Musoffa Basyir
STAIN Pekalongan

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEMBELAAN GUS DUR TERHADAP KESESATAN AHMADIYAH (Pembacaan Hermeneutika Schleiermacher) Musoffa Basyir
Religia Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v19i1.659

Abstract

Abdurrahman Wahid atau yang biasa disebut Gus Dur telah luas diketahui sebagai sosok yang kontroversial. Salah satu kontroversi tersebut adalah pembelaan Gus Dur terhadap Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia. Padahal, Gus Dur adalah salah satu ulama Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang notabene tradisional dan berfaham Ahlussunnah Waljama’ah. Pembelaan Gus Dur terhadap JAI ini, tak pelak, secara teologis menimbulkan keraguan mengenai jati diri keaswajaannya. Tulisan ini berusaha memahami pembelaan Gus Dur terhadap kesesatan JAI melalui cara baca hermeneutika a la Schleiermacher. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pembelaan Gus Dur terhadap JAI bukanlah sebentuk pembelaan teologis melainkan pembelaan terhadap sisi kemanusiaan dan konstitusi berbangsa dan bernegara yang berlaku di Indonesia. Pembelaan semacam ini justru merupakan wujud dari teologi Aswaja yang dipahamnyai dan yang telah ia kembangkan sesuai dengan kerangka dasar pengembangan Aswaja yang disusunnya.
PEMBELAAN GUS DUR TERHADAP KESESATAN AHMADIYAH (Pembacaan Hermeneutika Schleiermacher) Musoffa Basyir
Religia Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v19i1.659

Abstract

Abdurrahman Wahid atau yang biasa disebut Gus Dur telah luas diketahui sebagai sosok yang kontroversial. Salah satu kontroversi tersebut adalah pembelaan Gus Dur terhadap Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia. Padahal, Gus Dur adalah salah satu ulama Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang notabene tradisional dan berfaham Ahlussunnah Waljama’ah. Pembelaan Gus Dur terhadap JAI ini, tak pelak, secara teologis menimbulkan keraguan mengenai jati diri keaswajaannya. Tulisan ini berusaha memahami pembelaan Gus Dur terhadap kesesatan JAI melalui cara baca hermeneutika a la Schleiermacher. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pembelaan Gus Dur terhadap JAI bukanlah sebentuk pembelaan teologis melainkan pembelaan terhadap sisi kemanusiaan dan konstitusi berbangsa dan bernegara yang berlaku di Indonesia. Pembelaan semacam ini justru merupakan wujud dari teologi Aswaja yang dipahamnyai dan yang telah ia kembangkan sesuai dengan kerangka dasar pengembangan Aswaja yang disusunnya.
PENGGUNAAN BAHASA ARAB PADA NAMA PENDUDUK KOTA PEKALONGAN Studi Perubahan Sistem Bahasa Musoffa Basyir
JURNAL PENELITIAN Vol 6 No 2 (2009): Volume 6 Nomor 2 2009
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/04xajx97

Abstract

Nama-nama penduduk Kota Pekalongan yang berasal dari bahasa Arab tidak ada yang sesuai dengan sistem kebahasaan Arab baik secara fonetis, morfologis, sintaksis maupun semantis. Ketidaksesuaian itu tidak hanya disebabkan karena faktor intern (linguistik), namun juga terdapat faktor ekstern (non-linguistik) yang mengiringinya. Kesimpulan semacam ini dihasilkan dengan cara menganalisis sumber data (nama-nama penduduk Kota Pekalongan) yang berasal dari buku telepon Pekalongan edisi November 2007-2008. Metode analisis yang digunakan adalah metode struktural normatif, yaitu bahwa analisis di dalam penelitian ini memandang satuan bahasa sebagai unit analisis dalam struktur dan makna merupakan titik tolak analisis data. Dengan menggunakan metode normatif, penelitian ini menerapkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Arab ke dalam bahasa si pengguna nama yang berbahasa Arab (dalam hal ini bahasa Indonesia dan Jawa). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiolinguistik, yaitu bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.
RELASI KUASA DALAM KEMASAN PRODUK MAKANAN BERBAHASA ARAB DI INDONESIA Musoffa Basyir; Ahmad Jaeni; A.Ubaedi Fathuddin
JURNAL PENELITIAN Vol 9 No 2 (2012): Volume 9 Nomor 2 2012
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/kag4n463

Abstract

Packaged products including Arabic food circulating in Indonesia are made in three main contexts: first, the emergence of neo-liberal strategy in the free market area (at the economic level), and the rise of fundamentalist Islamic movements at the religious level of religion; second, the implementation of halal certification on any food product by MUI; third, Arabic has a strategic position in the Indonesian Muslim community. This study contains semiotic study of communication to other forms of text and discourse and symbols of language on the packaged food products including Arabic language circulating in Indonesia. This study does not only uncover denotative and connotative meanings as a sign, but also the ideologies behind it. This study is important to do because language, including advertising and packaged product, loaded with power because in itself, it appeares as a representative of and space for performances (deployment) a wide range of power. This study managed to lift the veils (social, cultural, political, economic, religious, and others), even in its most subtle and unconscious because it is natural and reasonable.