This Author published in this journals
All Journal ALQALAM
IRFAN SALIM
IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HADIS DAN ORIENTALISME IRFAN SALIM
Al Qalam Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1636.381 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v24i2.1634

Abstract

Makalah di bawah ini membahas studi para orientalis terhadap sejarah kodifikasi hadis dan berupaya merjelaskan bantahan-bantahan terhadap hal itu dari para sarjana muslim. Terdapat beberapa pendapat di kalangan orientalis mengenai awal mula tadwin (kodifikasi) hadis. Goldziher berpendapat, hadis mulai dikodifikasi pada akhir abad II H. Sprenger mengatakan, hadis sudah mulai dikodfjikasi sejak jaman Nabi Muhammad. Sedangkan W. Muir berpendapat bahwa Az-Zuhri· adalah orang yang pertama mengkodifikasi hadis, dan tidak mempercayai adanya kitab-kitab hadis yang ditulis sebelum pertengahan abad II H. Dari data-data yang ditemukan, tadwin dalam arti penulisan hadis secara parsial telah dimulai sejak jaman Nabi Muhammad. Penulisan hadis pada masa itu masih bersifat parsial-individual, ditulis oleh para sahabat yang memiliki kemampuan menulis dan untuk koleksi pribadi seperri al-Sahifah al-Shadiqah dan al-Shahifah al-Sahihah. Bahkan menurut klaim kalangan Syi'ah, hadis telah secara komprehensif dikodifikasi sejak jaman Nabi dalam Shahifah Ali. Sedangkan tadwin dalam arti kodifikasi secara resmi, bersifat massif dan diinisiasi oleh penguasa dimulai sejak jaman Umar ibn Abdul Aziz, kalau bukan sejak jaman Abdul Aziz ibn Manvan (w.85 H.).Tadwin dalam pengertian terakhir kemudian mengakibatkan gerakan tashnif kitab-kitab hadis sejak paruh abad kedua hijriah. Jami' Ma'mar, Sunan al­ Awza’iy, al-Muwaththa' Malik adalah sebagian kitab hadis yang dikompilasi pada paruh pertama abad kedua H. Adapun kitab kompilasi hadis yang berasal dari pertengahan abad pertama hijriah dan manuskrip salinannya (nasakh) telah ditemukan adalah AI-Sahifah al-Sahihah. Sahifah yang berisi sekitar 140 hadis ini dikumpulkan oleh Wahab ibn Munabbih (w.131 H.) dari majelis hadis gurunya, Abu Hurairah RA. Hadis-hadis dalam al-Sahifah ini secara parsial dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadis setelah era Wahab, dan secara komprehensif dapat ditemukan dalam Musnad Ahmad dalam bab Abu Hurairah. Dengan demikian, upaya pelestarian sunnah dari generasi ke generasi secara tertulis telah dimulai sejak jaman Nabi Muhammad, berbarengan dengan upaya pelestariannya secara lisan.
TRADISI PENULISAN HASYIYAH DI DUNIA ISLAM IRFAN SALIM
Al Qalam Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.11 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v29i2.870

Abstract

In the historical development of Islamic knowledge, there was one interesting and unique tradition, i.e. the tradition of writing by giving annotation toward a previous work, and then this annotation was annotated again by another author. The work that became a main source or reference, which was called matn, then was annotated in the farm of syarh, and this syarh, then, was given explanation, which was called hasyiyah or faotnotes to put the sources or detail explanation on main of syarh that were not included in the main text. There was also hamisy in the annotation. The function of hamisy was similar to the hasyiyah. While the hamisy was put in the flanks or borders of the book, the hasyiyah (footnotes) was put on the bottom of pages in a smaller fant of letters. However, if the annotation was considered too long, the other ulama summarize it in the farm of mukhtashar. It seems that these writing systems had been conducted from the fall of Islamic civilization until the twentieth century. One factor that caused this condition was the intellectual ignorance because of various external factors in the political process and political structure in that period so that it influenced the intellectual of some Muslim thinkers at the moment. They viewed that knowledge or science was finished, and what thry could do was to understand what had been inherited by previous generations. kaywords: hasyiyah, syarh, ta'liq