Eka Sumardi
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Makna Simbol Ingkung dan Sego Wuduk dalam Tradisi Selamatan Kematian di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara Eka Sumardi
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5182

Abstract

Mayoritas masyarakat Jawa setiap ada peristiwa kelahiran, perkawinan, kematian mengadakan acara selamatan dalam bentuk doa bersama. Hal yang paling sering adalah selamatan kematian  oleh masyarakat Putri Hijau, terdiri dari: Geblag (selamatan setelah jenazah dimakamkan), Telung Dinan (setelah tiga hari ),Pitung Dinan (setelah tujuh hari ), Patang Puluh Dinan (setelah empat puluh hari), Nyatus Dinan (setelah seratus hari ), Pendak (setelah satu tahun ), Sewon (setelah seribu hari). Selamatan kematian terdapat sajian yang khusus dan wajib ada yakni sajian ingkung dan sego wuduk. Sajian ingkung dan sego wuduk, identik sebagai sajian yang wajib ada untuk memperingati meninggalnya seseorang. ). Rumusan masalah riset ini adalah a). Apa makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau? b). Bagaimana makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis  menggunakan semiotika Roland Barthes? c). Bagaimanakah nuansa teologi dalam simbol Ingkung dan sego Wuduk  dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) ? Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut : a). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau; c). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes. c). Mendiskripsikan  nuansa teologi  pada Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan). Pada  metode  penelitian  ini, peneliti  melakukan  metode  penelitian  secara kualitatif. Hasil dari riset ini adalah masyarakat desa Karang Pulau dari golongan tua atau kelas menengah kebawah  masih  mempercayai    ingkung dan sego wuduk  sebagai simbol  dalam  selamatan  kematian (tahlilan)  sampai  sekarang.  Sedangkan  masyarakat  dari  golongan  muda atau golongan kelas menengah ke atas tidak langsung menerima simbol. Mereka melihat alasan dan kepentingan tentang adanya simbol  ingkung dan sego wuduk dalam selamatan kematian (tahlilan). Masyarakat desa Karang Pulau memaknai simbol ingkung dan sego wuduk sebagai lambang pengharapan pensucian dan pengampuan Allah maka setiap acara selamatan tahlilan wajib ada. Analisis  Barthes  pada  simbol  ingkung dan sego wuduk   dalam  selamatan  kematian(tahlilan) di desa Karang Pulau yakni analisis pertama secara denotatif   ingkung dan sego wuduk   merupakan   hidangan  tradisional  yang  berbentuk  ayam utuh dengan posisi seperti orang sedang duduk tawaru’  dan nasi  berwarna putih yang terasa khas.Analisis kedua secara konotatif dapat dikatakan  ingkung dan sego wuduk berarti  pengharapan pensucian ,ampunan kepada orang yang telah meninggal sehingga wajib ada   dalam  selamatan  kematian  (tahlilan