AbstractIt is known that statement given by linguist witness is still multi interpreted due to inexistence of methods to measure validity of the testament itself. Thus, this research aims to offer an alternative measure for linguist to provide statement. This research used statute, conceptual, and case approaches. Further, literary study was applied to collect data. The data then was analysed using linguistics forensic experimental description that has been conducted in case study. The result of the study shows that the use of social media as corpus can explain grammatical meaning of a text and its usage tendency in community speaking those languages.Keywords: linguist witness, forensic linguistics, social media analytics AbstrakKeterangan saksi ahli bahasa masih memunculkan ruang multitafsir. Para saksi ahli bahasa belum memiliki alat atau metode sebagai tolok ukur validitas pemberian keterangan. Penelitian ini berupaya menawarkan alternatif tolok ukur pemberian keterangan saksi ahli bahasa. Pendekatan penelitian yang digunakan meliputi pendekatan statuta, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi pustaka. Analisis menggunakan deskripsi eksperimental linguistik forensik yang telah dilakukan dalam studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan analisis media sosial dapat memaparkan makna gramatikal teks kebahasaan dan kecenderungan penggunaannya di masyarakat penutur teks kebahasaan tersebut. Kata-kata kunci: saksi ahli bahasa, linguistik forensik, analisis media sosial