Mohamad Rohman
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MASJID PACINAN TINGGI: MEREKONSTRUKSI PERAN ORANG TIONGHOA DALAM PENYEBARAN ISLAM DI BANTEN Siti Fauziah; Mohamad Rohman
Al Qalam Vol 36 No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1453.929 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v29i3.1407

Abstract

This article aims to describe the reconstruction of the Chinese role in spreading Islam in Banten in the Sultanate period. This article uses histrocial and antrhropological approaches. The mosque of Pacinan Tinggi was likely built by Chinese in Pacinan area for their places of worship. It is indicated by the form of its minarets which is influenced by Chinese sryle. Moreover, not too far from the ruins of the mosque of Pecinan lies the cemetery of Chinese Muslims. It means that around Pecinan area were the communities of Chinese Muslims and they probably played an important role in the spread of Islam in Banten taking into account that the development of Islam in China is earlier than that of in the Archipelago, and Banten had been well known by Chinese people far of the establishment of the Sultanate of Banten.
The Use of Akhi and Ukhti Greetings in Arab-Indonesian Social Media: A Sociolinguistic Study Aisyah Wahyu Noer Cahyani; Mohamad Rohman; Ahmad Habibi Syahid
Journal of Creative Power and Ambition (JCPA) Vol. 4 No. 01 (2026): Journal of Creative Power and Ambition (JCPA)
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jcpa.1505

Abstract

The use of the terms "akhi" and "ukhti" (sister) has become increasingly common on Indonesian social media platforms, particularly among younger Muslim groups. These Arabic-speaking terms, originally used in kinship contexts, have shifted their role as they enter Indonesia's digital landscape. People use them not only as greetings but also as symbols of their religious identity, emotional affinity, and group solidarity. This study sought to examine the use of these two phrases, the contexts in which they appear, and their social significance. Data were collected from posts, comments, and conversations on social media platforms such as Instagram, WhatsApp, and TikTok using a descriptive qualitative research approach. The researchers also spoke with several users who regularly use these terms in their daily interactions. The findings indicate that the use of the terms "akhi" and "ukhti" has shifted from being associated with family ties to becoming a sign of modern Muslim identity, a form of respect, and a technique for building intimacy within online communities. Furthermore, the fact that some consumers use the words in humorous contexts, memes, and casual conversations demonstrates the creativity and shift in how Indonesians utilize Arabic. In conclusion, this research supports the idea that social media plays a significant role in influencing how language is used and understood. Within the Indonesian Muslim community, the phrases "akhi" and "ukhti" are used to represent culture, religious identity, and social expression in digital communication, not simply as generic names.
Ideology and Social Process of Veil Use Among Generation Z: A Social Construction Approach Mohamad Rohman; A.M. Fahrurrazi; Hatta Raharja
Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan Vol. 22 No. 02 (2025): Al-Mutharahah : Jurnal Penelitian dan Sosial Keagamaan
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46781/al-mutharahah.v22i02.1631

Abstract

Abstrak Artikel ini mengkaji ideologi di balik perempuan Generasi Z di Indonesia yang mengenakan jilbab dan bagaimana mereka menginternalisasi serta mengeksternalisasikannya dalam masyarakat yang sering memandangnya sebagai bentuk kesopanan yang tidak biasa. Banyak penelitian telah dilakukan tentang jilbab, namun isu ini tetap menarik. Meskipun jilbab merupakan fenomena global, signifikansi ideologisnya sangat dipengaruhi oleh faktor sosiologis dan psikologis. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa Generasi Z di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang mengenakan jilbab. Data dianalisis menggunakan pedoman semi-terstruktur dan direkam, dan hasilnya disajikan apa adanya, tanpa diedit. Sumber data sekunder meliputi tulisan akademis, seperti buku dan jurnal. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial Berger, analisis ini mengeksplorasi bagaimana pemahaman perempuan-perempuan ini tentang jilbab membentuk konsep diri mereka dan bagaimana mereka mempromosikan penerimaan masyarakat melalui proses eksternalisasi dan internalisasi. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan jilbab tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kenyamanan, pengendalian diri, dan faktor sosiologis seperti perlindungan, dan tidak terkait dengan radikalisme Untuk mendorong terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan moderat, kebijakan universitas harus mendorong dialog antar kelompok dan penerimaan yang lebih besar terhadap beragam praktik kesopanan. Kata kunci: Tabir, Ideologi; Eksternalisasi; Internalisasi; dan Proses Sosial  Abstrak Artikel ini mengkaji ideologi di balik perempuan Generasi Z di Indonesia yang memakai cadar dan bagaimana mereka menginternalisasi dan mengeksternalisasikannya dalam masyarakat yang sering memandangnya sebagai bentuk kesopanan yang tidak biasa. Banyak penelitian telah dilakukan tentang cadar, namun masalah ini tetap menarik. Meskipun cadar adalah fenomena global, signifikansi ideologisnya sangat dipengaruhi oleh faktor sosiologis dan psikologis. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa Generasi Z di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang mengenakan cadar. Data dijelaskan menggunakan pedoman semi-terstruktur dan dicatat, dan hasilnya disajikan apa adanya, tanpa pengeditan. Data sekunder bersumber dari tulisan akademis, seperti buku dan jurnal. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial Berger, analisis ini mengeksplorasi bagaimana pemahaman perempuan ini tentang kadar membentuk konsep diri mereka, dan bagaimana mereka mempromosikan penerimaan masyarakat melalui proses eksternalisasi dan internalisasi. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan cadar tidak dipandang melulu sebagai kewajiban, tetapi dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kenyamanan, pengendalian diri, serta faktor sosiologis seperti perlindungan, dan tidak terkait dengan radikalisme. Untuk menumbuhkan masyarakat yang lebih inklusif dan moderat, kebijakan universitas harus mendorong dialog antarkelompok dan penerimaan yang lebih besar terhadap praktik penutupan aurat yang beragam. Kata Kunci: Cadar; Ideologi; Eksternalisasi; Internalisasi; dan Proses Sosial