Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisa Ukuran Butiran Sedimen Pantai Desa Aeng Kabupaten Takalar dan Pantai Padongko Kabupaten Barru Hasdinar Umar; Taufiqur Rachman; Sabaruddin Rahman; Chairul Paotonan; Achmad Yasir Baeda; Taufiqurrahman Taufiqurrahman; Ilham Alkhaer
Zona Laut : Jurnal Inovasi Sains Dan Teknologi Kelautan Volume 1, Nomor 1, Edisi Maret 2020
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/zl.v1i1.9653

Abstract

Beach is an area that is physically subject to change. This change is caused by natural processes and human activities. Physical changes that generally occur on the beach are erosion and sedimentation. The dynamic processes that occur atthe beach are the result of a combination of various forces at work on the beach, which include the force of waves,currents, sedimentary movements, wind and so on. To analyze sediment transport in coastal areas, one of the main thingsthat need to be known is the characteristics of coastal sediments. The study was carried out on beaches prone to erosion and sedimentation, the location of sample data research at several points taken in the area around the Aeng TakalarVillage Beach and Padongko Barru Beach. The analysis carried out is the analysis of the distribution of sediment grainsto determine the characteristics of existing sediments on the beach. The results showed that the sizes of the sediment samples on the beach in Aeng Village, Takalar District were a mixture of fine sand and medium sand which had a diameterof 0.125 mm - 0.5 mm and the size of the sediment grains on the Padongko beach. Kabru was a mixture of fine sand and medium sand which has a diameter of 0.125 - 0.5 mm.
Kajian Keselamatan Peroses Bongkar Muat Barang Yang Menimbulkan Cacat Produk Muatan Di Pelabuhan Paotere Adriani Phady; Taufiqur Rachman; Chairul Paotonan
Zona Laut : Jurnal Inovasi Sains Dan Teknologi Kelautan Volume 1, Nomor 3, Edisi November 2020
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/zl.v1i3.12012

Abstract

This article discusses the worker's safety assessment of the loading and unloading process that causes cargo product defects at Paotere Harbour. Makassar, which is the capital of South Sulawesi province, is known as the city with the largest majority population and is a dense flow of inter-island freight traffic. One of the Harbours that transportation the economy in Makassar is the Harbour of Paotere which provides dock services for fishing boats, passenger ships and cargo ships. Phinisi motor sailing ships are equipped with lifting equipment, namely cranes that can lift goods to facilitate the loading and unloading process of goods from the ship to the edge of the pier. However, the loading and unloading process ignores the safety and health aspects of work on the deck of the ship and on the dock. In addition, the results of the products being trans Harboured must also be considered if someone experiences product defects due to loading and unloading activities at the Harbour of Paotere. J-hook, a tool used to lift and move the sack by stabbing it in any place, can cause the sack to tear and the grain inside will slowly spill out due to gaps in the sack. The method used in this research is the descriptive method, namely: providing an overview of certain phenomena or certain aspects of the location under study. Descriptive methods are not only limited to data collection but include direct observation and interviews with workers. The strategic solution needed is the replacement of the cargo lift knot rope on the crane with a mooring rope net that facilitates the lifting process from the ship's deck to the Paotere Harbor pier. Replacing the J-hook whose function is to shift and flip the sack with an enlarged Jar Lifter tool and an adjustment of the material that is comfortable to hold and is not dangerous if it falls and hits the limbs of workers who are carrying out loading and unloading activities Paotere Harbor.
IDENTIFIKASI KESELAMATAN DALAM OPERASIONAL BONGKAR MUAT DI PELABUHAN PAOTERE Fanny Diets; Citra Ayu Nisa Sugeng; Taufiqur Rachman; Chairul Paotonan
SENSISTEK:Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 2, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Paotere merupakan salah satu urat nadi perekonomian Kota Makassar, yang berfungsi pula sebagai tujuan wisata bagi pelancong yang ingin melihat kegiatan bongkar muat kapal maupun aktivitas nelayan pada saat proses bongkar muat. Kurangnya kesadaran pemilik kapal dalam operasional tambat dan bongkar muat mengakibatkan proses bongkar muat tidak lancar sehingga menimbulkan kerawanan terjadinya kecelakaan kerja di sekitar area dermaga. Kajian ini mengidentifikasi aspek keselamatan kerja dan tinjauan penerapan sistem antrian pada prosesbongkar muat kapal di Pelabuhan Paotere. Kajian ini dapat menjadi bahan evaluasi guna peningkatan pelayanan bongkar muat yang lebih baik dan efisien, serta diharapkan pemilik kapal, ABK, dan penumpang dapat menghindari dan meminimalisir korban dan risiko kecelakaan kerja yang terjadi pada proses bongkar muat di Pelabuhan Paotere.Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yaitu pengumpulan data melalui observasi, melakukan pengamatan langsung pada objek penelitian, dan melakukan wawancara guna memperoleh informasi, serta berupaya memberi solusi terhadap fenomena yang terjadi. Identifikasi resiko kecelakaan kerja yang terjadi di area tambat pelabuhan akan dapat meminimalisir resiko kecelakaan kerja di masa yang akan datang. Penerapan sistem antriandapat diterapkan dalam proses bongkar muat di Pelabuhan Paotere agar terlaksana dengan lancar dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja, yakni mengosongkan lokasi di sisi dermaga untuk mempermudah proses bongkar muat, secara berurutan apabila sudah selesai, kapal dapat berpindah dari sisi dermaga ke belakang atau antrian berikutnya sehingga kapal yang baru datang dapat melakukan proses bongkar muat di sisi dermaga dengan aman dan cepat.
ANALISIS PERUBAHAN LAHAN AKIBAT PERUBAHAN GARIS PANTAI DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN BIRINGKANAYA Hasdinar Umar; Taufiqur Rachman; Indah Puspita Sari
Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 2, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/sensistek.v2i1.13197

Abstract

Permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah bagaimanana perubahan luas lahan akibat perubahan garis pantai di wilayah pesisir Kecamatan Biringkanaya pada waktu 20 tahun terakhir (2000-2018) dan bagaimanaperubahan penggunaan lahan akibat perubahan garis pantai di wilayah pesisir Kecamatan Biringkanaya pada tahun 2000 dan 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luas lahan akibat perubahan garis pantai di wilayah Kecamatan Biringkanaya dan mengetahui perubahan penggunaan lahan akibat perubahan garis pantai di wilayah pesisir Kecamatan Biringkanaya pada tahun 2000 dan 2018. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan mengenai penataan penggunaan lahan, dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah untuk membuat tata ruang perubahan lahan,dapat membantu pemerintah memecahkan permasalahan dalam proses informasi tentang luas lahan akibat perubahan garis pantai dan bermanfaat bagi peneliti itu sendiri. Metode penelitian ini dimulai dari tempat dan waktu penelitian, dimana waktu penelitian ini di laksanakan dengan estimasi waktu 3 bulan di wilayah pesisir Kelurahan Untia Kecamatan Biringkanaya. Berdasarkan fungsi lahan data BPS menunjukkan konsentrasi penduduk di Kecamatan Biringkanaya yang terbesar dari 7 Kelurahan yaitu Kelurahan Untia dengan jumlah penduduk yakni 202.520 jiwa, luas wilayah kecamatan ini 48,22 km2 sehingga kepadatan penduduk berkisar 4.199 jiwa/km2. Adapun teknik pengumpulan data yaitu intepretasi citra, observasi lapangan untuk mengetahui fenomena visual yang ada meliputi perubahan garis pantai, pemanfaatan ruang wilayah pesisir, overlay, dokumentasi dan wawancara serta teknik analisis data, dan pengolahan data pendukung seperti data oseanografi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan garis pantai di kawasan pesisir pantai Kelurahan Untia selama 18 tahun yaitu 2000-2018 menggunakan citra satelit Google Earth secara signifikan yaitu abrasi terbesar 44.729,03 m2, sedangkan akresi terbesar 90.616,53m2. Dimana penggunaan lahan terluas dari tahun 2000-2018 di pesisir pantai Kelurahan Untia digunakan sebagai lahan sawah/tambak seluas 1.154,959,49 m2. Sedangkan penggunaan lahan paling rendah yaitu fasilitas umum seluas 23.264,90 m2.
KAJIAN TEKNOLOGI PENANGANAN KEBOCORAN PIPA PADA BANGUNAN LEPAS PANTAI DI LAUT UTARA KARAWANG Adriani Phady; Fitri Ramadani Rahim; Indah Melati Suci; Taufiqur Rachman
Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 2, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/sensistek.v2i1.13218

Abstract

Indonesia memiliki luas laut 96.079 km2 dan panjang garis pantai sebesar 99.093 km. Potensi laut yang dimiliki Indonesia tersebut merupakan suatu peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan perekonomian Indonesia, serta sebagai tulang punggung pembangunan nasional. Untuk memanfaatkan potensi tersebut di butuhkan teknologi modern untuk mengolahnya, salah satunya teknologi perpipaan yang digunakan pada bangunan lepas pantai. Akan tetapi, sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal, pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal tanker. Salah satunya adalah mengenai kebocoran pipa pada bangunan lepas pantai, dalam kasus ini pada lepas pantai di laut Utara Karawang. Perlu dilakukan analisis terkait desain pipa sampai dengan pengaruh lingkungan untuk mengetahui ketahanan pipa guna mengantisipasi kebocoran pada pipa. Studi literatur dilakukan untuk mengumpulkan data-data terkait kebocoran pipa sebagai bahan pertimbangan mencari solusi terbaik. Dalam penerapan teknologi dapat ditemukan banyak masalah sehingga diperlukannya penanganan khusus berupa analisis terhadap faktor tegangan, regangan, beban tekanan, beban lingkungan di sekitar Bangunan Lepas Pantai milik PT. Pertamina Hulu Energi daerah Karawang Provinsi Jawa Barat. Pipa yang digunakan pada bangunan lepas pantai akan mengalami freespan, suatu kondisi dimana bentangan pipa dengan panjang tertentu memiliki jarak terhadap seabed, yang dapat di analisis proses perubahan fasenya serta beban yang bekerja pada pipa yang mengalami freespan. Beberapa cara mengatasi kebocoran pipa antara lain, melakukan investigasi terhadap pipa-pipa yang bocor, dan melakukan peenggantian terhadap pipa-pipa yang sudah tua dan rusak atau bocor.
TINJAUAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PELABUHAN PAOTERE SEBAGAI IMPLEMENTASI PERATURAN PEMERINTAH RI NO 50 TAHUN 2012 Nabila Ainun Nur Rahmat; Nur Rachmi; Taufiqur Rachman; Chairul Paotonan
Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 2, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/sensistek.v2i1.13222

Abstract

Kecelakaan yang sering terjadi di pelabuhan dipengaruhi oleh banyak hal, baik karena masalah teknis ataupun karena kesahalahan dari manusia itu sendiri. Tujuan dan sasaran Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah terciptanya sistem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di tempat kerja yang melibatkan segala pihak sehingga dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja sehingga tercipta tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Penyusunan program, membuat prosedur, pencatatan dan mengawasi serta membuat laporan penerapan di lapangan yang berkaitan dengan keselamatan kerja bagi para pekerja semuanya merupakan kegiatan dari manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Hal itu sudah diatur oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.Implementasi Peraturan Pemerintah RI No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pelabuhan Paotere Kota Makassar masih terbilang lemah. Penerapan SMK3 di Pelabuhan Paotere dapat berjalan dan diterapkan sebagaimana mestinya jika segala pihak mau mematuhi aturan yang ditetapkan. Kurangnya kesadaran masyarakat di sekitar Pelabuhan Paotere tentang pentingnya K3 dalam bekerja danimplementasi peraturan K3 yang tidak tegas menyebabkan K3 di Pelabuhan Paotere tidak berjalan sepenuhnya. SMK3 sangat penting diterapkan dalam sebuah perusahaan untuk meningkatkan efiktifitas dalam perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Melalui SMK3, upaya pelaksanaan K3 dapat terencana, terstruktur, terukur, dan terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja, penyakit yang dapat ditimbulkan akibat kerja, serta terciptanya tempat kerja yang nyaman, efisien, dan produktif.
TINJAUAN PERANGKAT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA KAPAL PENUMPANG ANTAR PULAU DI PELABUHAN PAOTERE Mu’minatung Nisa; Taufiqur Rachman; Chairul Paotonan
Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 2, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/sensistek.v2i1.13226

Abstract

Kapal penumpang sebagai moda transportasi massal harus memenuhi syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam berbagai aspeknya. Selain untuk menjaga keselamatan dan kesehatan bagi semua penumpang dan awak kapalnya, penerapan K3 berfungsi utuk menjaga kehandalan sistem transportasi tersebut. Pelayanan terhadap pengguna jasa perairan di Indonesia haruslah dilaksanakan sesuai dengan peraturan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Penerapan peraturan ini memberikan perlindungan hukum khususnya terhadappenumpang dan ABK kapal. Penelitian ini mengkaji mengenai perangkat Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada kapal penumpang antar pulau di Pelabuhan Paotere. Kapal penumpang yang berlabuh di Pelabuhan Paotere terdiri dari berbagai jenis, salah satunya yaitu kapal kayu yang berkapasitas 10 hingga 35 GT dengan trayek penyeberangan dari Kota Makassar menuju Pulau Badi, Barang Lompo, Barang Caddi, dan pulau lain sekitarnya. Namun, dari sekian banyak kapal yang berlabuh ini tidak dilengkapi dengan perangkat keselamatan pelayaran yang memadai. Kajian ini meninjau seberapa besar perhatian pihak penyelenggara kapal dan pelabuhan terhadap perangkat kesalamatan pelayaran bagi kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Paotere. Metode kajian yang digunakan adalah deskriptif, yakni memberikan gambaran tentang fenomena tertentu atau aspek tertentu dari lokasi. Pemerintah Kota Makassar dapat lebih menggiatkan aktifitas sosialisasi keselamatan pelayaran dan penerapannya di lapangan sehingga akan meminimalisir korban dan resiko kecelakaan yang terjadi pada saat kapal berlayar bagi kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Paotere.
ANALISA KESIAPSIAGAAN TANGGAP DARURAT KAPAL PENUMPANG DI PELABUHAN PAOTERE Geby Pata’dungan; Taufiqur Rachman; Chairul Paotonan
Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 2, Nomor 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/sensistek.v2i1.13227

Abstract

Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di atas kapal penumpang merupakan hal yang sangat penting bagi penumpang dan ABK kapal dalam menjalankan aktifitas transportasi laut kepulauan. Kondisi minimnya peralatan keselamatan yang disediakan di atas kapal-kapal penumpang yang sandar di Pelabuhan Paotere akan berpengaruh terhadap aspek keselamatan penumpang dan ABK kapal. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau seberapa besar perhatian pihak pemilik kapal terhadap perangkat keselamatan pelayaran bagi kapal penumpang yang ada di Pelabuhan Paotere serta untuk meninjau seperti apa kesiapan pemilik kapal terhadap kesiapsiagaan tanggap darurat kapal saat terjadi keadaan darurat di kapal saat berlayar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Data primer didapatkan dari hasil pengamatan langsung dan wawancara terhadap beberapa pihak terkait dengan keselamatan kerja pada kapal penumpang di Pelabuhan Paotere. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti literatur dan dokumen yang ada pada instansi terkait. Ketersediaan peralatan keselamatan kapal penumpang yang tambat di Pelabuhan Paotere Kota Makassar masih terbatas dan ada yang tidak memenuhi standar kelayakan. Peralatan keselamatan ini meliputi pelampung, sekoci penyelamat, dan alat pemadam kebakaran.Beberapa pelampung yang diletakkan di atas kapal tidak layak digunakan karena terdapat beberapa komponen peralatan tidak lengkap, seperti tali yang rusak bahkan hilang, dapat mengakibatkan kurang berfungsinya alat pelampung pada saat digunakan. Penerapan simulasi kejadian darurat merupakan salah satu upaya preventif dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di atas kapal. Penetapan prosedur kesiapsiagaan tanggap darurat di atas kapal dapat mengurangi dampak resiko bahaya kecelakaan dan dapat mereduksi korban yang akan ditimbulkan. Penggalakan sosialisasi tentang penerapan K3 di atas kapal akan mendorong keberhasilan aktifitas moda transportasi laut yakni dengan terjadinya peningkatan indeks keselamatan pelayaran
IDENTIFIKASI KERUSAKAN PANTAI KAWASAN PESISIR KECAMATAN GALESONG UTARA, KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN Adil Farhan Prasetyo; Taufiqur Rachman; Chairul Paotonan
Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 3, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/sensistek.v3i1.13236

Abstract

Kawasan pantai merupakan wilayah pelindung antara lautan dan daratan dan banyak menyimpan potensi kekayaan alam yang layak untuk dimanfaatkan dan dikelola lebih lanjut dalam menunjang kesejahteraan masyarakat, baik sebagai pelabuhan, kawasan industri, maupun pariwisata. Berdasarkan penelitian terdahulu, dalam beberapa tahun terakhir, sepanjang pantai di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan telah megalami perubahan garis pantai yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh faktor alam maupun aktifitas manusia. Makalah ini menyajikan hasil identifikasi berbagai kerusakan yang terjadi di sepanjang pantai kawasan pesisir Kecamatan Galesong Utara dengan metode survei lapangan melalui pengamatan, pengukuran, kajian data pendukung maupun penelitian sebelumnya. Hasil penelitian diperoleh kerusakan pantai yang terbesar terjadi di 3 lokasi yaitu: abrasi dan kerusakan bangunan pantai yang terletak di koordinat S: 05o14'43,97'' dan E: 119o22'47,70''; hantaman gelombang S: 05o17'17,20'' dan E: 119o22'20,58''; dan pemukiman penduduk yang dekat dengan pantai sehingga banyak masyrakat yang beraktifitas disekitar pantai tanpa mengidahkan kaidah lingkungan yang berkelanjutan terletak di koordinat S: 05o17'37,87'' dan E: 119o22'15,92''.
PENANGANAN PERUBAHAN GARIS PANTAI KAWASAN PESISIR KECAMATAN MANGARABOMBANG KABUPATEN TAKALAR SULAWESI SELATAN Denis Restuardi Dundu; Taufiqur Rachman; Chairul Paotonan
Riset Sains dan Teknologi Kelautan Volume 3, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/sensistek.v3i1.13237

Abstract

Perubahan garis pantai merupakan proses alami yang terjadi akibat pengaruh kondisi pantai dalam mencapai keseimbangan akibat aktiftas masyarakat pesisir. Secara fisik, wilayah pesisir Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan dipengaruhi oleh dinamika oseanografi Laut Flores dan Selat Makassar. Penelitian ini meninjau perubahan garis pantai, dampak dan penanggulangan yang dapat dilakukan di kawasan pesisir Kecamatan Mangarabombang. Kajian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan oleh pemerintah daerah dan masyarakat pesisir dalam penentuan kebijakan tentang pengendalian dan penanganan perubahan garis pantai. Data penelitian dihimpun melalui teknik observasi, interview, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi degradasi lingkungan pesisir, seperti dijumpai di beberapa lokasi terjadi abrasi, akresi, kerusakan mangrove dan kerusakan beberapa bangunan pelindung pantai. Hal ini memberi dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pesisir berupa hilangnya mata pencaharian dan terancamnya pemukiman mereka. Upaya penanganan kerusakan kawasan pesisir Kecamatan Mangarabombang di lokasi yang ditinjau dapat dilakukan dengan perbaikan infrastruktur pelindung pantai berupa rehabilitasi dan perencanaan seawall, perencanaan jetty, serta penanaman mangrove.