Pembuangan limbah Instalasi Pengolahan Air Minum yang dilakukan secara terus-menerus ke badan air tanpa adanya upaya pengolahan terlebih dahulu dapat memicu menurunnya kualitas badan air. Limbah proses instalasi pengolahan air minum ini berpotensi sebagai pencemar karena banyaknya kandungan Aluminium (Al) dari limbah yang dibuang setiap harinya. Penelitian kajian pemanfaatan tumbuhan air sebagai pengendali limbah cair, dikenal dengan proses fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas dari tanaman penyerap logam (Eceng gondok, Genjer dan Melati air) melalui proses fitoremediasi dalam menurunkan kandungan Al pada limbah instalasi pengolahan air minum PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak. Pengambilan sampel limbah dilakukan langsung pada pipa buangan IPAM PDAM Kota Pontianak, kemudian dilakukan pengukuran kandungan logam Al tahap awal (sebelum proses fitoremediasi). Selanjutnya dilakukan proses penanaman tanaman penyerap logam selama 70 hari dan kemudian dilakukan pengukuran kandungan Al tahap akhir untuk mengetahui efektivitas tanaman dalam menyerap logam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Al pada limbah dari instalasi pengolahan air minum Kota Pontianak melebihi batas yaitu sebesar 314,74 mg/l. Tingkat efektivitas yang dihasilkan oleh masing-masing tanaman penyerap logam yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 96,46% untuk tanaman melati air, 80,21% untuk tanaman eceng gondok dan 94,65% untuk tanaman genjer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanaman melati air merupakan tanaman terbaik dalam menyerap logam Al pada limbah yang dihasilkan oleh instalasi pengolahan air minum PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.