Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RAGI TAPAI BENTUK BUBUK NUR, ELIDAR; SAONO, SUSONO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 9&10 (1984)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i9&10.1420

Abstract

Ragi tapai biasa disebut juga ragi pasar karena mudah dibeli di pasar. Pembuatannya biasanya dilakukan tidak secara steril, menggunakan peralatan sederhana, serta memakai tepung beras sebagai bahan dasar utama dan beberapa macam rempah-rempah sebagai bahan dasar tambahan.Bahan dasar utama berfungsi sebagai bahan pembawa (carrier) jasad renik yang diperlukan kehadirannya, sedangkan bahan dasar tambahan kemungkinan berfungsi sebagai pencegah kehadiran jasad renik yang tidak dikehendaki (Saono et al. 1974; Saono 1982).Karena dalam pembuatan ragi tapai biasanya tidak digunakan biang (starter), maka sumber utama jasad renik adalah lingkungan tempat pembuatannya dan bahan-bahan dasar yang digunakan
FERMENTASI BAHAN ONCOM BANDUNG SASTRAATMADJA, DUDI D.; SAONO, SUSONO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 9&10 (1984)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i9&10.1421

Abstract

Oncom teimasuk makanan yang harganya murah tetapi mengandung protein yang relatif tinggi. Di Jawa Barat makanan ini telah lama dikenal serta banyak dimakan. Pembuatannya dilakukan secaia tiadisional dengan menggunakan bahandasar bungkil kacang tanah dengan campuran onggok/ampas tapioka dan ampas tahu, atau bahan dasar ampas tahu dengan campuran onggok. Sampai saat ini belum banyak usaha yang dilakukan untuk mengetahui seluk beluk ilmiah produk ini, apalagi usaha terencana untuk meningkatkan mutu seita menyebarluaskan pemanfaatannya. Hal ini dapat disimpulkan dari terbatasnya pustaka yang ada (Dwidjoseputro et al. 1970, Van Veen et al. 1968, Steinkraus & Van Veen 1971, Muhilal et al. 1970; Slamet & Tarwotjo 1971; Saono et al. 1974).
Chemoreaction Drying of Saccharomyces cerevisiae Culture with CaO and the Influence of Moisture Sorption Upon Stress and Death of the Dried Culture Novelina .; Soewarno T Soekarto; Betty Sri Laksmi Jenie; Susono Saono; Maggy T Suhartono
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 16 No. 1 (2005): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.664 KB)

Abstract

The aim of the research was to study chemoreaction drying of Saccharomyces cerevisiae culture and to a analyze the influence of moisture sorption on pattern of viability, stress and mortality of the dried starter culture. The cell culture of S. cerevisiae was produced in glucose media with aerobic process in a fermentor at 30C. The cell obtained was dried in a using chemoreaction process. Drying was conducted by coating with various thickness of coating and various ratio of CaO and calcium oxide ratio used in drying. Dry culture of S. cerevisiae and protective agent of CMC and jelly were added to the dry culture. The mixtrure then was stored at in decicators at R H 11 up to 97% until water equilibrium was achieved. Later the patterns of stress from each sample of dry culture at various conditions of moisture was analyzed. The result of the research showed that the best drying method was using coat thickness of 1.3 mm and calcium oxide 10 times the weight of dried sample. The condition of dry culture at low minimal water from 5 % were mostly in dormant state, the highest viability was at the rate of moisture of 5 % - 8 %, but a lot portion of the cells were inactive, and at the moisture higher than 8%, dead cells were observed. Addition 2% jelly of 2% CMC did not protect cells from stress. Key words: Saccharomyces cerevisiae, chemoreaction drying, moisture sorption, dry stresses
RAGI TAPAI BENTUK BUBUK ELIDAR NUR; SUSONO SAONO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 9&10 (1984)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i9&10.1420

Abstract

Ragi tapai biasa disebut juga ragi pasar karena mudah dibeli di pasar. Pembuatannya biasanya dilakukan tidak secara steril, menggunakan peralatan sederhana, serta memakai tepung beras sebagai bahan dasar utama dan beberapa macam rempah-rempah sebagai bahan dasar tambahan.Bahan dasar utama berfungsi sebagai bahan pembawa (carrier) jasad renik yang diperlukan kehadirannya, sedangkan bahan dasar tambahan kemungkinan berfungsi sebagai pencegah kehadiran jasad renik yang tidak dikehendaki (Saono et al. 1974; Saono 1982).Karena dalam pembuatan ragi tapai biasanya tidak digunakan biang (starter), maka sumber utama jasad renik adalah lingkungan tempat pembuatannya dan bahan-bahan dasar yang digunakan
FERMENTASI BAHAN ONCOM BANDUNG DUDI D. SASTRAATMADJA; SUSONO SAONO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 9&10 (1984)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i9&10.1421

Abstract

Oncom teimasuk makanan yang harganya murah tetapi mengandung protein yang relatif tinggi. Di Jawa Barat makanan ini telah lama dikenal serta banyak dimakan. Pembuatannya dilakukan secaia tiadisional dengan menggunakan bahandasar bungkil kacang tanah dengan campuran onggok/ampas tapioka dan ampas tahu, atau bahan dasar ampas tahu dengan campuran onggok. Sampai saat ini belum banyak usaha yang dilakukan untuk mengetahui seluk beluk ilmiah produk ini, apalagi usaha terencana untuk meningkatkan mutu seita menyebarluaskan pemanfaatannya. Hal ini dapat disimpulkan dari terbatasnya pustaka yang ada (Dwidjoseputro et al. 1970, Van Veen et al. 1968, Steinkraus & Van Veen 1971, Muhilal et al. 1970; Slamet & Tarwotjo 1971; Saono et al. 1974).