Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Masker Medika

HUBUNGAN PRILAKU PENENTUAN TRIAGE DENGAN RESPON TIME PADA PASIEN KECELAKAAN LALU LINTAS DI RUANG UGD RSI. SITIKHADIJAH DAN RS. MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2017 Husin, Husin; Gunawan, Muhammad Indra
Masker Medika Vol 5 No 2 (2017): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing) merupakan pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien dengan injuri akut atau sakit yang mengancam kehidupan. Triage adalah tindakan pemilahan penderita menurut beratnya keadaan gawat darurat. Triage bukan, mengobati, namun hanya memilah, memprioritaskan yang mempunyai harapan hidup yang lebih baik. Triage didasarkan pada prioritas ABC (airway, breathing, dan circulation). Diketahuinya hubungan prilaku penentuan triagedenganrespon time pada pasien kecelakaan lalu lintas di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017.Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan menggunakan desain cross sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawatUGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah PalembangPada penelitian menggunakan dua tempat rumah sakit yang dipilih akreditasinya sama. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawatUGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 orang perawatUGD RSI. Siti Khadijah dan 18 orang perawatUGD RS. Muhammadiyah Palembang, total 34 orang dan tehnik pengabilan sampel dengan total sampling. Pengumpulan data menggunakan Kuisioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat denganuji statistik yang digunakan adalah uji chi-squarenilai alpha = 0,05. Penelitian ini dilakukan di RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1-30 April 2017.Hasilpenelitian ini didapatkan didapatkan ada hubungan pengetahuan dengan Respon time di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017 (P value = 0,017).Hubungan sikap dengan Respon time di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017 (P value= 0,007).Hubungan tindakan dengan Respon time di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017 (P value= 0,033).Disarankan sebagai bahan masukan bagi RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang dan khususnya untuk perawat agar dapat lebih memberikan pelayanan yang berkualitas.
Kadar Malondialdehide (MDA) dan Lactate Dehidrogenase (LDH) Pada Latihan Aerobik dan Anaerobik Husin, Husin
Masker Medika Vol 4 No 1 (2016): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada aktivitas fisik baik aerobik maupun anaerobik terjadi peningkatan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi otot yang beraktivitas. Pada latihan fisik ini bisa berdampak terjadinya peningkatan radikal bebas yang berasal dari oksigen yang diperlukan untuk membentuk energi yang berupa ATP melalui proses oksidasi yang terjadi dalam mitokondria Tingginya kecepatan metabolisme pada latihan fisik akan mengakibatkan terjadinya penumpukan asam laktat. Hal ini terjadi akibat kecepatan kebutuhan energi melebihi kecepatan kemampuan sistem transportasi oksigen untuk mensuplai oksigen ke dalam mitokondria. . Produksi laktat yang meningkat akan berubah radikal bebas lemah (radikal superoksida) menjadi radikal bebas kuat (radikal hidroksil) sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan. Indikator yang mendukung terjadinya kerusakan jaringan, diantaranya adalah laktat dehidrogenase (LDH). Aktivitas yang meningkat akan mengakibatkan stress oksidatif kemudian Malondialdehide (MDA) dalam darah (serum) dapat dijadikan indikator stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kadar MDA dan LDH pada latihan aerobik dan anaerobik. Penelitian ini adalah penelitian experimental. Adapun rancangan yang digunakan adalah Randomized Pretest-Postest Design, yang dilakukan di Jakabaring Sport Center Palembang. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa FKIP Bina Darma yang tidak terlatih memenuhi kriteria inklusi, berjumlah 34 orang yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu 17 orang kelompok perlakuan yang melakukan aerobik dan 17 orang kelompok perlakuan yang melakukan anerobik . Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan, dengan taraf signifikan p<0,05. Berdasarkan hasil analisis uji t didapatkan hasil bahwa 1) ada peningkatan yang tidak bermakna kadar MDA yaitu 0,197 + 0,092 sebelum aktivitas fisik dan 0,214 + 0,12 sesudah aktivitas fisik pada kelompok perlakuan aerobik p=0,612 dan ada peningkatan yang tidak bermakna pada kelompok anaerobik 0,189 + 0,064 menjadi 0,303 + 0,24 dengan p=0,108 , 2) ada peningkatan kadar LDH yang bermakna sebelum dan sesudah pada kelompok perlakuan aerobik yaitu 131,59 + 15,496 menjadi 158,06 + 17,10 p=0,000 dan ada perbedaan yang bermakna pada kelompok perlakuan anaerobik yaitu 141,41 + 19,378 menjadi 159,41 + 20,78 p=0,000. Ada peningkatan aktivitas fisik aerobik dan anerobik terhadap kadar MDA dan LDH pada orang tidak terlatih. In the physical activity of both aerobic and anaerobic getting increased oxygen demand that is required to fulfill the energy needs of muscles that getting activity. At this physical exercise can affect the increasingly of free radicals which from oxygen that needed to form the energy that as ATP through the oxidation process that occurs in the mitochondria. The high rate of metabolic on physical exercise will cause the buildup of lactic acid. This happens was effect of speed of energy needs that exceeds the ability speed of oxygen transport system to supply the oxygen to the mitochondria. The lactate production that increase will turn a weak free radical (superoxide radicals) to be powerful free radical (hydroxyl radical) so that has the potential to cause tissue damage. Indicators that contribute to tissue damage, such as lactate dehydrogenase (LDH). The activity which increased will cause oxidative stress, then Malondialdehyde (MDA) in the blood (serum) can be became an oxidative stress indicator. This study aims to determine the levels of MDA and LDH in aerobic and anaerobic exercise. This study was an experimental study. The design which was used was randomized pretest-posttest design, which was done in Jakabaring Sport Center Palembang. The sample was FKIP Bina Darma students who were not trained to fulfill the inclusion criteria, with number 34 people, that divided into two groups, that were the treatment group were 17 people doing aerobics and 17 treatment groups that perform anaerobic. The Data were analyzed by using t-test with SPSS version 16, with significance level p <0.05. Based on the results of t-test analysis showed that 1) there was no significant increase in MDA 0,197 + 0,092 levels before and after the aerobic treatment group0,214 + 0,12 p = 0.612 and there was no significant increase in the anaerobic group 0,189 + 0,064 and 0,303 + 0,24 with p = 0.108, 2) there was a significant increase in LDH 131,59 + 15,496 and 158,06 + 17,10 levels before and after the aerobic treatment group p = 0.000 and no significant difference in the anaerobic treatment group 141,41 + 19,378 and 159,41 + 20,78 with p = 0.000. There is level of physical activity of aerobic and anaerobic to the levels of MDA and LDH in untrained people
HUBUNGAN PRILAKU PENENTUAN TRIAGE DENGAN RESPON TIME PADA PASIEN KECELAKAAN LALU LINTAS DI RUANG UGD RSI. SITIKHADIJAH DAN RS. MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2017 Husin Husin; Muhammad Indra Gunawan
Masker Medika Vol 5 No 2 (2017): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing) merupakan pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien dengan injuri akut atau sakit yang mengancam kehidupan. Triage adalah tindakan pemilahan penderita menurut beratnya keadaan gawat darurat. Triage bukan, mengobati, namun hanya memilah, memprioritaskan yang mempunyai harapan hidup yang lebih baik. Triage didasarkan pada prioritas ABC (airway, breathing, dan circulation). Diketahuinya hubungan prilaku penentuan triagedenganrespon time pada pasien kecelakaan lalu lintas di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017.Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan menggunakan desain cross sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawatUGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah PalembangPada penelitian menggunakan dua tempat rumah sakit yang dipilih akreditasinya sama. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawatUGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 orang perawatUGD RSI. Siti Khadijah dan 18 orang perawatUGD RS. Muhammadiyah Palembang, total 34 orang dan tehnik pengabilan sampel dengan total sampling. Pengumpulan data menggunakan Kuisioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat denganuji statistik yang digunakan adalah uji chi-squarenilai alpha = 0,05. Penelitian ini dilakukan di RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1-30 April 2017.Hasilpenelitian ini didapatkan didapatkan ada hubungan pengetahuan dengan Respon time di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017 (P value = 0,017).Hubungan sikap dengan Respon time di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017 (P value= 0,007).Hubungan tindakan dengan Respon time di Ruang UGD RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang tahun 2017 (P value= 0,033).Disarankan sebagai bahan masukan bagi RSI. Siti Khadijah dan RS. Muhammadiyah Palembang dan khususnya untuk perawat agar dapat lebih memberikan pelayanan yang berkualitas.
Kadar Malondialdehide (MDA) dan Lactate Dehidrogenase (LDH) Pada Latihan Aerobik dan Anaerobik Husin Husin
Masker Medika Vol 4 No 1 (2016): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada aktivitas fisik baik aerobik maupun anaerobik terjadi peningkatan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi otot yang beraktivitas. Pada latihan fisik ini bisa berdampak terjadinya peningkatan radikal bebas yang berasal dari oksigen yang diperlukan untuk membentuk energi yang berupa ATP melalui proses oksidasi yang terjadi dalam mitokondria Tingginya kecepatan metabolisme pada latihan fisik akan mengakibatkan terjadinya penumpukan asam laktat. Hal ini terjadi akibat kecepatan kebutuhan energi melebihi kecepatan kemampuan sistem transportasi oksigen untuk mensuplai oksigen ke dalam mitokondria. . Produksi laktat yang meningkat akan berubah radikal bebas lemah (radikal superoksida) menjadi radikal bebas kuat (radikal hidroksil) sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan. Indikator yang mendukung terjadinya kerusakan jaringan, diantaranya adalah laktat dehidrogenase (LDH). Aktivitas yang meningkat akan mengakibatkan stress oksidatif kemudian Malondialdehide (MDA) dalam darah (serum) dapat dijadikan indikator stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kadar MDA dan LDH pada latihan aerobik dan anaerobik. Penelitian ini adalah penelitian experimental. Adapun rancangan yang digunakan adalah Randomized Pretest-Postest Design, yang dilakukan di Jakabaring Sport Center Palembang. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa FKIP Bina Darma yang tidak terlatih memenuhi kriteria inklusi, berjumlah 34 orang yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu 17 orang kelompok perlakuan yang melakukan aerobik dan 17 orang kelompok perlakuan yang melakukan anerobik . Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan, dengan taraf signifikan p<0,05. Berdasarkan hasil analisis uji t didapatkan hasil bahwa 1) ada peningkatan yang tidak bermakna kadar MDA yaitu 0,197 + 0,092 sebelum aktivitas fisik dan 0,214 + 0,12 sesudah aktivitas fisik pada kelompok perlakuan aerobik p=0,612 dan ada peningkatan yang tidak bermakna pada kelompok anaerobik 0,189 + 0,064 menjadi 0,303 + 0,24 dengan p=0,108 , 2) ada peningkatan kadar LDH yang bermakna sebelum dan sesudah pada kelompok perlakuan aerobik yaitu 131,59 + 15,496 menjadi 158,06 + 17,10 p=0,000 dan ada perbedaan yang bermakna pada kelompok perlakuan anaerobik yaitu 141,41 + 19,378 menjadi 159,41 + 20,78 p=0,000. Ada peningkatan aktivitas fisik aerobik dan anerobik terhadap kadar MDA dan LDH pada orang tidak terlatih. In the physical activity of both aerobic and anaerobic getting increased oxygen demand that is required to fulfill the energy needs of muscles that getting activity. At this physical exercise can affect the increasingly of free radicals which from oxygen that needed to form the energy that as ATP through the oxidation process that occurs in the mitochondria. The high rate of metabolic on physical exercise will cause the buildup of lactic acid. This happens was effect of speed of energy needs that exceeds the ability speed of oxygen transport system to supply the oxygen to the mitochondria. The lactate production that increase will turn a weak free radical (superoxide radicals) to be powerful free radical (hydroxyl radical) so that has the potential to cause tissue damage. Indicators that contribute to tissue damage, such as lactate dehydrogenase (LDH). The activity which increased will cause oxidative stress, then Malondialdehyde (MDA) in the blood (serum) can be became an oxidative stress indicator. This study aims to determine the levels of MDA and LDH in aerobic and anaerobic exercise. This study was an experimental study. The design which was used was randomized pretest-posttest design, which was done in Jakabaring Sport Center Palembang. The sample was FKIP Bina Darma students who were not trained to fulfill the inclusion criteria, with number 34 people, that divided into two groups, that were the treatment group were 17 people doing aerobics and 17 treatment groups that perform anaerobic. The Data were analyzed by using t-test with SPSS version 16, with significance level p <0.05. Based on the results of t-test analysis showed that 1) there was no significant increase in MDA 0,197 + 0,092 levels before and after the aerobic treatment group0,214 + 0,12 p = 0.612 and there was no significant increase in the anaerobic group 0,189 + 0,064 and 0,303 + 0,24 with p = 0.108, 2) there was a significant increase in LDH 131,59 + 15,496 and 158,06 + 17,10 levels before and after the aerobic treatment group p = 0.000 and no significant difference in the anaerobic treatment group 141,41 + 19,378 and 159,41 + 20,78 with p = 0.000. There is level of physical activity of aerobic and anaerobic to the levels of MDA and LDH in untrained people