Syahnaz Oriza Keumala
Program Studi Politik, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Keterwakilan Anggota Legislatif Perempuan Dalam Perumusan Qanun Jinayat Provinsi Aceh. (Suatu Kajian Terhadap Peran Anggota Legislatif Perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) Syahnaz Oriza Keumala; Prof Dr. Adwani, SH, M.Hum
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.795 KB)

Abstract

ABSTRAKPada 27 September, DPRA mengesahkanQanunJinayat, PengesahanQanunJinayatbanyakmengundangkontroversi.Salah satunyadatangdarialiansikebangsaanuntukkebebasanberagamadanberkeyakinan (AKKBB).Didalamperumusanqanunjinayatbanyakmengandungdiskriminasiterhadapperempuandananak-anak, perluadanyaketerwakilanperempuan yang memadai, namundalamkenyataannyabahwaperumusanqanuntersebut di DPRA masihsangat minim keterlibatanperempuansebagaisuatuketerwakilanrakyat. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipeluangdankendala yang dihadapiperanperempuandalammembuatQanunJinayat di DPRA.Untukmengetahui, mengidentifikasidanmenganalisisperanperempuandalamproduktivitasQanunJinayatpada DPRA periode 2009-2014. Metode penelitian yang digunakanadalahmetodepenelitiankualitatifdenganpendekatandeskriptif.Data diperolehmelaluisumber data primer dan data skunder, data primer melaluipenelitianlapanganyaitudenganwawancarainforman.Sedangkan data skundermelaluipenelitiankepustakaanyaitudengandokumen-dokumen, buku-bukudanbacaan-bacaanterkait.HasilpenelitianmenunjukkanPeranperempuandalam proses penyusunanQanunJinayat di DPRA antaralainsama-samamembahas, menjelaskan, danbertanyahalapasaja yang menyangkutdalammerugikanperempuan, memberikan ide dalamperumusanqanun, selaluhadirdalamrapatperumusanqanunjinayat, danmaumenyibukandiridanberperanaktif.AdapunFaktor yang menjadihambatanperempuandalammewakilisuaraperempuanpadaQanunJinayat di DPRA adalahperempuantidakmemilikiperan yang terlalubesardalammenyusunQanunJinayat di Banda Aceh haltersebutdisebabkanolehbeberapafaktorhambatanyaitukurangnyakepercayaanmasyarakatterhadapperempuan, adanyadoktrin agama yang mempengaruhipola pikirmasyarakatdalampemilihan, danketerwakilanperempuan yang belumsampai 30% di DPRA.Kepadaanggotalegislatifperempuandalampenyusunanqanunjinayat agar dapatlebihmemperhatikanmasalah yang dapatmembuatperempuanmerasadiskriminasikarenabagiperempuanakanmelekatdalamhidupnya stigma negatif di tengahmasyarakatbiladiamelakukanpelanggaran.  Kata Kunci :PeranPerempuan, QanunJinayat ABSTRACTOn September 27, DPRA Passed Qanun Jinayat (Islamic Criminal Law). The approval of this law by the Aceh Provincial Legislative Council has attracted controversies, one of which was voiced by the National Alliance for Freedom of Faith and Religion (AKKBB). The draft of Qanun Jinayat contains lots of discrimination elements against women nd children. There is still a need for sufficient representation of women, but in reality, the drafting process of the qanun atProvincial Legislative Council bore little involvement of women as part of people representation. Therefore, this study was aimed at knowing opportunities and challenges faced in terms of promoting women’s roles in the drafting of Qanun jinayat at the DPRA in the period of 2009-2014. This is a qualitative research using descriptive approach. The research uses primary and secondary data. Primary data were collected  from field research based on interviews with informants. Secondary data were obtained from library research  by studying documents, books, and relevant literatures. The results of the research show that women play roles in the drafting of QanunJinayat at the Aceh Provincial Legislative Council in, among others, discussing, explaning, questioning anything potensial for women disadvantage, offering their argument and ideas for the Qanun draft, attending the meeti