Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Arsitekno

Penerapan Arsitektur Metafora Pada Museum Tsunami Aceh Di Banda Aceh Armelia Dafrina
Arsitekno Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v2i2.1207

Abstract

Peristiwa Gempa dan Gelombang Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 dalam skala besar menjadi momen yang tidak bisa terlupakan. Dan seharusnya dijadikan peringatan untuk melakukan penataan ulang baik dalam masyarakat, maupun lingkungan yang telah terkena dampak tsunami. Oleh karena itu pemerintah telah mengusahakan perubahan untuk pemulihan kembali baik dari segi penataan permukiman dan struktur dan infrastruktur kota Banda Aceh.Penataan Kota yang menggambarkan akan peristiwa tsunami adalah pembangunan Museum Tsunami Aceh yang terdapat di Jalan Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Museum Tsunami Aceh ini adalah suatu tempat yang mempunyai fungsi sebagai ruang pameran berbagai peristiwa tsunami 26 Desember 2004 di Banda Aceh.Museum ini juga sebagai wadah koleksi penyimpanan benda-benda peninggalan tsunami yang mengingatkan kembali memori akan terjadinya tsunam. Pendekatan tema arsitektur pada Museum Tsunami Aceh ini adalah penerapan arsitektur Metafora. Pemilihan Tema Metafora pada Museum Tsunami Aceh ini terkait akan fungsi museum ini sebagai Museum Tsunami Aceh sebagai Rumoh Aceh as Escape Hill. Museum Tsunami Aceh diibaratkan sebagai bukit evakuasi dan penyelamatan.Salah satu gaya bahasa dalam kamus Bahasa Indonesia adalah gaya bahasa Metafora. Yang dapat diartikan sebagai persamaan, perbandingan, dan perumpamaan antara satu benda atau objek dengan benda yang lain. Metafora merupakan majas untuk mengungkapkan secara langsung suatu objek. 
KAJIAN PERUBAHAN FISIK HUNIAN PASCA TSUNAMI SEBAGAI BAHAGIAN DARI REKONSTRUKSI DAN REHABILITASI PASCA BENCANA DI ACEH Armelia Dafrina; Anita Susilo
Arsitekno Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v1i1.1222

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi perubahan permukiman (neighbourhood) di pinggiran Kota Aceh sebelum dan sesudah bencana tsunami. Permukiman yang dipilih sebagai fokus lokasi studi, diduga mengalami transformasi, yang terutama disebabkan oleh perubahan Sosial Kemasyarakatan (faktor non-fisik) dan proses berumah yang spesifik (faktor fisik). Perubahan Sosial Kemasyarakatan diduga terjadi karena dua faktor yaitu Sosial Ekonomi. Faktor kedua yaitu Sosial Budaya pada lingkungan ini. Sementara, proses berumah yang spesifik diduga karena proses perubahan dari pengadaan perumahan informal ke formal yang dibangun oleh lembaga publik, swasta maupun swadaya masyarakat. Penelitian transformasi permukiman pasca tsunami di Aceh ini meneliti perubahan transformasi dalam waktu lima tahun setelah bencana tsunami yaitu tahun 2005 sampai dengan tahun  2010. Pemilihan lokasi studi ditentukan berdasarkan pada pertimbangan pertama, permukiman yang berada di daerah pinggiran kota, dan kedua, permukiman yang mengalami kerusakan total oleh bencana tsunami. Artinya, lokasi ini termasuk ke dalam jalur koridor tengah kota yang dikategorikan sebagai area high damage. Berdasarkan kedua pertimbangan tersebut maka dipilih permukiman yang berada di perbatasan kota, Jalan Sultan Iskandar Muda. Selanjutnya diambil kawasan Desa Lambueng yang merupakan bagian dari kawasan studi sebagai area penelitian yang dibahas dengan lebih rinci. Kawasan Lambueng dipilih berdasarkan kompleksitas isu yang ada di dalamnya sehingga dapat diasumsikan dapat mewakili kawasan secara umum. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud tersebut, maka metoda dalam penelitian yang dipilih adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan langkah awal atau sebagai landasan untuk penelitian berikut yang lebih signifikan. Sampel dari penelitian penduduk desa Lambueng. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan memakai tabel krejcie. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data meliputi dimulai dengan studi lapangan (observasi, survei, wawancara, kuisioner) dan juga studi kepustakaan.  Dan studi lapangan di beberapa lokasi yang mengalami bencana di Aceh untuk mendapatkan gambaran kondisi eksisting. Dari studi lapangan ini dianalisis faktor-faktor positif dan paling mempengaruhi keberhasilan pembangunan rumah pasca bencana. Yang kemudian data yang diperoleh akan di analisis dengan menggunakan teknik analisa data kualitatif. Pada akhirnya hasil penelitian diharapkan bahwa penelitian yang diusulkan ini akan memberikan keluaran yang bermanfaat masyarakat.
PAUD Sebagai Sarana Akomodasi Kebutuhan Pendidikan Anak Usia Dini Dengan Pendekatan Arsitektur Perilaku Armelia Dafrina
Arsitekno Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v3i3.1209

Abstract

Anak adalah potensi utama bagi masa depan suatu bangsa. Mereka tidak hanya sebagai cikal bakal penerus bangsa tetapi juga sebagai individu yang diharapkan memiliki daya saing yang tinggi. Kepribadian dan kualitas individu pada masa dewasa sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pendidikan yang diperoleh pada masa kanak-kanak. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia Sekolah Dasar (SD) yaitu pada saat anak berusia 7 tahun. Menurut Penelitian bahwa pada usia 4 tahun pertama, separuh kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk. Oleh karena itu Sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) merupakan suatu wadah untuk mengakomodasi mutu pendidikan bagi anak-anak. Dan juga wadah untuk bermain dan belajar dengan didukung fasilitas penunjang yang dibuat sedemikian rupa untuk menunjang perkembangan pendidikan pada diri anak, di mana anak dibiarkan bebas belajar sambil bermain. Sekolah PAUD sebagai sarana pengembangan pendidikan dan kreativitas anak dengan pendekatan arsitektur perilaku adalah sebuah fasilitas bagi anak-anak usia 0-4 tahun pada khususnya dengan menerapkan konsep bermain sambil belajar (recreation learning) yang bertujuan membantu pengembangan diri anak-anak serta pendekatan arsitektur perilaku digunakan sebagai upaya untuk menghasilkan sebuah bangunan yang sesuai dengan sasaran penggunanya, di mana bangunan dirancang berdasarkan perilaku pengguna. Karakteristik anak-anak yang berbeda-beda pada tiap tahap usia menuntut penyelesaian kebutuhan ruang yang berbeda-beda pula. Selain itu, keaktifan anak dalam bermain membutuhkan perhatian khusus, mempengaruhi pula pada bentuk ruang.
KAJIAN MAKNA ORNAMEN DAN MAKNA WARNA ORNAMEN UMAH PITU RUANG (STUDI KASUS UMAH PITU RUANG DI DESA KEMILI, ACEH TENGAH) Armelia Dafrina; Fidyati Fidyati; Firda Abadi; Nova Purnama Lisa
Arsitekno Vol 9, No 1 (2022): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v9i1.6262

Abstract

Arsitektur tradisional Aceh merupakan bentuk arsitektur yang berkembang dari satu generasi ke generasi seterusnya. Mempelajari bangunan tradisional kemudian berarti juga mempelajari juga tradisi masyarakat yang lebih dari sekadar tradisi membangun secara hunian fisik. Rumah panggung, rumah peninggalan para penguasa yang memimpin daerah Gayo disebut Umah Pitu Ruang. Penelitian kajian makna warna ornamen ini bertujuan untuk mengkaji makna ornamen dan makna warna ornamen umah pitu ruang. Penelitian umah pitu ruang ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian yang digunakan adalah hasil dari data sekunder dan tersier. Hasil daripada penelitian ini menunjukkan bahwa umah pitu ruang memiliki berbagai macam jenis ornamen dan beberapa warna merah, warna putih, warna kuning, warna hijau, dan warna hitam yang memiliki makna tersirat di dalam ornamennya, seperti “emun beriring”(tidak lupa jati dirinya sebagai orang Gayo), “emun mutumpuk”(musyawarah), “emun berkune”(berdiri sendiri), “emun mupesir”(memisahkan), “emun berangkat” (persatuan), “puter tali”(bersatu), motif pucuk rebung(membangun), “sarak opat”(mengatur), “cucuk penggong”(seia, sekata), “ lelayang”(dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak). Penempatan warna pada ornamen umah pitu ruang merupakan gambaran dari prinsip hidup masyarakat Gayo secara umum serta menjadi lambang identitas kepemilikan ornamen itu sendiri.
Sejarah Perkembangan Rumah Cut Meutia Dalam Mempertahankan Arsitektur Tradisional Aceh Armelia Dafrina
Arsitekno Vol 7, No 7 (2016): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v7i7.1211

Abstract

Abstrak Aceh merupakan salah satu wilayah yang sangat mempertahankan dan melestarikan nilai dan budaya.Keberadaan Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan dijalankan olehmasyarakat Aceh. Oleh karena itu, melestarikan Rumoh Aceh berarti juga melestarikan eksistensi masyarakatAceh itu sendiri. Walaupun banyaknya perkembangan modernisasi, tetapi Rumah Adat Aceh merupakan sebuaharsitektur tradisional yang dibanggakan oleh masyarakat Aceh. Seiring perkembangan zaman yang menuntutsemua hal dikerjakan secara efektif dan efisien, dan semakin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan RumohAceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini. Akibatnya, jumlahRumoh Aceh semakin hari semakin sedikit. Hal tersebut membuat penulis ingin mempelajari Sejarah Rumah Acehyaitu Rumoh Cut Meutia yang terletak di desa Paya Bakong kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara. Rumoh CutMeutia merupakan salah satu rumah adat Aceh peninggalan pada masa lalu. Rumoh Cut Meutia yang terletak diMatang Kuli ini adalah hasil renovasi oleh Pemerintah Daerah Aceh Utara, yang di lakukan pada Tahun 1982.Hal ini dilakukan oleh Pemda setempat untuk melestarikan rumoh Cut Meutia. Sama dengan rumah adat Acehlainnya, Rumoh Cut Meutia merupakan rumah panggung, hal ini berasal dari perpaduan kepercayaan masyarakat, ajaran Islam dan kondisi alam di mana individu atau masyarakat hidup mempunyai pengaruhsignifikan terhadap bentuk arsitektur tradisional Aceh.Sampai sekarang Rumoh Adat Cut Meutia ini salah saturumah Aceh yang masih banyak dikunjungi oleh masyarakat setempat.Kata Kunci: Rumoh cut meutia, arsitektur tradisional, rumah adat Aceh.
IDENTIFIKASI TIPOLOGI PERUBAHAN BENTUK DAN SUSUNAN RUANG PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL SUKU BATAK TOBA Armelia Dafrina; Fidyati Fidyati; Deassy Siska
Arsitekno Vol 9, No 2 (2022): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v9i2.8331

Abstract

Suku Batak Toba sudah mendiami daerah Sumatera Utara selama hampir puluhan tahun. Rumah Bolon merupakan rumah adat tradisional Suku Batak Toba, namun banyak bangunan tradisional yang telah mengalami transformasi atau perubahan bentuk akibat beberapa faktor seperti pengaruh kebudayaan asing yang masuk disertai dengan kemajuan teknologi dan modernisasi, sehingga masyarakat terpengaruh dan beralih dengan membangun rumah modern dengan proses membangun yang jauh lebih cepat dan mudah apabila dibandingkan dengan pembuatan rumah tradisional. Hal tersebutlah yang akan menjadi ancaman akan kelanjutan kehidupan arsitektur tradisional. Pendekatan tipologi digunakan untuk mengelompokkan elemen arsitektur yang dimiliki oleh rumah adat Suku Batak Toba dan untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dengan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara wawancara, dokumentasi dan observasi langsung serta menggunakan data sekunder dengan cara melihat referensi buku, jurnal dan artikel yang berkaitan dengan penelitian. Sesuai dengan permasalahan yang telah diteliti dari beberapa sampel bahwa perubahan yang lebih banyak terjadi adalah transformasi subtraktif dan transformasi adiktif.