Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA ANTARA YANG MENDAPATKAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER DENGAN KONVENSIONAL Euis Siti Aisyah; Deddy Sofyan
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.797 KB)

Abstract

Dalam pembelajaran matematika sering terjadi masalah dalam hal rendahnya prestasi belajar siswa yang diawali dengan anggapan bahwa matematika itu sulit. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah tersebut adalah kemampuan dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang efektif. Pada pembelajaran konvensional siswa lebih sering bersikap pasif. Kebiasaan bersikap pasif dapat mengakibatkan sebagian besar siswa takut dan malu bertanya akan mengenai materi yang kurang dipahaminya. Adapun active learning tipe giving question and getting answer dengan potongan-potongan kertas sebagai medianya dapat digunakan guru untuk mengetahui informasi tertentu, yaitu materi yang kurang dipahami siswa serta materi yang dapat dijelaskan oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk:1) mengetahui perbandingan prestasi belajar matematika antara siswa yang mendapatkan model active learning tipe GQGA dengan siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional, beserta peningkatannya; 2) mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah setelah mendapatkan model active learning tipe GQGA, beserta peningkatannya; 3)  mendeskripsikan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dan model active learning tipe GQGA. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental pada Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Garut. Tahapan penelitian dimulai dari pembuatan instrumen, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan tes prestasi belajar. Tes dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran. Khusus di kelas eksperimen, dilaksanakan  pengisian angket oleh siswa. Pengolahan data secara kuantitatif dilakukan perhitungan secara manual dengan bantuan Microsoft Office Excel. Adapun pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney, Anova Satu Jalur (One Way Anova), dan Kruskall Wallis.
PENGETAHUAN PREMENOPOUSE PADA WANITA USIA SUBUR (WUS) DI TPMB FITRIA WULANDARI TAHUN 2025 Wulandari, Fitria; Euis Siti Aisyah; Misni Winasari; Ratnasari Nurjanah; Windasari; Ida Widaningsih
Jurnal Pengabdian Masyarakat FKIP UTP Vol 7 No 1 (2026): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v7i1.5345

Abstract

Menopouse bagi sebagian wanita seringkali menjadi suatu hal yang menakutkan, kecemasan ini berawal dari pemikiran bahwa wanita menjadi tidak sehat, tidak bugar, dan tidak cantik lagi, padahal masa menopause dan premenopause merupakan salah satu fase yang harus dijalani seorang wanita dalam kehidupannya, seperti halnya fase-fase kehidupan yang lain, yaitu masa kanak-kanak, dan masa reproduksi. Premenopause merupakan kondisi dimana tubuh mulai berinteraksi menuju menopause, masa ini dapat terjadi selama 2-8 tahun dan ditambah 1 tahun diakhir menuju menopause. Biasanya masa premenopause terjadi pada usia diatas 40 tahun, tapi juga banyak yang mengalami perubahan ini saat usia masih dipertengahan tahun. Tahun 2025 di Indonesia diperkirakan akan ada 60 juta perempuan menopause. Menurut data statistik, jumlah penduduk di Propinsi Jawa Barat mencapai 11.358.740 jiwa penduduk di Jawa Barat adalah usia remaja dan wanita usia subur yang berusia 20-45 tahun. Kecemasan yang dirasakan ibu menopause umumnya dikarenakan berakhirnya masa reproduksi yang artinya dirinya merasa akan menjadi tua, yang berarti kecantikan akan memudar. Dengan hal itu vitalis dan fungsi organ-organ tubuh juga akan menurun.
Peningkatan Kosakata Bahasa Inggris Anak Usia Dini Melalui Aktivitas Sains Pengenalan Warna dan Angka Euis Siti Aisyah; Rd. Putri Harisma Devi; Ida Dalilah; Desi Ratnasari; Syifa Fadella
SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan Vol. 3 No. 3 (2026): July-September | SAKALIMA: Pilar Pemberdayaan Masyarakat Pendidikan
Publisher : WISE Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70211/sakalima.v3i3.679

Abstract

Early English vocabulary development requires instruction that links new words to concrete, enjoyable, and developmentally appropriate experiences. This classroom action research examined whether science activities introducing colors and numbers could improve the English vocabulary of 15 children aged 5–6 years in Group B at PAUD Kober Melati II, Cibogo District, Subang Regency, Indonesia. Following the Kemmis–McTaggart model, the intervention was implemented across three cycles, each comprising planning, action, observation, and reflection. Children participated in a color-bubble eruption experiment and number-coded coloring activities while teachers provided contextual modeling, repeated pronunciation, individual scaffolding, and positive reinforcement. Data were collected through participatory observation, documentation, and performance assessment and were analyzed using qualitative description and the percentage of children attaining the Developing as Expected or Developing Very Well categories. Mastery increased consistently from 26.7% (4 of 15 children) at baseline to 46.7% (7 children) in Cycle I, 66.7% (10 children) in Cycle II, and 86.7% (13 children) in Cycle III, exceeding the predetermined 80% success criterion. The progressive gains indicate that linking English words with observable scientific phenomena, visual motor tasks, systematic repetition, and responsive scaffolding supported vocabulary recognition and oral production. These findings imply that early-childhood educators can integrate low-cost science exploration with language instruction as a practical interdisciplinary strategy, while future controlled studies should examine retention, transfer, and the relative contribution of each intervention component.