Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identitas yang Terpecah dan Peluang Transformasi Sosial Budaya di Tanah Papua I Ngurah Suryawan
Kawalu: Journal of Local Culture Vol 2 No 1 (2015): January - June 2015
Publisher : Laboratorium Bantenologi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.273 KB)

Abstract

Artikel ini mendiskusikan kahadiran modernitas melalui program-program pembangunan dan investasi berimplikasi serius terhadap imajinasi atas identitas diri dan kebudayaan orang Papua. Introduksi modernitas memberikan peluang bagi orang Papua untuk memikirkan gerakan transformasi identitas sosial budayanya. Namun, di tengah identitas yang terpecah itulah justru kompleksitas gerakan transformasi sosial budaya itu terjadi.Artikel ini berargumentasi bahwa kompleksitas permasalahan yang terjadi di Tanah Papua harusnya diuraikan terlebih dahulu untuk mengidentitasikan gerakan transformasi sosial budaya yang memungkinkan untuk dilakukan. Keywords: Identitas, Gerakan, Transformasi sosial budaya, Imajinasi, Kompleksitas
Jelmane To To Dogen: Genealogi Kekerasan dan Perjuangan Subaltern Bali I Ngurah Suryawan
Public Inspiration : Jurnal Administrasi Publik Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pi.4.1.2019.20-30

Abstract

Abstrak Sejarah panjang kekerasan dan pentas pembentukan politik kebudayaan Bali meminggirkan narasi dari kelompok masyarakat yang disisihkan dan dikalahkan oleh kekuasaan. Narasi-narasi kecil mereka berada di tepi wacana pelestarian politik kebudayaan Bali. Padahal dalam kesaksian mereka terurai relasi kuasa yang terjadi dalam sejarah kekerasan dan konstruksi kebudayaan Bali. Para kelompok subaltern ini menjadi korban tapi kemudian bangkit berjuang (survivor) yang dengan caranya sendiri menjalani pergolakan hidupnya dengan penuh siasat dan perjuangan. Genealogi kekerasan menjadi pondasi dari terbentuknya kebudayaan Bali yang terwarisi dari zaman kolonial hingga kini. Genealogi kekerasan tercipta dalam serangkaian peristiwa-peristiwa yang menunjukkan bagaimana perjuangan orang-orang Bali untuk tetap bertahan hidup di tengah teror kekerasan oleh saudaranya sendiri, sesama krama (warga) Bali sendiri. I Nyoman Nambreg dan I Ketut Sorog salah satunya, menjadi saksi bagaimana tragedi kekerasan paling pilu dalam hidupnya. Ia menjadi saksi hidup ketika kedua anaknya meregang nyawa saat dibantai oleh beberapa orang yang ia kenal. Ia meyakini bahwa yang membantai anaknya orangnya adalah itu-itu juga (jelmane to to gen). Artikel ini berargumen bahwa konstruksi pembentukan politik kebudayaan Bali sudah menjadi esensialisme kebudayaan. Oleh karena itu, menempatkan kajian-kajian subaltern, narasi di luar kekuasaan dengan perspektif pascakolonial akan melahirkan kajian yang tajam dan humanistik dalam membongkar kuasa genealogi kekerasan dan politik kebudayaan Bali.