Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBEDAAN UMUR PENCAPAIAN KUAT TEKAN BETON DARI PEREKAT SEMEN OPC, PPC DAN PCC I Wayan Intara
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 14 No 2 (2014): July
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.644 KB)

Abstract

Di pasaran sangat sulit mendapatkan Semen Portland tipe I (OPC), yang beredar saat ini adalah PPC (portland pozollan cement) dan PCC (portland composite cement). Semen jenis inilah yang saat ini dipergunakan sebagai bahan perekat dalam campuran beton. Pada usaha ready mix juga terjadi persaingan yang demikian ketat, sehingga untuk dapat tetap eksis mereka mensubstitusikan semen dengan fly ash (abu terbang) untuk mendapatkan harga lebih kompetitif. Permasalahan muncul di lapangan pada saat pengetesan benda uji kubus maupun silinder, yaitu pengujian sampel beton dalam berbagai umur. Sering didapatkan data uji pada umur 3, 7, 14 hari bahwa kuat tekan beton sesuai dengan kuat tekan rencana bahkan lebih besar. Namun pada pengujian sampel yang berumur 28 hari sering menghasilkan nilai yang lebih kecil dari mutu rencana. Untuk menetukan nilai kuat tekan pengujian pada umur kurang dari 28 hari dikonversi dengan koefisien umur dan kuat tekan yang dikutif dari PBI 71. Benda uji kubus yang dipergunakan dalam PBI 71 berasal dari semen tipe I. Oleh karena kontroversi tersebut penulis ingin mendapatkan jawaban mengapa bisa terjadi permasalahan seperti di atas. PPC maupun PCC merupakan Semen Portland Pozolan. Dari beberapa penelitian terhadap kuat tekan beton yang dihasilkan dari material pozolan sebagai pengganti sebagian semen antara lain : fly ash, coverslag, spent catalis, serbuk batu tabas, dan portland pozolan cement. Semua penelitian yang telah dilakukan oleh Barkiah (2003), Suryabermansyah (2002), Sihotang (2008), Intara (2010), dan Salain (2007) mendapatkan bahwa, pada umur-umur awal (sebelum 28 hari) beton yang menggunakan pozolan sebagai substitusi semen menghasilkan nilai kuat tekan lebih rendah daripada beton dengan campuran semen tipe I (semen normal/Ordinary Portland Cement). Peningkatan kuat tekan terjadi setelah umur 28 hari.
KARAKTERISTIK BATA MERAH LOKAL BALI I Wayan Intara
Matrix : Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika Vol 5 No 1 (2015): MATRIX - Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.443 KB)

Abstract

Saat ini sulit memperoleh karakteristik material bata merah yang seragam di Bali, karena padaumumnya pembuatan material bata merah dilakukan secara manual dengan proses pabrikasi yang sederhana. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai karakteristik bata merah. Bata merah diambil dari produsen bata lokal Gianyar, Tabanan dan Negara mengacu pada SNI 15-0686-1989. Pengujian dilakukan terhadap : Dimensi, nilai absorpsi, warna, keretakan, dan kuat tekan. Kuat tekan karakteristik bata merah Gianyar, Negara dan Tabanan sebesar 3,715 N/mm², 5,414 N/mm2 dan 4,861 N/mm2. Hanya bata Negara yang menurut SNI 15-0686-1989 berada diatas standar berdasarkan nilai rata-rata kuat tekan bruto terendah yaitu 5 N/mm². Serta nilai absorpsi bata merah sebesar 33,34%, 22,96% dan 34,43%. Bata merah Gianyar memiliki dimensi rata-rata dalam tebal, lebar, dan panjang masing-masing 55 mm, 110 mm, dan 230 mm, Tabanan 59 mm, 107 mm dan 218 mm, Negara 50 mm, 103 mm dan 220 mm, dengan penyimpangan kesikuan terhadap lebar, kebengkokan terhadap panjang dan kebengkokan terhadap diagonal rata-rata memenuhi standar SNI 15-0686-1989 yaitu tidak lebih dari 4 mm.