaskan bahwa ada perbedaan dan persamaan pemilihan strategi yang digunakan oleh penutur yang berusia muda dengan dengan penutur yang berusia dewasa dan berusia tua. Perbedaan pemilihan strategi lebih tampak pada jenis tindak tutur memerintah, melarang, memuji, dan permohonan. Sementara persamaannya lebih tampak padajenis pemilihan strategi bertutur pada jenis tindak tutur memuji dan penerimaan dan penolakan. Selanjutnya, temuan ini menjelaskan adanya pengaruh signifikan usia terhadap usaha pemilihan strategi bertutur yang lebih santun. Hasil uji regresi menjelaskan bahwa pengaruh tersebut lebih dominan pada penutur wanita dewasa, dengan nilai signifikansi 0,00 a 0,05 atau nilai koefesien (X2) = 6,5134. Artinya, semakin dewasa seseorang, semakin berusaha untuk memilih strategi bertutur yang lebih santun. Selain itu, hasil temuan ini menunjukkan bahwa dalam berbahasa Bugis, penutur wanita usia dewasa lebih mengutamakan sikap positif untuk bertutur santun baik kepada penutur yang berjenis kelamin sama atau yang berbeda, baik kepada yang lebih muda atau lebih tua.
PERILAKU BERBAHASA ANTARA WANITA DAN PRIA: FENOMENA PERBEDAAN BERBAHASA BERDASARKAN SOSIOKULTURAL Nuraidar Agus
SAWERIGADING Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i2.294

Abstract

This writing is library research relating to language function and social status, especially sex. It is intended to inform the characteristic diversity of woman and man language. The sex role actually can create diversity or language variation. Besides that, it can be a proof of social value and sign that in communication activity between woman to woman, man to woman enables language misunderstanding happen. Generally, woman and man have different stereotypes or language attitudes. Even though it is considered as variation, but it is reflection of social reality. Based on developing theory and phenomenon, woman speaker gives higher positive attitude than man. On the side of orderliness and neatness woman’s speech is more conservative and tends to the usage of more standardized and privilege language.  Abstrak Tulisan ini merupakan sebuah kajian pustaka yang terkait dengan fungsi bahasa dan status sosial, terutama jenis kelamin. Kajian pustaka ini bermaksud untuk menginformasikan adanya perbedaan karakteristik perilaku berbahasa wanita dan pria.  Peranan jenis kelamin  (sex role) ternyata dapat  menciptakan  perbedaan atau variasi dalam berbahasa.  Kecuali itu, dapat menjadi bukti nilai sosial sekaligus penanda bahwa dalam aktivitas berkomunikasi antara penutur wanita dan wanita, pria dan wanita, atau antara  penutur wanita dan pria, memungkinkan terjadinya kesalahpahaman berbahasa. Secara umum, wanita dan pria memiliki streotipe atau pola tingkah laku bahasa yang berbeda. Sekalipun  dianggap sebagai variasi, tetapi gejala itu merupakan pencerminan kenyataan sosial. Berdasarkan teori dan fenomena yang berkembang  bahwa penutur wanita memberikan sikap positif yang lebih tinggi daripada pria. Dari sudut  pandang ketertiban dan kerapihan pun tuturan wanita lebih konservatif dan lebih mengarah pada penggunaan kaidah berbahasa yang lebih baku dan prestisius.
BENTUK SAPAAN BAHASA BUGIS DALAM KONTEKS PRAGMATIK GENDER (The Form of Buginese Language Greeting in Gender Pragmatic Context) Nuraidar Agus
SAWERIGADING Vol 20, No 1 (2014): Sawerigading
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v20i1.12

Abstract

Greeting is one of linguistic marker whose function is the sign of illocution or politeness marker. Besides that, greeting also has function to strengthen communication relationship of interparticipants. The writing is a description of the usage of greeting in interactive communication of interspeakers, of Buginese language based on gender. Therefore, the analysis used is descriptive qualitative method through collecting data on Buginese speaker in triangulation way: observation, interview, and writing note. Some phenomena of male and female speech, are found that both always use different pragmatic greetings. Its result describes that there are four common forms of greeting used by by male and female speakers in Buginese language, those are (1) greeting of vertical and social kinship (2) professional greeting, and (3) solidarity greeting. The phenomena of Buginese greeting usage are different among male and female speakers. Contrastive feature is much influenced by aim, situation, and speech context that become the setting of speech.
REPRESENTASI BENTUK PAGAR {HEDGES) DALAM TUTURAN BAHASA BUGIS Nuraidar Agus
SAWERIGADING Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v17i2.376

Abstract

This is a descriptive writing regarding the use of hedges in Buginese language. The analysis is based on descriptivequalitative method through data collection among Buginese speakers triangulationally; observation, interview, andrecording. Some phenomenons of speech among Buginese community are found that in fact they always consider thesuitable and proper manner of speech as the most important one caused by the principle that it would be reflection oftheir character and behavior in daily life. Therefore, the Buginese speakers prefer to use politeness marker, includinghedges, in their speech. The use of hedges is found in some kind of speech-act, conformed to the modus and characteristicof speech in order to make the speech is still acceptable without threatening or lowering the hearer AbstrakTulisan ini merupakan sebuah deskripsi tentang penggunaan pagar atau hedges dalam tuturan bahasaBugis. Untuk itu analisis yang digunakan berdasarkan metode deskriptif kualitatif melaluipengumpulan data pada penutur Bugis secara triangula.si; pengamatan, wawancara, dan pencatatan.Beberapa fenomena bertutur pada masyarakat Bugis ditemukan bahwa sesungguhnya merekasenantiasa mengutamakan cara bertutur secara patut dan santun dengan alasan, hal tersebutmerupakan pengungkapan diri yang merefleksikan karakter, sifat, dan perilaku mereka sehari-hari.Oleh karena itu, dalam bertutur penutur bahasa Bugis lebih sering menggunakan pemarkahkesantunan, termasuk hedges, dalam segenap tuturannya. Penggunaan pagar atau hedges ditemukanpada beberapa jenis tindak tutur, yang disesuaikan dengan sifat dan modus pertuturan. Pilihantersebut dimaksudkan untuk menyantunkan tuturan agar tetap berterima tanpa harus mengecilkanatau mengancam muka positif mitratutur.