Misray Tunliu
STT Baptis Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membangun Silaturahim di tengah Pluralistas Keagamaan di Indonesia: Sebuah Kajian Sosio-Teologis Misray Tunliu
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.118

Abstract

The most basic and most important component in the relation of religious pluralism is the creation of a sustainable relationship of friendship and dialogue, which is built by every believer by opening himself to pluralism without having to sacrifice substantive things in building the common good, in accordance with the values shared by the community. It is believed in the Holy Scriptures that each believer also believes in the national and state order which is regulated and bound by the UUD 1945, Pancasila, and within the framework of diversity, without sacrificing others in the name of any religion. Religion must be an answer that educates, inspires others to be closer to the Creator. Religion must be an agent of change that changes people who are not virtuous, have no morals into people who are virtuous and have a noble character in accordance with the nature of Allah, the ruler of life.  AbstrakKomponen paling mendasar dan terpenting dalam relasi pluralisme keagamaan adalah terciptanya hubungan silaturahim dan dialog yang berkelanjutan, yang dibangun oleh setiap umat berkeyakinan dengan membuka diri terhadap pluralisme tanpa harus mengorbankan hal-hal yang sifatnya substantif dalam membangun kemaslahatan secara bersama, sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini dalam Kitab Suci masing-masing umat berkeyakinan juga dalam tatanan berbangsa dan negara yang diatur dan diikat dalam UUD 1945, Pancasila dan dalam bingkai kebhinekaan, tanpa mengorbankan yang lain atas nama agama apapun. Agama harus menjadi jawaban yang mengedukasi, menginspirasi sesama untuk lebih dekat kepada Sang Khalik. Agama harus menjadi agen perubahan yang mengubah insan yang tidak berbudi pekerti, tidak berakhlak menjadi insan yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia sesuai dengan natur Allah Sang penguasa kehidupan. 
Penderitaan sebagai Ekspresi Kasih Karunia Yesus Kristus: Refleksi Teologi 1 Petrus 2:18-25 Misray Tunliu
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.76

Abstract

 Suffering is a frightening specter for some people, so there are so many efforts made by some people to be free from what is called suffering, whether it is people who do not believe in Jesus Christ or who believe in Jesus Christ. Ironically, some people who believe in Jesus Christ often use the Bible by quoting a few verses in the Bible as reference to justify their arguments. In particular it relates to suffering without looking cohesive and comprehensive, so as to treat suffering as acurse. By denying all the data, arguments and facts that speak that the suffering of believers is not always  synonymous with curses but the suffering of believers is the grace of the Lord Jesus Christ. They suffer because of their faith and conviction in defending the truths taught and modeled by the Lord Jesus Christ.AbstrakPenderitaan adalah momok yang menakutkan bagi sebagian orang sehingga ada begitu banyak upaya yang dilakukan oleh sebagian orang untuk terbebas dari yang namanya penderitaan, baik itu orang yang tidak beriman kepada Yesus Kristus maupun orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Ironisnya bagi sebagian orang yang percaya kepada Yesus Kristus seringkali menggunakan Alkitab dengan mengutip segelintir ayat dalam Alkitab sebagai referensi untuk membenarkan argumentasi mereka. Secara khusus berkaitan dengan penderitaan tanpa melihat secara kohesif dan kompreshensif, sehingga menyikapi segala penderitaan sebagai kutuk. Dengan menafikan segala data, dalil dan fakta yang berbicara bahwa penderitaan orang percaya tidak selalu identik dengan kutuk tetapi penderitaan orang percaya adalah kasih karunia Tuhan, Yesus Kristus. Mereka menderita karena iman dan keyakinan mereka di dalam mempertahankan kebenaran yang diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan, Yesus Kristus.