Berliana N.R.S. Aritonang
Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TOKSISITAS BIOFUNGISIDA YANG MENGANDUNG Trichoderma sp. TERHADAP TESTIS DAN PROSES SPERMATOGENESIS MENCIT (Mus musculus) Berliana N.R.S. Aritonang
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 1 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v1i1.7

Abstract

Penggunaan pestisida kimiawi dikalangan pertanian dapat menimbulkan berbagai macam masalah pada bidang kesehatan oleh karena itu para ahli telah menemukan bahan alternatif berupa pestisida alami yaitu biofungisida. Pengaruh kontaminasi penggunaan biofungisida yang mengandung spora Trichoderma sp terhadap bidang kesehatan belum diketahui. Biofungisida yang mengandung Trichoderma sp yang menghasilkan antibiotika berupa gliotoxin dan viridin dimana zat tersebut bersifat toksik dan dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia maupun hewan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui toksisitas biofungisida terhadap gambaran histopatologi testis. Penelitian ini menggunakan hewan uji mencit albino (Mus musculus) berumur 12 minggu, dan dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor mencit. Pemberian biofungisida dilakukan secara oral dengan dosis 0 cc/Kg BB, 16 cc/Kg BB, 24 cc/Kg BB, 36 cc/Kg BB, dan 54 cc/Kg BB setiap hari selama 14 hari. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji lanjut Bonferroni dengan taraf signifikan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan penurunan berat testis, diameter tubulus seminiferus, tebal epitel germinal tubulus seminiferus, diameter inti sel leydig, jumlah sel leydig dan jumlah sel sertoli terjadi perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Untuk indeks spermatogenesis kelompok kontrol menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan perlakuan penurunan terbesar pada dosis 54 cc/Kg BB sebesar 66,032%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian biofungisida mempengaruhi berat testis dan histopatologi testis, jadi biofungisida tersebut bersifat toksik terhadap organ reproduksi mencit jantan albino (Mus musculus).
UJI EFEKTIVITAS INFUSA KULIT BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) DENGAN PEMBANDING SPRAY ANTI NYAMUK BERMERK TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti Berliana N.R.S. Aritonang; Kenny Carolina
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 2 No 1 (2017): November 2017
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v2i1.15

Abstract

Penularan penyakit DBD pada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Selama ini masyarakat menggunakan insektisida kimia untuk menghindari gigitan nyamuk penolak nyamuk (repellent). Pengendalian penggunaan insektisida alami salah satunya infusa kulit buah jeruk nipis karena memiliki minyak atsiri yang tidak disukai oleh nyamuk maupun serangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efektivitas infusa kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) sebagai insektisida alami terhadap nyamuk A. aegypti. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan penelitian Post test only group design. Hasilnya menunjukkan bahwa semua konsentrasi penggunaan kulit jeruk nipis menunjukkan aktivitas insektisida. Infusa kulit buah jeruk nipis 25% terbukti lebih efektif daripada konsentrasi 10-20%, dibutuhkan 60 menit untuk memberi angka kematian 90%. Pada kontrol negatif tidak ada kematian nyamuk, pada kontrol positif memiliki angka kematian nyamuk 100%. Dapat disimpulkan bahwa infusa kulit buah jeruk nipis memiliki potensi sebagai biokontrol.
IDENTIFIKASI TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTH (STH) PADA MURID SEKOLAH DASAR NEGERI (SDN) 91 KECAMATAN RUMBAI PESISIR PEKANBARU Berliana N.R.S. Aritonang; Nurul Rezki
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 3 No 1 (2018): November 2018
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v3i1.27

Abstract

ABSTRAK Infeksi kecacingan yang disebabkan oleh Soil Transmitted Helminth (STH) menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat Indonesia khususnya anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Cacing usus yang ditularkan melalui tanah ini meliputi Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan Cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing golongan Soil Transmitted Helminth (STH) pada murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 91 Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru. Metode yang digunakan adalah metode flotasi dan sedimentasi. Populasi pada penelitian ini adalah murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 91 Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru kelas 1, 2, dan 3. Hasil penelitian berdasarkan pemeriksaan mikroskopis dari 27 sampel ditemukan 2 sampel positif yaitu telur cacing Ascaris lumbricoides fertil pada sampel dengan kode M dan telur cacing Ascaris lumbricoides infertil dengan kode ZZ. Kata kunci: Ascaris lumricoides, murid SD, pemeriksaan kualitatif feses, Soil Transmitted Helmint, Kecacingan
HUBUNGAN PERSONAL HIGIENE DENGAN PENYAKIT CACING (SOIL TRANSMITTED HELMINTH) PADA PETANI SAYUR KARTAMA KOTA PEKANBARU Berliana N.R.S. Aritonang
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 4 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v4i2.53

Abstract

Personal hygiene merupakan faktor utama penyebab infeksi kecacingan. Penelitian ini dilakukan pada petani sayur di Kartama Pekanbaru pada bulan Oktober – Desember 2018 dengan total sampel 30 orang. Metode yang digunakan pada pemeriksaan ini metode sedimentasi. Populasi pada penelitian ini petani sayur di Kartama Pekanbaru yang tidak menggunakan sarung tangan ataupun alas kaki pada saat berkebun. Hasil yang didapat dari 30 sampel yang dilakukan pemeriksaan pada petani sayur di Kartama Pekanbaru tidak ditemukan adanya telur cacing Soil Transmitted Helminth pada sampel feses dan kuku.