Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PROSES BERPIKIR DUA SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI DOMINASI OTAK KIRI DAN OTAK KANAN Santoso Yohanes, Rudi
Widya Warta No. 01 Tahun XXXVII / Januari 2013
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.586 KB)

Abstract

This research aims to determine the thinking process of the junior high school students to solve mathematic problems in terms of the dominance of the left hemisphere and the right hemisphere.The subject of this study is a student whose left brain is dominant and a student whose right brain is dominant. The two students were selected from 10 junior high school students who took mathematic olympiad training fostered by the researcher.To determine the student whose left brain is dominant and the one whose right brain is dominant, Hemispheric Dominance Inventory Test was applied. While, to describe the thinking process of students in solving mathematic problems, the researcher analyzed and interpreted the steps used by students with Thinking Aloud method.The result of this research indicated that the student whose left brain is dominant tended to make use of analytic, deductive, linear and systematic approaches. Meanwhile, the student whose right brain is dominant tended to make use of visual, inductive, randomized, and divergent approaches.
PROFIL KEMAMPUAN SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN SOAL GEOMETRI TIDAK RUTIN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL POLYA Santoso Yohanes, Rudi
Widya Warta No. 01 Tahun XLII/Januari 2018
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.846 KB)

Abstract

Non-routine problem is very important to learn. Besides to improve mathematics achievement,  non-routine problem is a means to train students to use their logic, think critically, become creative, and develop their intuition. This research was a qualitative descriptive-exploratory; it aimed to determine the profile of abilities of the junior high school students in solving non routine geometry problems using Polya model. The subjects were 10 junior high school students following Olympics coaching which were coached by the researcher. The olympics coaching model used was that the students were asked to solve the given problems using Polya’s 4-step problem solving, namely understanding the problem, devising a plan, carrying out the plan, and looking back. Students were also given the opportunity to try to resolve the problem by using their own ways. Afterward, they followed the discussion. The teacher acted as a facilitator, motivator, and consultant, who monitored whether the students’ ways worked or not. The data consisted of the students’ solving of the non-routine geometry problems; the data were analyzed qualitatively to determine if the students had used Polya’s 4-step problem solving model, and to know if there were the students’ weaknesses which were needed to be improved. The results showed that the second step of Polya model, namely devising a plan, was considered the most difficult by most students. The students still had difficulty in finding the initial idea to solve non-routine problem.  
PENGARUH PENGGUNAAN MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI DOMINASI OTAK KIRI DAN OTAK KANAN Maulidyah, Pipid Nirmala; Yohanes, Rudi Santoso
Educatio Vitae Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Katolik Widya Mandala Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.85 KB)

Abstract

This research aims to determine: (1) whether the ability to solve mathematical problems between groups of students who are taught by the expository method + mind map is better than the group of students who are taught by the expository method. (2) whether the ability to solve mathematical problems between groups of students who are taught by the expository method + mind map is better than the group of students who are taught by the expository method to for groups of students who are left brain dominant. (3) whether the ability to solve mathematical problems between groups of students who are taught by the expository method + mind map is better than the group of students who are taught by the expository method to for groups of students who are right brain dominant. This research is a quasi experimental quantitative research. This research was conducted for the eight grade in SMPN 1 Madiun and samples of class VIII A as a class experiment using expository + mind map and eight grade as class B control with expository. Samples were determined by the ability to solve mathematical problems and a questionnaire brain dominance. The first hypothesis is concluded that the ability to solve mathematical problems with expository + mind map is not better than the ability to solve mathematical problems with expository. The second and third hypotheses provide the same conclusion with the first hypothesis.
ANALISIS PROSES BERPIKIR SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA MENGGUNAKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT Elmarfia, Beata; Yohanes, Rudi Santoso
JIEM | JURNAL ILMIAH EDUKASI MATEMATIKA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa berkepribadian ekstrovert dan introvert dalam memecahkan masalah matematika menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Subjek penelitian merupakan siswa kelas X-6 SMAN 2 Madiun tahun pelajaran 2018/2019. Penentuan subjek penelitian dengan cara memberikan tes Eysenck’s Personality Inventory, lalu dipilih dua siswa berdasarkan tipe kepribadian yang dimiliki. Siswa yang terpilih kemudian diberikan tes keterampilan berpikir tingkat tinggi dan wawancara klinis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Siswa dengan tipe kepribadian ekstrovert dalam penelitian ini teliti ketika menyelesaikan soal; (2) Siswa dengan tipe kepribadian ekstrovert dalam penelitian ini selalu menuliskan kesimpulan pada lembar jawaban dan melakukan tinjauan ulang; (3) Siswa berkepribadian ekstrovert dalam penelitian ini memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kategori baik, yang ditunjukkan dengan persentase kemunculan indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diperoleh yaitu ; (4) Dari 6 soal yang diberikan, siswa berkepribadian introvert keliru dalam memperoleh jawaban untuk soal nomor 2 dan 3; (5) Siswa berkepribadian introvert tidak pernah melakukan tinjauan ulang ketika sudah selesai mengerjakan soal; (6) Dari 6 soal yang diberikan, siswa berkepribadian introvert dalam penelitian ini hanya satu kali menuliskan  kesimpulan akhir  pada lembar jawaban yaitu hanya menuliskan kesimpulan pada soal nomor 4; (7) Siswa berkepribadian introvert mempunyai kesulitan mengingat kembali informasi dari memori jangka panjang; (8) Siswa berkepribadian introvert dalam penelitian ini memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kategori cukup, yang ditunjukkan dengan persentase kemunculan indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diperoleh yaitu .
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK PADA POKOK BAHASAN PERBANDINGAN DI KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) Aditya, Khosmas; Yohanes, Rudi Santoso
JIEM | JURNAL ILMIAH EDUKASI MATEMATIKA Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran matematika realistik pada pokok bahasan Perbandingan di kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Pengembangan perangkat dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan Plomp. Langkah-langkah dari model pengembangan Plomp adalah 1) investigasi awal, 2) perancangan produk, 3) realisasi, 4) tes, evaluasi dan revisi. Perangkat pembelajaran yang terealisasikan adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Buku Siswa (BS), Buku Petunjuk Guru (BPG), Lembar Kerja Siswa (LKS). Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Widodaren Ngawi pada minggu ketiga dalam bulan November tahun 2014 dengan dua kali pertemuan di kelas VIIB. Sebelum diujicobakan ke lapangan, perangkat pembelajaran terlebih dahulu diuji berdasarkan kriteria kualitas perangkat pembelajaran menurut Nieveen. Kriteria tersebut diantaranya kevalidan perangkat pembelajaran, kepratisan perangkat pembelajaran dan keefektifan perangkat pembelajaran. Dari penelitian ini diperoleh beberapa hasil temuan yaitu perangkat pembelajaran mempunyai tingkat kevalidan pada kategori valid, aktivitas siswa dan guru selama kegiatan belajar mengajar aktif, guru mampu mengelola pembelajaran matematika realistik dengan baik, dan tercapainya ketuntasan belajar siswa lebih dari 80%. Dengan demikian perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VII-A SMPN 4 MADIUN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) Yovita, Magdalena; Yohanes, Rudi Santoso
JIEM | JURNAL ILMIAH EDUKASI MATEMATIKA Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is aimed to increase critically thinking ability of the seven-year-students (class A) of SMP Negeri 4 Madiun through the application of Problem-Based Instruction Model. It is a classroom action research with two cycles. The subject of the study is the seven-year-students (class A) of SMP Negeri 4 Madiun in the academic year 2015-2016. The number of the subject is 30 students. The results of the research show that the average score for instructional activity is 2.66 in cicle (1), which is categorized as good and 3.48 in cicle (2) which is categorized as very good. It means that the researcher’s ability in the application of  Problem-Based Instruction Model is increasing and already reaches the determined success indicator. While, the critically thinking ability ofthe students is not increasing yet with average score 37.9 in cicle (1) and 75.69 in cicle (2). Further, the percentage of the class completion is 17.39 in cilce (1) and 56.52 in cilcle (2). It indicates that the students’ average score in the test  and the percentage of the completion are increasing, but do not yet reach the determined criteria. The Problem-Based Instruction Model is capable of increasing the critically thinking ability of the students; however, the increase is not optimum. Key words: critically thinking ability, Problem-Based Instruction Model 
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR DIVERGEN SISWA KELAS VII-B SMP NEGERI 4 MADIUN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN OPEN ENDED Widiawati, Fithia Safira; Yohanes, Rudi Santoso
JIEM | JURNAL ILMIAH EDUKASI MATEMATIKA Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is aimed to describe the level of divergent reasoning through Open Ended model for the student of VII-B SMPN 4 Madiun. Divergent reasoning is basically one of the student`s abilities that plays a significant role in mathematics. Due to the development of divergent reasoning, hence, it needs the appropriate approach – open ended approach. The use of implementation cycles (Hopkins) in this research is indispensible. In this case, implementation cycles consists of rearranging, planning, observation, reflection, and re-planning. The data in this research consist of two factors, namely, the students` divergent reasoning and the teacher`s ability in applying Open Ended. Furthermore, data are taken through the test model. Thus, the application of observation model is used to measure the teacher`s ability in applying Open Ended. Besides, in order to measure the level of divergent reasoning, the teacher provides an essay. Moreover, the essay here adheres to some indicators – think smoothly, think flexibly, and think creatively. Furthermore, the observation method is used to gain the accurate data that proves the teacher`s ability in teaching. Hence, field research is applied as the technique of data collecting. At last, the data analysis proves that the Open Ended is not sufficient to increase the students` divergent reasoning by depending on only two cycles. Key Words : Open Ended, Divergent Thingking
Strategi Mengenalkan Matematika Kelas Tinggi kepada Siswa Kelas Rendah Menggunakan Pendekatan Pemecahan Masalah Yohanes, Rudi Santoso
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 4 No. 7 (2021): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.349 KB) | DOI: 10.54371/jiip.v4i7.325

Abstract

Akhir-akhir ini, pada kelas olimpiade matematika, ada kecenderungan untuk mengenalkan konsep matematika kelas tinggi kepada siswa kelas rendah. Konsep matematika yang biasanya diajarkan di sekolah menengah, sekarang mulai dikenalkan di sekolah dasar, bahkan di sekolah dasar kelas rendah. Bruner mengatakan bahwa mengenalkan materi matematika kepada anak lebih awal bukan merupakan masalah, asalkan cara pembelajarannya sesuai dengan taraf kemampuan berpikir anak. Fenomena ini memunculkan tantangan bagi guru, yaitu: Bagaimana strategi pembelajaran untuk mengenalkan matematika kelas tinggi kepada siswa kelas rendah, sehingga materi matematika kelas tinggi dapat dipahami secara bermakna oleh siswa kelas rendah? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang teknik pengumpulan datanya dengan melakukan telaah terhadap buku, literatur yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Dalam artikel ini dipaparkan 4 buah contoh strategi mengenalkan metematika tingkat tinggi kepada siswa kelas rendah, yaitu: Jarak Kecepatan Waktu, Sistem Persamaan Linier, Kombinatorik, Luas Daerah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pemecahan masalah: menerka dan menguji kembali, membuat daftar, membuat gambar mempunyai potensi yang besar untuk digunakan mengenalkan matematika kelas tinggi kepada siswa kelas rendah. Keuntungan menggunakan strategi pemecahan masalah ini adalah: (1)  Anak tidak bergantung pada rumus, (2) Kemampuan berpikir kritis dan kreatif,  serta penalaran siswa dapat terlatih, (3) Membuka peluang bagi anak untuk menemukan rumus sendiri.
ANALISIS LITERASI MATEMATIKA DAN STRATEGI PEMECAHAN SOAL DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA Besa, Monika Elvie; Yohanes, Rudi Santoso
JIEM | JURNAL ILMIAH EDUKASI MATEMATIKA Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai tingkatan literasi matematika siswa dan strategi yang digunakan oleh siswa untuk memecahkan soal berdasarkan dengan gaya belajar siswa. Metode Penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 2 SMA Negeri 3 Taruna Angkasa Madiun. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket gaya belajar, tes literasi matematika dan wawancara tak berstruktur. Teknik analisis yang dilakukan pada angket gaya belajar adalah analisis koreksi hasil, analisis penskoran, dan analisis pengambilan keputusan. Teknik analisis data untuk tes literasi matematika adalah analisis koreksi hasil, analisis strategi pemecahan soal dan analisis penarikan kesimpulan. Hasil penelitian didapat bahwa siswa dengan gaya belajar auditorial berada pada level 5 dan strategi yang digunakan oleh siswa auditorial dalam menyelesaikan soal adalah berpikir logis untuk level 1 dan level 2, strategi mencoba-coba untuk level 3 dan strategi menemukan pola untuk level 4 dan level 6. Siswa dengan gaya belajar visual berada pada level 5 dan strategi yang digunakan oleh siswa visual dalam menyelesaikan soal adalah berpikir logis untuk level 1, level 2 dan level 5, serta strategi menemukan pola untuk level 3, level 4 dan level 6. Siswa dengan gaya belajar kinestetik berada pada level 5 dan strategi yang digunakan oleh siswa visual dalam menyelesaikan soal adalah berpikir logis untuk level 1, level 2 dan level 4, serta strategi menemukan pola untuk level 3, level 5 dan level 6.
KEARIFAN LOKAL PADA KESENIAN REOG PONOROGO YANG DITERAPKAN DALAM KONSEP GEOMETRI Tri Rahayu, Rosalina; Andinda Putri, Laurensia Meyla; Anjelina, Maria; Santoso Yohanes, Rudi
Asimtot : Jurnal Kependidikan Matematika Vol 5 No 2 (2024): Asimtot: Jurnal Kependidikan Matematika | Desember 2023 - Mei 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/asimtot.v5i2.3406

Abstract

Reog Ponorogo merupakan kesenian yang berasal dari Ponorogo Jawa Timur. Reog Ponorogo yang merupakan suatu kebudayaan masyarakat yang perlu dilestarikan, dijaga, dikembangkan dan dikenalkan kepada generasi muda. Matematika dipandang sebagai alat untuk memecahkan masalah masalah praktis dalam dunia sains saja, sehingga mengabaikan pandangan matematika sebagai kegiatan manusia. Oleh karena itu, dengan mengaitkan pembelajaran matematika dan kesenian reog Ponorogo dapat memperkenalkan kesenian yang ada di jawa timur. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan penggalian dan pengkajian etnomatematika pada kesenian reog Ponorogo khususnya pada konsep geometri. Jenis penelitian yang digunakan etnografi dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan data reduction, data display dan conlution drawing. Hasil penelitian menunjukan bahwa persegi panjang dapat diketahui pada pakaian penadon, sampur, stagen, sabuk jatil, kain jarik, dan dhadak merak. Pada konsep lingkaran dapat diketahui pada dhadak merak dan gong. Pada konsep kerucut dan kerucut pancung dapat diketahui kendang dan terompet. Pada konsep persegi diketahui pada udeng. Pada konsep garis dan sudut dapat diketahui pada angklung, tiang gong, dan kolor. Pada konsep segitiga diketahui pada sempyok jatil dan udeng jatil. Pada konsep tabung diketahui pada kendang, kenong, dan angklung. Sedangkan konsep segi enam diketahui pada dhadak merak.