This Author published in this journals
All Journal ALQALAM
Zakaria Syafe'i
STAIN Sultan Maulana Hasanuddin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBANGUNAN FISIK DAN MENTAL BERBASIS KOMPETENSI Zakaria Syafe'i
Al Qalam Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1473.692 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v23i3.1504

Abstract

Manusia memiliki dua dimensi yaiut jasmani dan rohani. Keduanya sangat memerlukan kebutuhan yang harus dipenuhi demi kelangsungan menjalani kehidupannya, Ada di antara manusia yang hanya lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan lahiriyah /Jasmaniyah, ada pula yang lebih mengutamakan kepentingan kebutuhan rohaniah saja. Bila manusia hanya memilih jalan hidup semata-mata untuk memenuhi aspek jasmaniyah atau aspek rohaniah belaka, maka hidupnya berada dalam kondisi timpang atau tidak seimbang. Ajaran Islam yang memberikan doktrin prinsip keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani adalah mempakan solusi dan alternatif pemecahan masalah yang terbaik guna mengajarkan kehidupan manusia bahagia lahir dan batin, bahagia di dunia dan di akhirat·Dalam ajaran Islam, Allah Swt memerintahkan umatnya untuk memenuhi kebutuhan fisik baik berkaitan dengan kesehatan jasmani. Seperti sandang, pangan, papan dan olah raga, maupun bersifat material yang berhubungan dengan produk budaya dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh mengabaikan pembinaan mental melalui kegiatan spiritual dan moral, dan dalam melaksanakan aktivitas guna memenuhi kebutuhan hidupnya untuk memperoleh kesejahteraannya tetap harus berlandaskan pada norma dan nilai-nilai ajaran agama.
SIKAP MUSLIM TERHADAP MURTAD DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN Zakaria Syafe'i
Al Qalam Vol 28 No 1 (2011): January - April 2011
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1579.704 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v28i1.562

Abstract

Islam gives human freedoom to profess a religion without any coercion. This freedom principle includes when one want to convert from his previous religion into another one. In Islam, it is called riddah, leaving Islam to convert into another religion consciously. The performers of riddah are called the apostates.The action of Riddah is fulminated by the Qur'an; however, the Qur'an does not clearly determine the punishment far the apostates. The majority of Islamic law scholars classify riddah as Jarimah (an injustice deed) that must be under pain of death as stated in hadits. Such a classification breaks the rights of the liberty of conscience supported by several verses of the Qur'an.The death penalty that is applied to the Jarimah performers, as a matter of fact, does not spontaneously apply when the action of Jarimah is known, but there is resuscitation process by persuading the apostates to reconvert into Islam. Moreover, the ulamas have different opinions in determining the criteria of Jarimah riddah (the criminal law of apostasy) that causing the death penalty. In this case, there is contradiction between the Qur'an and hadits. Therefore, the decision of the death penalty far the apostates should be reviewed. Key Word : riddah, Islam, criminal law, death penalty